Ada Apa Mendag Bela Ritel Modern? Ketua Umum APKLI-P: Tak Berpihak Ke Warung Kelontong dan Usaha Mikro Rakyat Kecil

JAKARTA – Menteri Perdagangan RI Budi Santoso diberbagai kesempatan selalu membela ritel modern, dan seakan abai terhadap warung kelontong dan usaha mikro rakyat kecil.

Bahkan di gedung terhormat di negeri ini, dihadapan Komisi VI DPR RI, Selasa, 26 Mei 2026, Busan panggilan akrabnya mencolek Pemkab Lombok Tengah NTB, menyayangkan adanya penutupan 25 gerai ritel modern.

Seketika, ruh Pembukaan UUD 1945 bahwa negara wajib hadir berikan jaminan dan perlindungan mata pencaharian rakyat kecil meredup. Padahal, sudah 2,2 juta warung kelontong gulung tikar digerus ritel modern sejak terbitnya Perpres 112/2007 yang mengatur Toko Modern, Pasar Tradisional dan Pusat Perbelanjaan.

Lebih dari itu, warung kelontong rakyat yang saat ini tersisa 3,9 juta unit usaha, serta puluhan juta usaha mikro rakyat kecil itu hidupi puluhan hingga ratusan juta penduduk Indonesia. Bahkan warung kelontong rakyat adalah warisan leluhur bangsa yang harus di uri-uri dan dikembangkan, bukan di bumi hanguskan. Lantas ada apa dengan Mendag RI membela ritel modern?, tegas Ketua Umum APKLI-P, dr. Ali Mahsun ATMO, M. Biomed., Jakarta, pada Minggu, 31 Mei 2026.

Lebih lanjut Pembantu Rektor Undar Jombang Jatim 2010-2012 ini menuturkan, bahwa 25 ritel modern di Lombok Tengah NTB ditutup tidak ada kaitan sama sekali dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) program Presiden Prabowo Subianto.

Melainkan murni pelanggaran Perda Lombok Tengah 7/2021. Murni pelanggaran Perpres 112/2007 yang mengatur Toko Modern, Pasar Tradisional, dan Pusat Perbelanjaan. Lebih dari itu, langkah ini harus dicontoh dan dilakukan kepala daerah lain karena pelanggaran ini ada diseluruh Indonesia.

Adalah kasat mata, menyandingkan ritel modern dengan warung kelontong dan usaha mikro rakyat kecil adalah unfairness, tidak apel to apel. Bukan persaingan melainkan penggerusan bahkan pembunuhan mata pencaharian puluhan juta rakyat kecil Indonesia. Praktik ini jelas dan tegas juga melanggar UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Selama lebih 15 tahun sejak 2011, APKLI-P sekuat tenaga berjuang melindungi dan mendampingi warung kelontong dan usaha mikro rakyat kecil dari gempuran menjamurnya ritel modern hingga pelosok kampung dan gang-gang perkotaan dampak perpes 112/2007 dan paket kebijakan September 2015 yang memperlonggar ijin ritel modern dan diperbolehkan ke seluruh wilayah Republik Indonesia.

Untuk kesekian kalinya, kami mendesak Pemerintah Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto, pertama, segera merevisi Perpres 112/2007 dan mencabut paket kebijakan September 2015. Kedua, menindak tegas dan menutup permanen ritel modern yang melanggar Perpres 112/2007 dan UU No 5/1999.

Ketiga, tidak mengeluarkan kembali ijin ritel modern di pedesaan dan gang-gang perkotaan. Empat, bersama DPR RI segera hadirkan UU RI yang mengatur ritel modern hanya boleh ada di kota dan maksimal di wilayah kecamatan, imbuh dokter ahli kekebalan tubuh lulusan FK Unibraw Malang dan FKUI Jakarta.

Keberadaan ritel modern tidak cukup di atur melalui perpres dan perda, kenapa? Kasat mata selama 19 tahun sejak terbitnya Perpres 112/2007 kerap terjadi “kong kalingkong” dan menjadi komoditas politik jelang pemilu. Untuk itu, APKLI-P mendorong pemerintah bersama DPR RI segera hadirkan UU yang mengatur keberadaan ritel modern, pasar tradisional dan pusat perbelanjaan.

Kami juga menuntut segenap pejabat di negeri ini kembali ke khittah Pembukaan UUD 1945, pungkas Ketua Umum Bakornas LKMI PBHMI 1995-1998.
(*)

Di Balik Gelap Goa Berlapis, Tersimpan Harapan Baru Pariwisata Kaltara

TANJUNG SELOR – Hutan Gunung Seriang masih menyimpan embun ketika rombongan mulai melangkah menyusuri jalan setapak pada Sabtu (30/5) pagi. Jejak hujan yang turun semalam membuat tanah terasa lembap, sementara rimbunnya pepohonan menaungi perjalanan menuju sebuah tempat yang selama ini lebih banyak dikenal oleh masyarakat sekitar “Goa Berlapis”.

Perjalanan itu bukan tanpa tantangan. Jalur yang menurun, akar-akar pohon yang menjulur dan bebatuan licin mengharuskan setiap langkah dilakukan dengan hati-hati. Namun rasa lelah seolah terbayar ketika mulut goa mulai terlihat di balik hijaunya hutan.

Di antara rombongan yang datang pagi itu tampak Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., bersama Wakil Gubernur (Wagub) Kaltara Ingkong Ala, S.E., M.Si., didampingi sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Mereka datang bukan sekadar menikmati keindahan alam, tetapi ingin melihat langsung potensi wisata yang tersimpan di dalam perut bumi Gunung Seriang.

Memasuki goa, suasana seketika berubah. Cahaya matahari perlahan menghilang, berganti dengan udara sejuk yang memenuhi setiap sudut lorong. Dinding-dinding batu yang terbentuk secara alami selama ribuan tahun menghadirkan pemandangan yang memukau.

Sesekali Zainal dan Ingkong menghentikan langkah. Pandangan mereka tertuju ke langit-langit goa yang dihiasi ornamen batu alami dengan bentuk yang unik dan beragam. Di tengah kekaguman itu, rombongan menemukan satu keunikan yang tak biasa.

Sebuah tumpukan batu menghasilkan bunyi-bunyian merdu saat diketuk perlahan pada bagian tepinya. Nada yang muncul terdengar seperti alat musik alam yang dimainkan oleh tangan tak kasat mata.

“Yang menarik di sini ada batu berbunyi. Kita sudah mencobanya dan suaranya cukup bagus,” ujar Zainal sambil tersenyum.

Keunikan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Goa Berlapis dinilai memiliki daya tarik yang berbeda dibanding destinasi wisata alam lainnya. Di mata Zainal, potensi itu layak dikembangkan agar dapat dinikmati lebih banyak orang.

“Insyaallah ke depan gua ini akan kita jadikan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Bulungan. Karena itu kami ingin melihat langsung apa yang perlu dipersiapkan,” katanya.

Goa Berlapis sendiri bukanlah satu-satunya kawasan yang pernah dijelajahi Zainal. Sebelumnya, ia telah mengunjungi Goa Batu Benau yang dihuni Suku Punan Batu, kawasan Goa Karst Batu Putih, hingga Batu Tumpuk di Desa Panca Agung.

Namun Goa Berlapis memiliki keistimewaan tersendiri karena menjadi bagian dari sekitar 22 goa yang saling terhubung dalam satu kawasan.

Bagi Kaltara yang terus berupaya memperluas sektor pariwisata, keberadaan Goa Berlapis menjadi aset yang berharga. Tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman petualangan yang berbeda bagi para pencinta wisata goa.

Menjelang siang, perjalanan penelusuran pun berakhir. Satu per satu anggota rombongan kembali menuju pintu keluar. Cahaya matahari yang menerobos sela-sela pepohonan seakan menjadi penanda berakhirnya eksplorasi hari itu.

Sebelum meninggalkan lokasi, Zainal menyampaikan pesan sederhana namun penting. Menurutnya, keindahan alam yang diwariskan Tuhan harus dijaga bersama agar tetap lestari dan dapat dinikmati generasi mendatang.

“Kita harap masyarakat yang datang ke sini jangan merusak, jangan mencoret-coret dinding, dan jangan mengotori tempat ini,” pesannya.

Goa Berlapis mungkin masih tersembunyi di balik rimbunnya hutan Gunung Seriang. Namun dari lorong-lorong batu yang sunyi itu, tersimpan harapan besar. Harapan bahwa suatu hari nanti, tempat ini tidak hanya dikenal masyarakat sekitar, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata unggulan yang membanggakan Kaltara.

Di balik gelapnya goa, tersimpan cahaya masa depan pariwisata Bumi Benuanta.

(dkisp)

Monumen SMSI Menjadi Salah Satu DTW Di Cilegon

CILEGON – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Cilegon memberikan apresiasi tinggi kepada Walikota dan Wakil Walikota Cilegon melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim). Apresiasi ini diberikan atas langkah cepat dan kepedulian jajaran pemerintah daerah yang melakukan peremajaan tanaman di sekitar Monumen SMSI.

Peremajaan tanaman berupa penggantian tanaman di sekitar monumen yang berlokasi di alun-alun Kota Cilegon, merupakan bentuk nyata kepedulian dan sinergi dalam menjaga esttetika dan sejarah Pers. Adapun jenis pohon yang ditanam di area monumen adalah pohon bugenfil 3 warna, pohon tabebuya dan pohon asoka.

Ketua SMSI Kota Cilegon, Wawan Kurniadi menyatakan bahwa giat gotong royong yang diinisiasi oleh Disperkim ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam menjaga kebersihan, keindahan, dan kelayakan fasilitas publik, khususnya ikon-ikon yang menjadi simbol kemitraan pers dan pemerintah.

“Kami sangat mengapresiasi kinerja Disperkim, serta kepedulian yang ditunjukkan oleh Pak Wali Kota dan Pak Wakil Wali Kota. Di tengah kesibukan dalam pelayanan publik, beliau-beliau masih memberikan perhatian besar terhadap detail penataan estetika kota, termasuk di area Monumen SMSI. Dan Monumen SMSI, saat ini menjadi DTW Kota Cilegon,” ujarnya Wawan, Sabtu (30/5/2026).

Aksi penggantian tanaman yang dilakukan tidak hanya sekadar meremajakan visual monumen, melainkan juga membangkitkan kembali semangat gotong royong di lingkungan perkotaan. Area sekitar monumen kini tampak lebih segar, rapi, dan representatif sebagai salah satu sudut hijau di Kota Cilegon.

SMSI berharap langkah proaktif dari Disperkim ini dapat terus berlanjut di titik-titik ruang terbuka publik lainnya, guna mewujudkan Cilegon yang tidak hanya maju secara industri, tetapi juga asri dan nyaman bagi warganya.

Selain itu, Wawan juga menyampaikan bahwa terdapat informasi penting yang perlu diketahui masyarakat Kota Cilegon dan pengunjung alun-alun terkait sejarah berdirinya Monumen Serikat Media Siber Indonesia yaitu,

*Monumen Serikat Media Siber Indonesia (SMSI)*

Monumen Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) merupakan simbol sejarah dan kebangkitan media siber nasional yang berdiri di Kota Cilegon, Provinsi Banten.

Monumen ini menjadi penanda perjalanan organisasi media siber terbesar di dunia yang lahir dari semangat kolaborasi, profesionalisme, dan komitmen terhadap demokrasi.

*Peresmian Monumen*

Monumen ini diresmikan oleh Wali Kota Cilegon, H. Robinsar, pada tanggal 7 Februari 2026, bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten.

Peresmian tersebut menjadi momentum penting dalam meneguhkan peran strategis SMSI dalam ekosistem pers nasional.

*Filosofi dan Makna Arsitektur*

Monumen ini dirancang dengan filosofi yang merepresentasikan tahun kelahiran organisasi SMSI:

– Tiga anak tangga pada badan monumen melambangkan bulan kelahiran organisasi.

– Tujuh pilar demokrasi pada bagian badan tugu melambangkan tanggal kelahiran.

– Ketinggian 2,17 meter merepresentasikan tahun kelahiran SMSI, yaitu 2017.

Setiap elemen arsitektur memiliki makna simbolik yang mencerminkan komitmen SMSI terhadap nilai-nilai demokrasi, kebebasan pers, dan tanggung jawab sosial.

*Sejarah Pendirian SMSI*

Pembangunan monumen ini merupakan bentuk apresiasi atas gagasan Firdaus yang kemudian bersama Pengurus PWI Pusat Atal S. Depari, Teguh Santosa dan Pengurus PWI Provinsi Mirza Zulhadi, Mursyid Sonsang mendirikan SMSI. Dan Akta pendirian organisasi diterbitkan oleh Notaris (Alm.) H.M. Isya yang berkedudukan di Kota Cilegon. AD/ART dirumuskan Ria Ulfiani putri Cilegon alumni siswi Al Islah, dan Pataka SMSI untuk pertama kali juga dibuat Ria Ulfiani di Cilegon. Dan kemudian dikibarkan pada pengukuhan Pengurus SMSI Provinsi Bengkulu. Dan awal pendanaan diseponsori Wiri Astuti.

Setelah kepengurusan SMSI resmi terbentuk di 34 Provinsi, kemudian SMSI ditetapkan sebagai konstituen Dewan Pers dengan ketetapan Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 22/SK-DP/V/2020 tertanggal 29 Mei 2020. Penetapan ini menegaskan legalitas serta legitimasi SMSI sebagai bagian penting dalam struktur pers nasional.

*Simbol Titik Nol Kebangkitan Media Siber*

Monumen ini menjadi simbol “Titik Nol” kebangkitan media siber Indonesia. Dari Kota Cilegon, semangat kolaborasi dan profesionalisme media siber dipahatkan sebagai tonggak sejarah perkembangan pers digital di tanah air.

*Identitas Cilegon dalam Sejarah Pers Nasional*

Keberadaan monumen ini menegaskan bahwa Kota Cilegon tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga sebagai tempat lahir dan bertumbuhnya integritas media siber Indonesia.

Monumen SMSI menjadi pengingat bahwa kemajuan industri dan kemajuan informasi dapat berjalan beriringan, membangun peradaban yang berlandaskan pada kebenaran, independensi, dan tanggung jawab jurnalistik.

(***)

Wagub Lantik Ketua LADK Bulungan, Tegaskan Adat Mitra Strategis Pembangunan

TANJUNG SELOR – Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Utara (Kaltara), Ingkong Ala, S.E., M.Si., menegaskan pentingnya peran lembaga adat sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjaga kerukunan sosial dan mengawal pembangunan daerah di Bumi Benuanta.

Hal tersebut disampaikan saat menghadiri sekaligus melantik Ketua Lembaga Adat Dayak Kenyah (LADK) Kabupaten Bulungan masa bakti 2026–2031, di Balai Adat Pemuda Dayak, Jumat (29/5) malam.

Dalam sambutannya, Wagub Ingkong menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia musyawarah besar (Mubes) dan keluarga besar Dayak Kenyah atas semangat kebersamaan yang terus terjaga selama pelaksanaan kegiatan.

Menurutnya, Mubes LADK Bulungan telah berjalan dengan lancar, demokratis dan menjunjung tinggi nilai kekeluargaan.

“Hasil keputusan Mubes ini menjadi fondasi penting bagi arah gerak LADK lima tahun ke depan,” ujar Ingkong.

Kepada pengurus yang baru dilantik, Ingkong menegaskan bahwa amanah masyarakat harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, integritas dan komitmen menjaga nilai budaya.

Ia juga meminta seluruh pengurus mampu merangkul semua elemen dan sub-suku Dayak Kenyah agar LADK menjadi rumah besar yang membawa kesejukan bagi seluruh masyarakat.

“Jadikan LADK ini sebagai rumah besar yang sejuk bagi semua,” tegasnya.

Sebagai Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kaltara, Ingkong menilai sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga adat menjadi kunci penting dalam menjaga kondusivitas daerah, keharmonisan sosial, serta pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi.

“Adat harus menjadi mitra strategis pembangunan, menjaga kerukunan, serta merawat warisan kearifan lokal di Bumi Benuanta,” katanya.

Di akhir kegiatan, Ingkong secara resmi menutup Musyawarah Besar LADK Kabupaten Bulungan Tahun 2026 dengan menggemakan semboyan Dayak Kenyah yang sarat makna persatuan.

“Ca Kimet Ca Tawai! Bersatu kita hidup, berpecah kita mati,” pungkasnya.

(dkisp)

‎SD Muhammadiyah 001 Nunukan Lepas Siswa Kelas VI Tahun Ajaran 2025/2026, Tekankan Kecerdasan, Akhlak, dan Spiritualitas

Muamar Kadafi, S.M. (Kepala sekolah SD 001 Muhammadiyah Nunukan)

‎NUNUKAN, 30 Mei 2026 – Suasana haru dan penuh kebanggaan mewarnai kegiatan Pelepasan Siswa-Siswi Kelas VI SD Muhammadiyah 001 Nunukan Tahun Ajaran 2025/2026 yang digelar pada Sabtu (30/5/2026). Acara tersebut menjadi momentum penting bagi para siswa yang telah menyelesaikan pendidikan dasar setelah menempuh proses pembelajaran selama enam tahun.

‎Dalam kesempatan tersebut, Kepala SD Muhammadiyah 001 Nunukan, Muamar Kadafi, S.M., menyampaikan bahwa sekolah tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata, tetapi juga berfokus pada pembentukan karakter dan spiritualitas peserta didik.


“Di SD Muhammadiyah 001 Nunukan, ada tiga hal yang menjadi output ataupun yang ingin dicapai. Yang pertama adalah kecerdasan intelektual, yaitu akademiknya. Maka mulai dari kelas 1 guru-guru fokus pada pembiasaan yang mengarah kepada tujuan tersebut,” ujarnya.

‎Menurutnya, pendidikan yang diberikan kepada siswa sejak kelas satu dirancang untuk membentuk pribadi yang seimbang antara kemampuan berpikir, akhlak, dan keimanan.

‎”Yang kedua terkait akhlaknya, yaitu moralitas. Jadi tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga moralitas, bagaimana adab dan sopan santunnya. Kemudian yang ketiga adalah spiritualitas yang berkaitan dengan ibadah, seperti pembiasaan tahfiz, salat dhuha, dan pembelajaran Al-Qur’an,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa berbagai pembiasaan tersebut dilaksanakan secara berkelanjutan selama enam tahun masa pendidikan siswa di SD Muhammadiyah 001 Nunukan.

‎Selain pembentukan karakter, sekolah juga aktif mendorong peserta didik untuk berprestasi melalui berbagai ajang kompetisi.

‎”Siswa-siswi SD Muhammadiyah juga sering mengikuti lomba olimpiade yang diadakan baik di tingkat lokal maupun provinsi. Di internal Muhammadiyah juga banyak olimpiade yang diikuti oleh sekolah-sekolah Muhammadiyah dari seluruh Indonesia, dan siswa-siswi kami turut berpartisipasi di dalamnya,” katanya.

‎Dalam proses pembelajaran, SD Muhammadiyah 001 Nunukan menerapkan integrasi antara pendidikan umum dan pendidikan agama melalui kurikulum ISMUBA (Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab) serta kurikulum nasional.

‎”Di kami ada dua kurikulum, yaitu kurikulum ISMUBA dan kurikulum umum. Integrasi yang dilakukan berupa pendekatan langsung melalui pembiasaan. Jadi nilai-nilai keislaman yang dipelajari tidak hanya menjadi teori, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak,” tuturnya.

‎Pada momen pelepasan siswa-siswi tahun 2026 ini, Muamar Kadafi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada SD Muhammadiyah 001 Nunukan.

‎”Kami berharap orang tua terus tanpa mengenal lelah memfasilitasi anak-anaknya, terutama dalam hal pendidikan. Dalam menuntut ilmu tentu ada yang harus dikorbankan oleh orang tua, selain waktu juga materi. Karena itu, pendampingan dan dukungan dari orang tua sangat penting bagi keberhasilan pendidikan anak,” ujarnya.

‎Ia juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki keistimewaan yang berbeda sehingga perlu mendapatkan dukungan sesuai bakat dan potensinya.

‎”Setiap anak istimewa berdasarkan bakatnya masing-masing. Ada yang unggul secara intelektual, ada yang unggul dalam moralitas dan adab, ada pula yang menonjol dalam spiritualitasnya. Tugas orang tua adalah mengapresiasi dan memfasilitasi potensi tersebut,” katanya.

‎Kepada para siswa yang dilepas pada hari itu, Muamar Kadafi berpesan agar terus semangat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta menjaga nama baik sekolah dan Muhammadiyah.

‎”Kami berharap siswa-siswi yang lulus hari ini terus giat menuntut ilmu, menjaga nama baik persyarikatan Muhammadiyah dan nama baik SD Muhammadiyah sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Di mana pun mereka berada, tetaplah menjaga kualitas diri dan nilai-nilai keislaman yang telah didapatkan selama belajar di sekolah ini,” pungkasnya.

‎Acara pelepasan siswa-siswi kelas VI SD Muhammadiyah 001 Nunukan Tahun Ajaran 2025/2026 berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan. Momen tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan pendidikan dasar para siswa sekaligus awal langkah mereka menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan bekal ilmu, akhlak, dan nilai-nilai keislaman yang telah ditanamkan selama berada di lingkungan sekolah.

*Bensyam/admin