Safari Ramadhan Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI dan Ibu Ketua Persit Kartika Chandra Kirana PD XIV Hasanuddin Dikabupaten Bone

Bone, Sulsel – Berandankrinews.com – Jumat (17/5/19) Pukul 17.30 Wita, telah dilaksanakan tatap muka dan buka puasa bersama Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Surawahadi S.E Beserta Ibu Ketua Persit KCK Pd XIV Hsn Ibu Endang Surawahadi S.E dan rombongan dalam rangka Safari Ramadhan di Kab. Bone Propinsi Sulawesi Selatan.

Disambut oleh Bupati Bone Dr. H. A. Fahsar M Padjalangi, M.Si, bertempat di Jln. Petta Ponggawae Kelurahan Manurungnge Kec. Tanete Riattang Kab. Bone.

Sambutan Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Surawahadi S.E yang dibacakan Oleh Staf ahli Pangdam bagian ideologi kolonel Czi Ade Heri yaitu secara pribadi dan atas nama pangdam XIV/Hasanuddin mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa semoga Ibadah yang kita lakukan selama bulan suci Ramadan ini diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada pemerintah Kabupaten Bone beserta jajarannya atas segala penghormatan dan kesediaannya menerima kami beserta rombongan dalam rangkaian kegiatan kunjungan kerja di daerah ini.

Bahwa dalam mencapai keberhasilan tugas di wilayah, tentu sangat dibutuhkan kerjasama dan kontribusi dari seluruh komponen masyarakat dengan harapan agar tugas-tugas dilakukan oleh Kodam 14 Hasanuddin khususnyajajaran Korem 141 Toddopuli dapat dilaksanakan dengan baik.

Oleh karena itu, kegiatan silaturahmi seperti ini esensinya sangat positif untuk meningkatkan kebersamaan sinergitas dan soliditas ikut serta memelihara harmonisasi sebagaimana yang sudah terjalin dengan baik selama ini.

Kerjasama dengan seluruh komponen masyarakat diharapkan semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa guna terwujudnya masyarakat yang sejahtera adil dan makmur.

Setelah kegiatan Safari Ramadhan selesai, dilanjutkan pemberian Santunan kepada anak yatim-piatu, pemberian Keramik secara simbolis dengan 7 orang penerima.

Dilanjutkan Sholat tarawih berjamaah Di mesjid Al- Istiqamah Korem 141/Tp bertempat Jln. Jendral Sudirman Kelurahan Manurungnge Tanete Riattang.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kolonel Inf Suwarno, S. AP Danrem 141/TP Beserta Ibu, Bupati Bone Dr.H.A.Fahsar M Padjalangi, M.Si Beserta Ibu, Kol Arh Syaepul Mukti Ginanjar,S.I.P beserta Ibu Asrendam XIV/Hsn, Kol Inf Andi Asmara Dewa beserta Ibu, Asintel Kasdam XIV/Hsn, Kol Inf Rudi Andriono, S.I.P.,M.A.P beserta Ibu Aspers Kasdam XIV/Hsn, Kol Arm Hari Wibowo, S.Sos beserta Ibu, Aster Kasdam XIV/Hsn, Kol Czi Galih Suhendro, S.Sos.,M.H beserta Ibu Aslog Kasdam XIV/Hsn, Kol Czi Ade Heri Kurniawan Staf Ahli Pangdam XIV/Hsn Bid. Ideologi Politik, Kol Cpm Andi Sukawati,S.E beserta istri Danpomdam XIV/Hsn, Kol Czi Muhammad Said beserta istri Kazidam XIV/Hsn, Kol Arm Bambang Irawan beserta istri Kabintaldam XIV/Hsn, Kol Inf Maskun Nafik beserta istri Kapendam XIV/Hsn, Akp Andi Syafei S.Sos (Wadan C Pelopor Brimob Bone, KompolSamsuddin Palulu Wakapolres Bone, Drs.H.Andi Akbar yahya M.si Ketua DPRD BONE, Para Dandim jajaran Korem 141/TP, Para Kabalak Korem 141/Tp, Para Kasi Rem 141/Tp, Para Perwira jajaran Kodim 1407/Bone, Para Forkopimda kabupaten Bone, Para Perwira, Bintara dan Tamtama Jajaran Kodim 14 23/Soppeng, Ketua Persit korcab Bone, Para Kasi Pasirem 141/Toddopuli, Para Forkopimda Kab Bone, Para awak media cetak, elektronik, dan media nnline serta warga masyarakat Bone yang sempat hadir. (Irwan N Raju)

Ciptakan Sinergitas, Polsek Tanjung Duren Buka Puasa Bersama FPI

Berandankrinews.com, Jakarta-Kapolsek Tanjung Duren Polres Metro Jakarta Barat Kompol Lambe Patabang Birana SIK bersama jajaran melaksanakan buka puasa bersama dengan ormas Front Pembela Islam (FPI) yang diselenggarakan di Rumah Makan Simpang Raya, Jalan Daan Mogot Raya Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan Jakarta Barat, Jumat (17/05/19).

Kapolsek Tanjung Duren Kompol Lambe P Birana SIK mengatakan, acara buka puasa tersebut untuk melakukan silaturahmi, sinergitas dan menyampaikan himbauan Kamtibmas untuk bersama menjaga kondusifitas wilayah.

“Kami (Polri) bersama FPI siap bersinergi untuk menjaga keamanan masyarakat demi suksesnya Pemilu 2019 yang aman dan damai,”ucap Kompol Lambe.

Lambe juga mengimbau kepada tokoh agama serta tokoh pemuda dan ormas dalam hal ini FPI setempat untuk dapat menjaga kondisifitas dalam rangka pasca Pemilu 17 April 2019.

“Jangan mudah terprovokasi dan percaya pada berita berita di media sosial yang memang belum tentu kebenarannya,” Tambahnya.

Ia juga mengajak secara bersama-sama untuk menjaga situasi yang baik ini sampai dengan akhir tahapan Pemilu yaitu pelantikan.

“Kita serahkan kepada pihak yang berwenang dalam hal itu adalah KPU RI Pusat, Bawaslu juga Mahkamah Konstitusi, dalam menjalankan tugasnya dengan baik,”pungkasnya.

Ketua KPPS Luhut Aritonang Wafat, PPWI Sambangi Keluarga Almarhum

Jakarta – Berandankrinews.com – Merespon berbagai pemberitaan terkait wafatnya Luhut FP Aritonang, Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di salah satu wilayah di Tarutung, Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) telah melakukan kunjungan langsung ke kediaman almarhum Luhut Aritonang di Tarutung, Rabu (15/5/19). Di kediaman almarhum, Ketua DPC PPWI Tobasa bersama team yang ditugaskan oleh PPWI Nasional telah bertemu dan berkomunikasi dengan istri almarhum, Boru Situmorang.

Berikut ini adalah ulasan detail hasil pertemuan dan penggalian informasi terkait wafatnya Luhut Aritonang yang ditemukan tergantung di pohon di hutan Sirambe di wilayah Desa Parburu 1, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

MISTERI KEMATIAN LUHUT FERRY P. ARITONANG

Tarutung (15/5/19), jurnalis PPWI Cabang Toba melakukan wawancara dengan istri dari Luhut FP Aritonang terkait kematian dari suaminya yang tercinta di sekitar hutan Sirambe Desa Parbubu 1 Kecamatan Tarutung, Tapanuli Utara.

Luhut FP Aritonang kesehariannya adalah buruh bangunan, namun pada saat menjelang pilpres dan pileg beliau terpilih menjadi Ketua KPPS dan selama kegiatan tersebut, menurut keluarga tidak ada keluhannya serta tugasnya berlangsung dengan baik atau tanpa beban.

Tapi menurut istrinya, Br. Situmorang, yang pada saat ini sedang mengandung anak yang kedua, bahwa suaminya adalah seorang yang tidak banyak bicara, dan pada Minggu tersebut Bapak Luhut FP Aritonang sering duduk termenung seolah fikiran kosong, dan bila keluarga bertanya padanya tentang apa yang difikirkan, jawaban darinya selalu mengatakan tidak ada apa-apa. Jadi keluarga tidak ada kecurigaan apapun terhadapnya.

Ketika Jurnalis PPWI Cabang Toba Samosir bertanya kepada ibu ini tentang kemungkinan ada yang dicurigai sebagai lawannya, si ibu mengatakan bahwa sepanjang pengetahuan ibu ini, suaminya adalah seorang yang banyak pergaulan, maklum suaminya adalah tukang bangunan. Jadi menurut hematnya suaminya tidak ada musuhnya atau lawannya.

Pada hari Senin (5/5/19), Bapak ini keluar dari rumah dengan tidak membawa apa-apa. Dompet serta motornya semua tinggal di rumah, dan tidak memberitahukan kepada siapapun kemana ia pergi. Setelah berselang, sang istri mulai bertanya kepada tetangga dan keluarga tapi tak ada yang bisa beri jawaban yang pas.

Sesudah beberapa hari tak kunjung datang atau pulang, walaupun sudah banyak yang terlibat dalam pencarian, namun hasilnya nihil, yang membuat si istri bertanya kepada paranormal yang di sarankan keluarga. Banyak sudah orang pintar ditanyakan oleh si istri namun jawaban tunggu saja dia akan pulang.

Namun yang ditunggu tak kunjung datang, sehingga keluarga yang berdomisili jauh turut membantu dan membawa paranormal ke Desa Parbubu l tersebut, dan menuju ke tempat yg terdeteksi oleh sang paranormal tersebut di pedalaman hutan Tombak Sirambe yang jarang sekali dilalui orang. Dan dengan bantuan masyarakat mencari, sang istri mencium bau busuk dan serta-merta ibu ini berteriak “bau!”

Lalu masyarakat semakin yakin bahwa bau itu adalah petunjuk, merekapun menyebar mencari dan akhirnya ketemu tergantung di pohon tapi sudah membusuk dengan lidah terjulur badan agak menghitam.

Warga tidak dibenarkan menyentuh jasat ini sampai datang pihak yang berwajib. Setelah sang istri mengetahui bahwa mayat tersebut adalah suaminya dengan melihat pakaian dikenakan untuk bunuh diri, dikarenakan tak sanggup melihat dan menghadapi situasi tersebut ia pun pulang ke rumah dan meratap sejadi-jadinya.

Tua-tua kampung berembuk dengan Istri dari bapak yg mati ini beserta orang tua kandung dari yang meninggal, diambil kesimpulan bahwa suaminya langsung di kebumikan tapi harus dihadiri aparat kepolisian. Mengingat jasat tersebut sudah membusuk terlebih dengan banyaknya misteri, “Ada yang mati tak wajar dimana jasadnya tak bisa ditemukan, dan juga teman karibnya dari kanak-kanak sampai dewasa ada dua, dan kedua-duanya sudah meninggal dunia”. Yang terjadi di desa tersebut, membuat keluarga ini rela dan pasrah bila suaminya dikebumikan tanpa visum et repertum dari dinas terkait.

Dan, setelah pihak kepolisian datang dan mengamati secara visual bahwa Bapak tersebut meninggal akibat bunuh diri karena tidak ada ciri bekas dianiaya, terlebih hutan Tombak Sirambe tersebut jarang dikunjungi orang, jadi dari cirinya bapak ini mati akibat bunuh diri, dan hari itu juga jasadnya dikuburkan di lereng hutan Sirambe tersebut, dikarenakan lereng hutan Tombak Sirambe tersebut juga merupakan areal kuburan dari masyarakat Desa Parbubu 1 tersebut, disamping kuburan ibunya.

Itulah sekelumit kisah nyata dari matinya seorang suami yang baik, yang meninggalkan seorang anak laki-laki dan seorang istri yang sedang mengandung anak kedua. (Team PPWI Tobasa)

Kappija-21 Bakal Terbitkan Buku Spesial Berjudul “Dari MRT Tsunami Hingga Doraemon”

Jakarta – Berandankrinews.com – Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia Jepang Abad 21 (Kappija-21), bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia, didukung penuh oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), akan menerbitkan buku istimewa berjudul “Dari MRT Tsunami Hingga Doraemon”. Hal ini terungkap saat pengurus teras bersama anggota Kappija-21 melakukan audiensi dengan pihak pimpinan JICA Indonesia di Kantor JICA, Gedung Sentral Senayan II Lantai 14, Jl. Asia-Afrika, Kompleks Plasa Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (16/5/18).

“Kita berencana menerbitkan buku dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia – Jepang. Buku ini berisi tentang berbagai hal yang ditulis oleh para peserta lomba menulis essay yang dilaksanakan Kappija-21, bekerjasama dengan JICA dan PPWI beberapa waktu lalu,” jelas Mulyono Lodji, Presiden Kappija-21 kepada media ini usai pertemuan dengan pihak JICA.

Buku spesial persembahan Kappija-21 kepada kedua bangsa Indonesia dan Jepang ini, tambah Mulyono, adalah dalam rangka menorehkan jejak sejarah atas perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia – Jepang, 1958 – 2018, yang baru saja berlalu. “Buku penting ini berisi tentang refleksi para pemuda Indonesia atas 60 tahun hubungan persahabatan Indonesia – Jepang,” imbuh lelaki asal Makassar yang berangkat ke Jepang dalam rangka program persahabatan Indonesia – Jepang Abad 21 pada tahun 1999 itu.

Sementara di saat dan tempat yang sama, Sekretaris Jenderal Kappija-21, Wilson Lalengke, menjelaskan keunikan dan keistimewaan buku perdana keluaran Kappija-21 ini. Menurutnya, isi buku tersebut cukup beragam, karena ditulis oleh lima-puluhan generasi muda yang berasal dari berbagai latar belakang pengetahuan, pengalaman, pendidikan, dan domisili serta usia. “Keunikan masing-masing individu penulisnya membuat warna-warni isi buku ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para pembaca,” ujar Wilson yang juga adalah Ketua Umum PPWI Nasional itu.

Bagaimana tidak, sambung Wilson, para penulis menuliskan refleksi berdasarkan pandangan masing-masing tentang beragam hal sesuai dengan minat dan bekal pengetahuan serta pengalamannya. Cerita tentang MRT di Jakarta yang baru saja diresmikan Presiden RI Joko Widodo, yang merupakan salah satu hasil kerjasama fenomenal Indonesia – Jepang, menjadi topik tulisan salah seorang penulis buku ini.

Sebagian lagi bercerita tentang pengalaman Indonesia menghadapi bencana alam yang cukup sering dialami bangsa Indonesia di hampir seluruh wilayah, persis sama dan sebangun dengan kondisi kebencanaan yang dihadapi bangsa Jepang. Usulan solutif, termasuk program saling membelajarkan antar dua bangsa ‘kakak-adik’ ini dalam mengantisipasi berbagai kemunculan bencana di wilayah masing-masing, dapat kita baca dalam ulasan beberapa penulis. Harapannya, akan terbentuk sebuah kesadaran kolektif dua bangsa Indonesia dan Jepang, yang bukan hanya berhenti pada diksi “Disaster Management” tapi akan mewujud menjadi “Disaster Friend”.

Cerita jenaka, yang tidak jarang mengharukan, juga banyak kita jumpai dalam beberapa tulisan para kontributor buku ini. Ulasan tentang budaya Jepang yang banyak tersirat dalam film anak-anak yang menampilkan tokoh utama Nobita dengan Doraemonnya misalnya, sangat kuat memicu imajinasi kreatif dalam suasana yang relaks, santai dan menyenangkan. Belum lagi keusilan tokoh Sinchan yang tentu akan membuka cakrawala intuitif pembaca dalam menyikapi dunia yang semakin kompleks ini dengan berbagai inovasi positif di lingkungan masing-masing.

Akhirnya, harap Wilson, semoga buku yang merupakan bunga rampai atau kompilasi hasil lomba essay bertema 60 tahun persahabatan Indonesia – Jepang yang dilaksanakan oleh Kappija-21 bekerjasama JICA dan PPWI beberapa waktu lalu ini kiranya dapat terealisasi. “Namun lebih daripada itu, kiranya karya kolaboratif ini mampu memberi manfaat bagi segala generasi di kedua bangsa, Indonesia dan Jepang. Ganbatte kudasai ne!” pungkas alumni PPRA-48 Lemhannas tahun 2012 ini. (APL/Red)

Pendekatan Dengan Cinta Terhadap Papua Harus Kita Utamakan

Jakarta — Berandankrinews.com — Perpustakaan Nasional menyelenggarakan pameran foto dan talk show 13 Mei hingga 24 Mei 2019.

Talk show Kamis, (16/05/2019) mengangkat tema Penjaga Peradaban “Dari Polri Untuk Papua”. Hadir sebagai pembicara, Prof (Ris)Hermawan “Kikiek” Sulistyo, MA,Ph.D ,Apu Penasehat Kapolri, Dr. Adriana Elizabetth M.Soc (LIPI), Ambassador Dr.HC.Luthfi Rauf, M.A (Polhukam) serta Oscar Motulah (Fotografer).

“Sangat penting bagi kita bagaimana menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Di Papua kita harus melakukan pendekatan holistik. Pendekatan dengan cinta yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang setara dengan daerah lain bahkan lebih. Itulah yang kini dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah beritikad baik membangun Papua dengan membangun sarana dan prasarana serta menyelesaikan konflik secara damai,” papar Luthfi Rauf.

“Pendekatan melalui budaya sangat diperlukan juga mengingat muara permasalahan biasanya terjadi di desa. Perbedaan persepsi bisa menimbulkan konflik. Masyarakat yang gemar mengkonsumsi minuman keras juga bisa menimbulkan kekacauan saat mabuk, kemudian pendidikan yang rendah. Aparat keamanan Polri/ TNI masih ditakuti oleh sebagian masyarakat Papua di pedalaman. Jika melihat seragam atau mobil dinas polisi mereka melarikan diri. Disinilah tugas Polisi/ TNI untuk sosialisasi pada masyarakat bahwa mereka hadir di tengah- tengah masyarakat untuk membantu mengamankan jika terjadi konflik,” imbuh Luthfi.

Dr. Adriana Elizabet dari LIPI juga mengatakan, konflik yang terjadi di Papua akibat marginalisasi, diskriminasi, pembangunan yang belum merata, adanya pelanggaran HAM serta ideologi. Kehadiran aparat di Papua harus memperkuat tim cyber untuk menangkal berita- berita hoax serta dialog. Menjelaskan berbagai fakta. Dari segi politik masyarakat Papua kini memiliki kesadaran yang meningkat saat Pilpres. Karena terbukti 95% masyarakat menggunakan hak pilihnya di TPS.

Setelah acara diskusi selesai, dilanjutkan dengan buka bersama. Selain makanan nasional ditampilkan pula makanan tradisional khas Papua yang dimasak oleh Chef asli Papua Charles Toto. Charles Toto atau nama bekennya Chato telah berkeliling dunia memperkenalkan kuliner Papua yang nyaris tanpa bumbu. Masakan biasanya menggunakan bambu sebagai wadah untuk meletakkan makanan kemudian dibakar. Adapula yang diletakkan di atas batu panas yang telah dibakar, dan ada dimasak di tanah dengan membuat lubang. Cara masak yang unik inilah yang membuat dunia internasional kagum dengan kuliner papua. Sebagai hidangan penutup, Chef Chato menghidangkan sukun masak santan, bunga kecombrang yang dibungkus dengan daun talas kemudian dikukus serta teh dari daun sukun yang dikeringkan. Adapula garam hitam yang khas terbuat dari pelepah nipah yang menambah cita rasa kuliner Papua yang unik. (fri)