Catatan Dipenghujung Ramadhan





Bone-Berandankrinews.com
Seperti ramadhan sebelumnya, saya dan sahabat lainnya disibukan dengan tugas sosial keagamaan. Nikmat terasa dan silaturahmi serta ibadah tetap berjalan lancar.

Tentu tak hanya mempersiapkan pelayanan para
Muzakki (orang yang dikenai kewajiban membayar zakat atas kepemilikan harta yang telah mencapai nisab dan haul), akan tetapi juga mempersiapkan pelayanan para Mustahik (orang-orang yang berhak menerima zakat).

Zakat ditunaikan untuk disalurkan kepada golongan orang yang berhak menerima zakat atau disebut dengan Asnaf.
Berdasarkan Q.S At-Taubah ayat 60, terdapat 8 golongan orang yang menerima zakat. Antara lain fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharimin, fisabilillah, dan ibnu sabil.

Saya, para sahabat dan pengurus BAZNAS Bone terus berbenah dan melayani setiap orang yang datang. Semua harus disambut dengan ceria. Sedih juga terkadang muncul ketika menatap Mustahik. Seperti Aleyshia, yang membuat mata kami berkaca-kaca.

Bayi yang berusia 9 bulan ini, Tubuhnya kecil dan ringan…
Sangaaaattt cantiiqqq…
Kulit dan wajahnya Masya Allah…
Matanya bening, anak cerdas harusnya…
Kami gendong kiri kanan di kantor BAZNAS, Aleyshia betah dan tidak rewel.

Kami pun dibuat ceria. Tuhan telah mendatangkan keceriaan lewat sesosok bayi. Tuhan mengirimkan bayi sebagai pengingat bahwa kita harus berbagi. Kita harus bahagia dengan sesama.

Aleyshia diantar oleh nenek dan kerabatnya. Sejak baru lahir, dirawat oleh neneknya sementara ibunya harus merelakan kerinduannya berjarak demi mencari rejeki di Kolaka Sulawesi Tenggara.

Yaa Allah…
Semoga anak-anak yang katanya menderita stunting ini bisa sehat normal seperti anak lainnya.
Semoga kelak menjadi anak yang mandiri dan berguna bagi keluarga, bangsa dan negara serta agama.

Masalah stunting menjadi perhatian serius pemerintah dan BAZNAS dari pusat hingga kabupaten/kota. Kami ambil bagian dengan membuat program pemberian bantuan makanan sehat bergizi. Kepedulian terhadap para penderita stunting itu berdasar pada data yang diperoleh dari BAPPEDA dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bone.

Untuk pemberian bantuan di Aula Kantor Kecamatan Tanete Riattang Barat, turut hadir penyerahan adalah Camat Tanete Riattang, Danramil, yang mewakili Kapolsek, KUA serta dr. Eko Nugroho dari Dinas Kesehatan yang mengawalinya dengan memberikan pemahaman tentang stunting.

Camat Tenete Riattang Barat Hasnawati Ramli, S.Sos, M.Si juga mengingatkan melakukan pencegahan stunting dengan tidak melakukan pernikahan dini, menjaga asupan gizi ketika hamil.

Farida Hanafing, Ketua 1 BAZNAS Bone menyampaikan bahwa bantuan stunting ini bersumber dari dana zakat, infak dan sedekah yang dipercayakan ke BAZNAS Kabupaten Bone untuk disalurkan kepada orang-orang yang berhak.
Untuk itu, mari tunaikan zakat ke lembaga yang dibentuk oleh pemerintah ini agar bisa dirasakan manfaatnya oleh para mustahik di 27 kecamatan dan 372 desa/kelurahan.

Oleh H Farida Hanafing

PC Pagar Nusa Nunukan Bagikan Takjil Dan Santuni Anak Yatim

Nunukan – Bulan Ramadan merupakan momen yang tepat untuk berbagi kebahagiaan dengan cara bersedekah.

Selain menambah kebahagiaan serta mempererat tali silaturahim, berbagi juga dapat meningkatkan iman dan takwa. Dengan berbagi, rezeki seseorang justru akan senantiasa dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Seperti yang dilakukan Pengurus Cabang Pagar Nusa Nunukan pada Senin 25 April 2022. Melalui pengurus dan anggotanya, organisasi Pencak Silat yang bernaung dibawah payung Nahdlatul Ulama tersebut mengadakan aksi sosial berupa pemberian santunan kepada puluhan anak yatim piatu.

Santunan diberikan langsung oleh Ketua dan pengurus Pagar Nusa di Pondok Pesantren Ibadurrahkan kepada anak -anak yatim piatu tersebut.

Ketua PC Pagar Nusa Nunukan, M Aris menuturkan sedikitnya ada 2 hal dalan aksi sosial yang dilakukannya. Pertama dapat bernanfaat untuk penerimanya dan yang kedua sebagai edukasi kepada masyarakat dalam berbagi kasih kepada sesama terutama kepada anak – anak yatim

“Mungkin nominal yang kami berikan sangat minim. Tapi semoga ini bermanfaat bagi penerimanya. Selain itu, semoga aksi ini bisa menjadi edukasi bagi dalan berbagi kasih dan solidaritas,” tuturnya

Kemudian aksi sosial dilanjutkan pada petang hari berupa pemberian takjil kepada para pengguna jalan. Dalam kesempatan tersebut, ratusan paket takjil diberikan kepada masyarakat yang melintas di Sekretariat PC Pagar Nusa Nunukan, Teuku Umar, Nunukan, Kalimantan Utara.

Masyarakat pun nampak antusias menerima takjil yang diberikan. Terkait kegiatan ini, M Aris mengungkapkan bahwa tujuan bahwa takjil diberikan agar kepada mereka yang berpuasa, dapat segera menyegerakan diri untuk berbuka.

“Kami harap takjil yang kami berikan dapat menajdi sarana untuk berbuka. Karena menyegerakan berbuka merupakan satu di antara sunnah puasa Ramadhan yang dianjurkan,”uajr Aris

Selain itu, ungkap Aris, Selain itu, Allah SWT juga lebih menyukai orang yang menyegerakan berbuka puasa. Imam Nawani dalam kitabnya Riyadhus Shalihin mengatakan jika ingin mendapat cinta dan ridha dari Allah SWT, maka kita harus menyegerakan berbuka puasa sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam hal ini secara khusus Allah SWT berfirman dalam Hadits qudsi, “Hamba-Ku yang paling aku cintai adalah hambaku yang menyegerakan berbuka,” (Riwayat Tirmidzi).

“Karenanya, dengan menyegerakan waktu berbuka puasa, umat Muslim akan mendapat kebaikan. Salah satu bentuk kebaikannya adalah membedakan cara beribadah orang-orang jahiliyah,” jelasnya.

Berbagi takjil berbuka puasa merupakan salah satu ibadah sosial. Dalam ibadah puasa, kita tidak hanya diminta untuk menengadahkan tangan secara spiritual-vertikal ke langit, namun juga membentangkan tangan secara sosial-horisontal di bumi. Puasa mengajarkan orang agar bersedia lapar, agar ia bersedia berbagi.

“Sebagai upaya pendidikan keluarga di tengah bahaya Corona yang melanda, kita bisa membuat rencana berbagi takjil berbuka puasa. Kita bisa mengajak isteri dan anak-anak kita membeli takjil di pinggir-pinggir jalan dan membagi-bagikannya menjelang berbuka puasa. Tak terbayangkan betapa indahnya bila ini kita lakukan,” pungkas Aris

Pewarta: Eddy Santry

Marthin Billa Gelar Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Bulungan

Bulungan – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Dr. Drs. Marthin Billa, M.M menggelar Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Desa Binai, Tanjung Palas Timur, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), Kamis (15/4/2022)

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh masyarakat serta para pemuka agama dan adat tersebut, Marthin Billa mengajak semua elemem masyarakat untuk menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam segala lini aspek kehidupan bermasyarakat

“Rumusan Pancasila ini disusun dengan makna filosofis yang sangat mendalam. Di mana masing-masing sila dalam Pancasila mencerminkan karakteristik bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai penting dalam kehidupan,” tutur Marthin Billa.

Seperti nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Nilai-nilai penting dalam Pancasila menurut Marthin Billa tidak akan berubah namun dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada.

Bukan hanya itu, fungsi Pancasila juga sebagai sumber dari segala sumber hukum. Di mana Pancasila diletakkan sebagai hukum paling utama yang menjadi rujukan hukum atau peraturan-peraturan lain yang berlaku di Indonesia.

“Dengan begitu, seluruh bangsa Indonesia perlu menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Lebih dari itu, seluruh masyarakat Indonesia juga harus memahami dan mengerti arti serta fungsi Pancasila dengan baik. Sebab, ini bisa menjadi bekal pemahaman untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Kemudian UUD 1945, Marthin Billa menjelaskan bahwa UUD 1945 merupakan hukum dasar yang menjadi sumber dasar dari seluruh peraturan perundang-undangan. Sementara Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum

“UUD 1945 merupakan hukum dasar tertulis. Selain hukum dasar tertulis, juga berlaku hukum dasar tidak tertulis,” katanya

Lenih lanjut Marthin Billa mengungkapkan, saat ini ada lebih dari 1.340 Suku yang ada di Indonesia. Begitupula di Kalimantan Utara terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda. Keberagaman ini hendaknya dapat menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghormati satu sama lain

“Latar belakang yang berbeda bukan lantas kita tak bisa bersama. Tapi mari kita jadikan perbedaan yang ada sebagai spirit untuk bergotong royong membangun Kaltara,” ujar Marthin

Martin mengingatkan, bahwa bukan tidak mungkin saat ini ada pihak – pihak yang menginginkan persatuan dan kesatuan nasional runtuh. Namun martin menegaskan, selama bangsa Indonesia masih memegang prinsip Bhineka Tunggal Ika, maka keharmonisan ditengah masyarakat akan terus terjalin

Penerapan Bhinneka Tunggal Ika melalui toleransi dan gotong-royong dalam kehidupan bernegara. Pemahaman Bhinneka Tunggal Ika membuat kita menjalankan sikap saling menghargai, memahami perbedaan, tenggang rasa, dan serta tidak melakukan diskriminasi atau membeda-bedakan seseorang bersadarkan status, dalam keseharian karena hal ini dapat mempererat tali persaudaraan.

“Bhinneka Tunggal Ika merupakan prinsip hidup bangsa Indonesia. Semboyan tersebut mendeskripsikan tentang kesatuan dan keutuhan bangsa yang diciptakan dari sikap persatuan,” jelasnya

Dalam kesempatan tersebut, Marthin Billa juga mengajak masyarakat untuk menjadikan semangat kebangsaan sebagai sarana untuk bergotong royong dan bersinergi mengahiri pademi covid – 19. Kendati kasus covid – 19 di Kaltara cenderung menurun, namun hal tersebut menjadi alasan untuk tidak mentaaati protokol kesehatan

“Mentaati protokol kesehatan termasuk ikut vaksinasi itu sejatinya untuk sama – sama saling menjaga diri sendiri dan orang lain. Dan itu sejalan dengan Pancasila terutama tentang Kemanusiaan,” pungkas Marthin

Pewarta : Eddy Santry

Kodim 0911/Nunukan Gelar Gerebek Sahur Bersama Anak Yatim Al Kautsar Nunukan

NUNUKAN – Komandan Kodim 0911/Nunukan Letkol Inf Albert Frantesca Hutagalung, M. Han bersama Ibu Ketua Pengurus Persit Cabang LVIII Dim 0911 Nunukan Ny. Erna Albert Frantesca didampingi anggota Kodim pada dini hari tadi (21/04) sekira pukul 03.30 Wita menggelar kegiatan Gerebek Sahur bersama anak-anak LKSA Al Kautsar dibawah naungan Yayasan Ar Raihan.

Selain kegiatan Serbuan Vaksin, Berbagi Takjil kali ini Kodim 0911/Nunukan memberikan warna baru dengan menggelar Sahur bersama anak-anak dipanti asuhan Al Kautsar. Sebanyak 35 anak yatim bersama pengerusnya termasuk ketua Panti Asuhan Al Kautsar Yayasan Ar Raihan Ibu Farida mengungkapkan rasa senang dan bangga atas terselenggaranya kegiatan ini.

Ibu Farida mengatakan bahwa ini adalah wajah baru, suasana baru dalam menjalankan Ibadah Sahur di Bulan Ramadhan ini bersama anggota TNI dari Kodim 0911/Nunukan.

“Kami selaku pengurus, pendamping, pembina disini sangat senang atas kegiatan ini. Ini adalah hal baru di Nunukan. Mungkin biasanya yang dilakukan adalah Buka Puasa Bersama namun, kali ini berbeda. Anak-anak juga sangat semangat dan antusias dalam mengikuti kegiatan Sahur ini’, Ungkap Ibu Farida.

“Semoga akan ada lagi, kegiatan seperti ini. Selain bisa melaksanakan Ibada di Bulan Suci Ramadhan ini, anak-anak juga semakin bersemangat karena baru pertama kalinya bisa Sahur bersama Bapak dan Ibu dari Kodim 0911/Nunukan”.

Komandan Kodim 0911/Nunukan menyampaikan bahwa dibulan yang penuh berkah ini, Kodim akan terus berbuat yang terbaik kepada masyarakat khususnya di wilayah Kabupaten Nunukan.

“Selain serbuan Vaksin yang terus kami gencarkan dititik-titik keramaian, kegiatan lain juga harus dilaksanakan khususnya dibulan Suci Ramadhan, Kodim 0911/Nunukan ingin memberikan kegiatan yang bermanfaat dan membantu masyarakat Nunukan, salah satunya Sahur bersama anak yatim di panti asuhan”.

(pendim 0911/Nunukan/yutdalin)

Kartini Dari Rumpin, 9 Tahun Mengajar Di Kelas Jauh Nan Terpencil Diatas Gunung

RUMPIN – Tanggal 21 April, selalu rutin diperingati sebagai Hari Kartini. Sebuah momentum hari peringatan tentang kisah tentang perjuangan, kesadaran diri serta kebangkitan emansipasi dari para kaum perempuan Indonesia, untuk bisa sejajar dalam segala hal di kehidupan. 

Hal ini diawali oleh Raden Ajeng Kartini yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan Indonesia. Semangat itu terus dikobarkan dan diperjuangkan oleh para perempuan hingga saat ini. Salah satunya oleh Eka Trisnawati (30) seorang guru honorer di kelas jauh SDN Cipinang 3, Kampung Kebon Cau, Desa Cipinang, Kecamatan Runpin, Kab. Bogor. 

Sudah sejak 2013 hingga saat ini, wanita yang akrab disapa Eka ini menjadi guru honorer di sekolah tersebut dan menjadi tenaga pengajar di kelas jauh Kampung Kebon Cau yang letaknya berada di atas perbukitan di wilayah area tambang ini. 

9 tahun menjadi guru di daerah pelosok Kabupaten Bogor, dengan jarak tempuh yang jauh, kondisi jalan rusak, menanjak dan berada di ketinggian bukit dengan sisi jalan penuh tebing curam, namun tak membuat ibu dua anak ini takut apalagi surut semangat untuk mengajar.

Ibu dua anak yang tinggal di Kampung Kebon Kelapa, Desa Runpin ini harus siap menempuh perjalanan sejauh hampir 10 kilometer untuk sampai ke lokasi tempat nya mengajar di Kampung Kebon Cau, Desa Cipinang tersebut. Tapi perjalanan melelahkan dan penuh dengan tantangan tersebut, terus dijalaninya setiap hari. 

“Pernah pada tahun – tahun pertama, saya mengalami peristiwa kurang baik. Saat itu saya bawa motor tua non matic, lalu menanjak dan tiba – tiba slip dan tak kuat menanjak. Motor mundur lagi ke arah belakang, saya dan motor terjatuh. Bersyukur tidak jatuh ke sisi kanan yang jurang dalam. Alhamdulillah saya masih selamat,” ungkap Eka mengenang kisah perjalanannya mengajar di pelosok. 

Wanita murah senyum ini menuturkan, saat ini di kampung tersebut, telah ada bangunan gedung kelas jauh yang cukup memadai, karena sebelumnya para siswa hanya bisa belajar di ubin teras/selasar rumah Ketua RT. Begitupun akses jalan ke lokasi sekolah kelas jauh, sekarang ini sudah mulai lebih baik lagi. 

Bersama dua orang guru honorer lainnya, Eka Trisnawati, saat ini mereka mengajar 108 orang siswa/i yang ada di kampung tersebut. Karena sarana pendidikan di sekolah masih terbatas, jadwal belajar para siswa/i dibagi menjadi dua waktu. Kelas 1, 2 dan 3 masuk pagi, selanjutnya kelas 4, 5 dan 6 masuk di siang harinya. 

“Para murid disini selalu semangat untuk masuk sekolah dan belajar. Mereka ingin pintar, meskipun kondisi taraf ekonomi keluarga mereka rata – rata terbatas dan belum begitu mementingkan soal urusan pemdidikan. Disini masih ada pendapat anak perempuan nggak perlu sekolah tinggi – tinggi. Makanya masih sering ada perkawinan di usia dini,” terang Eka. 

Sebagai seorang guru, Eka berharap taraf pendidikan anak – anak dan masyarakat di kampung terpencil tersebut bisa terus meningkat, sehingga dapat membawa perbaikan di segala bidang kehidupan. Ia juga berharap, perkawinan usia dini bisa berkurang agar keluarga yang dibangun bisa lebih sejahtera dan bahagia. 

“Di kampung ini, rata – rata pendidikan hanya tamat SD. Makanya kami para guru bertekad agar generasi selanjutnya bisa sekolah hingga jenjang SMP dan SMA sesuai program wajib belajar 12 tahun,” ucapnya. 

Mengajar di pelosok kampung yang ada di wilayah perbukitan, bagi Eka dan dua rekannya, tentu banyak memiliki cerita suka dan duka. Selain belum diangkat menjadi K2:atau PPPK, mereka harus menghadapi pula kondisi alam yang rentan hujan ditengah sulitnya akses jalan ke lokasi kelas jauh berada. 

“Dukanya ya kalau musim hujan, jalan licin, akses jalan menanjak dan menurun sangat berbahaya. Namun kami harus tetap datang dan mengajar para siswa. Karena itu tugas kewajiban kami, meski hanya sebagai guru honorer dan upah yang seadanya dari BOP sekolah induk,” ungkap Eka. 

Wanita bersuamikan seorang buruh ini menuturkan, namun segala duka itu akan terhapus dengan kebaikan warga atau wali murid yang selalu ramah, baik dan sangat menghormati para guru. Bahkan tidak jarang warga mengajak mereka ikut dalam acara syukuran dan lainnya. 

“Suasana kekeluargaan di sini sangat baik. Bahkan sering juga kami dikirimi buah – buahan saat musim panen tiba. Kami para guru juga sering diajak kumpul dalam kegiatan – kegiatan warga,” Imbuh Eka. 

Sebagai seorang guru honorer, Eka hanya berharap agar pemeruntah dapat lebih memperhatikan nasib dan kesejahteraan hidup dari para guru honorer. Sehingga mereka bisa menjadi tenaga guru tetap atau ASN. Terutana bagi para guru yang telah lama mendedikasikan diri di dunia pendidikan, terlebih di daerah pelosok. 

“Kami para guru honorer ingin terus bisa mengabdikan diri, mencerdaskan anak bangsa, meningkatkan taraf pendidikan. Namun kami juga butuh dukungan dan perhatian dari pemerintah. Agar kami bisa lebih fokus dalam pengabdian,” tikas Eka Trisnawati. 

(***)