Mencari Ulama di Jalan, Lupa Membuka Sejarah

Oleh Gusti Randi Banashem

Ada gejala yang makin sering terlihat di kalangan sebagian pemuda Muslim: seseorang baru dianggap maju jika berani meragukan agamanya sendiri. Mereka membaca beberapa buku filsafat Barat, mengutip nama-nama besar, lalu merasa telah naik kelas. Salat mulai ditinggalkan, syariat dianggap beban, dan iman dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Padahal yang tampak modern itu sering kali justru ketinggalan zaman.

Sekularisme dalam pergaulan anak muda menjelma menjadi cara pandang bahwa agama cukup disimpan di ruang pribadi dan tidak boleh memengaruhi cara berpikir maupun mengambil keputusan. Dari sini tumbuh rasa malu untuk mengaku taat. Bertanya halal-haram dianggap kaku, berbicara tentang akhirat dianggap tidak realistis. Demi terlihat keren, identitas yang diwariskan berabad-abad rela ditanggalkan.

Gejala yang lebih halus muncul di medan aksi. Sebagian pemuda turun ke jalan dalam demonstrasi, berjumpa dengan kawan-kawan lintas keyakinan, lalu mengagumi kelompok agama lain yang mereka lihat hadir di barisan perjuangan. Dari kekaguman itu lahir kesimpulan yang tergesa-gesa: agama yang tampak aktif di jalan dianggap lebih benar, lebih berpihak, lebih “tepat”. Sementara itu mereka mulai bertanya dengan nada menggugat, “Mana para kiai? Mana ulama dan ustaz? Mana Islam ketika rakyat berjuang?” Seolah-olah Islam tidak pernah ikut dalam urusan kebangsaan.

Pertanyaan itu menunjukkan kemalasan membaca sejarah. Perang Jawa di bawah Pangeran Diponegoro digerakkan oleh semangat jihad dan ditopang para kiai serta santri. Tuanku Imam Bonjol memimpin Perang Padri dengan landasan agama. Di Aceh, ulama seperti Teungku Chik di Tiro menjadi nyawa perlawanan terhadap Belanda. Di awal abad ke-20, Sarekat Islam yang dipimpin H.O.S. Tjokroaminoto menjadi sekolah politik bagi para pendiri bangsa, sementara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama membangun pendidikan, kesehatan, dan kesadaran kebangsaan dari akar rumput.

Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad yang menggerakkan para santri dan rakyat menghadapi pasukan sekutu di Surabaya. Peringatan Hari Santri hingga kini menjadi pengingat bahwa pesantren adalah benteng kemerdekaan, bukan penonton.

Menilai benar atau tidaknya sebuah agama dari siapa yang tampak di barisan demonstrasi juga kekeliruan cara berpikir. Kebenaran ajaran tidak diukur dari kehadiran di jalan pada hari tertentu. Dan kehadiran seorang ulama tidak selalu berbentuk orasi. Ia bisa berupa mengajar ribuan santri, mendamaikan konflik kampung, menjaga moral masyarakat, atau menyuarakan sikap lewat fatwa dan khutbah. Pemuda yang belum mengenal kerja-kerja sunyi itu lalu menyimpulkan bahwa ulamanya absen. Yang absen sebenarnya adalah pengetahuannya.

Ironisnya, banyak dari mereka mengagumi Barat hanya pada kulitnya: gaya hidup, selera, dan slogan kebebasan, bukan etos kerja dan disiplin ilmiah yang melahirkan kemajuan. Sikap ini bukan keberanian intelektual, melainkan taklid baru. Dulu taklid pada tradisi, kini taklid pada tren. Padahal ketika Islam dipegang dengan sungguh-sungguh, lahirlah Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Ibnu Haitsam. Wahyu pertama pun berbunyi “iqra”, bacalah, dan membaca itu mencakup membaca sejarah umatnya sendiri.

Maka pemuda yang sungguh maju bukan yang cepat mencabut akarnya, melainkan yang mampu menimbang semua gagasan dengan neraca iman dan ilmu, mengambil yang baik, dan tetap tahu dari mana ia berasal. Perjuangan di jalan itu mulia, tetapi jangan sampai ia membuat kita lupa bahwa jalan itu sudah lama dirintis oleh para kiai dan ulama yang kita pertanyakan.

*admin/banashem