Berjalan 4 Tahun, Program Sekolah Enuma Indonesia di Kaltara Berhasil, Ribuan Anak Terbantu
NUNUKAN – Program pendidikan berbasis permainan digital “Sekolah Enuma Indonesia” yang digagas Yayasan Litara bersama mitra, telah berjalan selama empat tahun dan mencatatkan keberhasilan di wilayah Kalimantan Utara maupun Kalimantan Barat. Kini program tersebut secara resmi berakhir, namun manfaat dan dukungan tetap akan dilanjutkan.
Dalam paparannya, Perwakilan Yayasan Litara, Edy Wahyu Sri Mulyono, menjelaskan bahwa program ini menggunakan aplikasi pembelajaran yang dikembangkan dengan metode bermain sambil belajar.Awalnya dikembangkan di Amerika Serikat pada 2012, materi kemudian disesuaikan dengan penambahan modul bahasa Indonesia.
“Anak-anak zaman sekarang sangat menyukai permainan gawai. Melalui aplikasi ini kami gabungkan permainan dengan materi pembelajaran, sehingga mereka belajar tanpa merasa sedang belajar. Sasaran utamanya adalah anak usia dini hingga kelas awal sekolah dasar, sekitar usia 4 hingga 10 tahun,” ujar Edy dalam acara pertemuan dan evaluasi program yang bertempat di Kantor Dinas Pendidikan, Senin (13/07/2026).
Selama empat tahun berjalan, program ini telah menyentuh 19 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang tersebar di beberapa wilayah. Tercatat ada 1.447 anak terdaftar dan dipantau perkembangannya, sementara secara keseluruhan lebih dari 2.000 anak telah terlibat kegiatan.
Di wilayah Kalimantan Utara, program dimulai dari Malinau, kemudian meluas ke Nunukan (termasuk Sebatik), dan tahun ini menyasar juga Kabupaten Bulungan. Khusus di Nunukan tercatat ada 4 TBM dengan 100 anak peserta terdaftar.
Bekerja sama dengan The Head Foundation, lembaga nirlaba dari Singapura, program ini menempatkan TBM sebagai mitra utama. Hal ini sejalan dengan konsep “Segitiga Pendidikan” yang diusung, yaitu sinergi antara peran keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Karena dinilai sebagai salah satu pelaksana yang paling berhasil, peralatan tablet yang semula hanya dipinjamkan, kini dihibahkan sepenuhnya kepada Yayasan Litara. Sebagian alat tersebut nantinya akan diteruskan sebagai hibah kepada para pengelola TBM yang telah bermitra maupun yang baru akan bergabung.
“Meskipun program utamanya berakhir tahun ini, kerja sama kami tidak berhenti. Kami akan tetap melakukan pendampingan, bahkan akan menunjuk koordinator di daerah agar kegiatan tetap berjalan berkelanjutan,” tambahnya.
Edy juga menyampaikan kekhawatiran jika persiapan pendidikan tidak dilakukan dengan matang, bukan “Generasi Emas” yang didapatkan, melainkan justru “Generasi Cemas” yang kurang siap menghadapi masa depan. Oleh karena itu, pihaknya terus berinovasi mendukung tumbuh kembang anak.
Selain program digital, Yayasan Litara juga akan segera meluncurkan produk bacaan baru berupa tabloid anak bernama “Sobat Litara” atau Sora. Menariknya, dua halaman khusus dalam tabloid tersebut disiapkan untuk memperkenalkan kekayaan Kalimantan Utara, mulai dari suku, hewan khas, hingga nama-nama daerah di wilayah perbatasan.
“Kami memuat materi Kalimantan Utara dari A sampai Z, agar anak-anak lebih mengenal lingkungan tempat mereka tinggal. Harapan kami, berbagai upaya ini menjadi bekal nyata menyiapkan generasi emas di masa mendatang,”tandasnya.
Selain belajar menggunakan gawai, selama berjalannya program para pengelola TBM juga terus dibekali pelatihan agar kemampuan dalam mendidik dan membimbing anak-anak semakin berkembang.
Padli/admin
