Lomba Seni Dalam Rangka HUT ke 74 Kemerdekaan RI Tahun 2019 Di Buka Oleh Wakil Bupati Wajo

WAJO – Lomba Seni dalam rangka HUT ke 74 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2019 di Dinas Pendidikan Kabupaten Wajo, Senin 12 Agustus 2019.

Menurut Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Wajo Drs. Muhammad Nur, M.Pd mengatakan peserta yang terlibat ada kurang lebih 30.000 dari tingkat SD dilibatkan untuk kegiatan yang semacam ini, kemudian dari tingkat SMP yang siswanya kurang lebih 12.000 dan tingkat SMA SMK separuhnya dari itu.

“Kegiatan ini setiap tahun dilaksanakan dan dalam acara lomba seni ini kebetulan hanya Kecamatan Tempe yang berlomba di tempat ini, tetapi diharapkan seluruh Kecamatan sudah melakukan kegiatan yang seperti ini,” ungkapnya.

Juga dalam laporannya juga menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini, semata-mata untuk menanamkan, bagaimana kemerdekaan ini diraih tidak dengan mudah.

“Setiap 17 Agustus kita selalu merayakan hari-hari seperti ini, oleh itu kita sangat bersyukur pada malam hari ini karena Wakil Bupati Wajo menyempatkan diri untuk bersama-sama kita disini, untuk membuka acara ini sekaligus memberi arahan dan wejangan,” harap Sekretaris Dinas Pendidikan.

Wakil Bupati Wajo H. Amran SE, dalam sambutannya menyampaikan bahwa HUT RI diperingati setiap tahunnya yang mana pada tahun ini mengambil tema “sumber daya manusia unggul Indonesia maju” Lebih lanjut dikatakan bahwa lomba seni ini dalam rangka memaknai dan menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 74 tahun 2019, di samping dapat menghibur masyarakat dan tentunya lomba seni ini sebagai upaya dalam mengembangkan minat anak-anak, dalam cabang seni dan olah suara, sebagaimana tema lomba seni pada tahun ini yaitu “generasi muda cerdas dan berbudaya menuju Wajo maju dan sejahtera.

“Lomba seni budaya ini juga diharapkan mampu mentransformasi berbagai nilai yang terkandung di dalamnya untuk kehidupan yang lebih baik, terutama bagi generasi muda kita agar tidak terpengaruh budaya asing yang bernilai negatif, sehingga akan melahirkan generasi muda yang berjiwa seni kebudayaan yang baik dan cinta tanah air,” harap H. Amran, SE. Juga dikatakan bahwa kesadaran untuk terus-menerus mengembangkan dan melestarikan seni budaya daerah Kabupaten Wajo, pada hakekatnya bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama baik seniman, budayawan, masyarakat maupun pemerintah.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Daerah, mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan ini,” kata H. Amran, SE diakhir sambutannya. ( Humas Pemkab Wajo )

Gubernur Ingin Pastikan Jalan Sekatak – Malinau Tuntas Akhir Tahun – Jalan Malinau – Krayan Sudah Bisa Dilalui,Tiga Tahun Ditargetkan Semakin Bagus

TANJUNG SELOR – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr H Irianto Lambrie meminta kepada pihak pelaksana kegiatan memastikan kegiatan rehabilitasi atau perbaikan jalan Trans Kalimantan, poros Sekatak (Bulungan)-Malinau bisa tuntas 100 persen pada akhir 2019.

Demikian ditekankan Gubernur saat meninjau langsung progress kegiatan peningkatan jalan di ruas Sekatak, tepatnya di perbatasan Bulungan-Kabupaten Tana Tidung pada Jumat (9/8) lalu. “Alhamdulillah, tadi saya lihat progresnya sudah bagus. Khusus di wilayah Bulungan dan Tana Tidung sudah selesai.

Tinggal sedikit di daerah Malinau yang semantara dalam pengerjaan. Pihak pelaksana kegiatan juga sudah memastikan insya Allah bisa selesai 100 persen,” kata Irianto usai meninjau jalan tersebut.

Menurut laporan di lapangan, kata Irianto, hingga sekarang progres pengerjaan jalan sepanjang 103,48 kilometer itu, sudah mencapai 70-an persen lebih.

Pihak pelaksana kegiatan meyakinkan, akhir tahun sudah bisa selesai 100 persen. Sesuai yang tertera dalam kontrak, pengerjaan jalan tersebut dimulai sejak Januari 2019, menggunakan sistem multiyears contract (MYC) atau tahun jamak.

Dengan nilai kontrak Rp 169,2 miliar. Meliputi rehabilitasi jalan, perawatan, pelebaran, hingga rehabilitasi dan perawatan jembatan. Gubernur mengatakan, anggaran untuk kegiatan peningkatan jalan ini, bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Untuk itu, sudah sepantasnya kita sangat berterima kasih kepada Pemerintah Pusat, terkhusus kepada Presiden dan Wakil Presiden RI, maupun jajaran kementerian yang telah memberikan perhatian kepada Kaltara.

Utamanya dalam pemberian dukungan dana untuk pemenuhan infrastruktur,” kata Irianto. “Alhamdulillah, ini juga merupakan hasil usaha kita yang tak lelah terus melakukan komunikasi dan koordinasi yang instensif dengan pusat,” timpalnya.

Penuntasan jalan trans Kalimantan yang menjadi akses antar kabupaten di Kalimantan, termasuk Kaltara ini, lanjut Gubernur, merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memperlancar konektivitas antar wilayah.

Dengan terkoneksinya antar daerah dengan lancar, Gubernur yakin pertumbuhan ekonomi akan berkembang pesat. “Dengan akses transportasi yang mudah, logistik barang juga mudah. Sehingga secara ekonomi, jika ongkos transportasi murah, akan menekan harga barang. Dan yang lebih penting lagi pelayanan kepada masyarakat akan lebih mudah,” kata Gubernur lagi.

JALAN MALINAU-KRAYAN

Semantara itu, masih sebagai salah satu upaya membuka keterisolasian wilayah, kolaborasi pemerintah pusat dan daerah kini terus kebut penyelesaian membangun jalan menuju beberapa wilayah perbatasan yang selama ini belum terjangkau lewat jalur darat.

Jalan dari Malinau hingga Krayan, Kabupaten Nunukan salah satunya. Pembangunan jalan ini merupakan usulan Pemprov Kaltara yang disampaikan Gubernur dalam beberapa kali kesempatan pertemuan nasional.

Termasuk dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (Musrenbangnas). Bahkan secara langsung kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) maupun ke Presiden. “Alhamdulillah, usulan (jalan Malinau-Krayan, Red.) itu diakomodir, bahkan mendapat prioritas dari pemerintah pusat.

Sejak mulai dikerjakan beberapa tahun lalu, menurut laporan dari Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XII Balikpapan, sekarang sudah bisa terhubung. Bisa dilalui atau fungsional, namun belum belum lancar. Apalagi jika hujan, masih sulit dilalui,” kata Gubernur. Diungkapkan, jalan Malinau-Krayan merupakan satu dari beberapa koridor jalan perbatasan yang kini tengah dibangun pemerintah. Akhir tahun lalu, Gubernur secara langsung telah meninjau langsung progres yang dikerjakan oleh Dirjen Bina Marga melaluai BPJN XII Balikpapan,saat ini jalur tersebut sudah tembus,dan tinggal dilakukan pembenahan untuk fungsional.

Sesuai progres yang diinformasikan kepadanya,akhir tahun 2019 ditargetkan sudah fungsional semua.Pemprov sendiri akan terus mendesak kementerian agar pekerjaan sesuai target,sehingga masyarakat perbatasan bisa mulai merasakan dampaknya.”Tahun ini fungsional dulu,yang terpenting bisa dilalui Selanjutnya kita akan kembali usulkan agar terus dikerjakan.paling tidak butuh waktu 3 tahunan,jalan itu sudah bisa lebih bagus dan bisa difungsikan secara lancar,”kata Irianto.

Tak hanya sepenuhnya dianggarkan dari pusat melalui APBN,Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara,lanjutnya,juga mendukung fungsionalnya jalan tersebut.yaitu dengan membangun ruas-ruas jalan provinsi.

Dengan demikian,jalan koridor yang dibangun,dapat dimanfaatkan oleh masyarakat hingga di tingkat perdesaan dan kemacetan.”Sudah ada memang ruas jalan-jalan provinsi yang membentuk dan konektivitaskan kemacetan-kemacetan di sana (Perbatasan).Dan ada juga kantong-kantong ekonomi dibuat,”tutup Irianto.(humas)

Irianto Ajak Teladani Ketaatan Nabi Ibrahim AS

TANJUNG SELOR – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr H Irianto Lambrie mengatakan, hari raya Iduladha merupakan hari yang mengingatkan pada kisah Nabi Ibrahim AS, yang telah meletakkan dasar-dasar fundamental keagamaan.

Demikian disampaikan Irianto saat menyampaikan sambutan sebelum pelaksanaan salat Ied pada Iduladha 1440 Hijriah di Masjid Agung Istiqomah Tanjung Selor, Minggu (11/8).

Gubernur menyebut, ada dua hal yang menjadi pelajaran penting dalam peristiwa Nabi Ibrahim AS itu bagi umat Islam, yaitu berhaji dan berkurban. “Keteladanan yang diberikan Nabi Ibrahim dan keluarganya untuk melaksanakan perintah Allah SWT, memberikan dua hikmah bagi kita. Terutama ketaatan beliau, yang harus kita teladani,” kata Gubernur.

Kedua hikmah yang diambil dari peristiwa itu, sebutnya, pertama dapat dilihat dari prinsip ritual, yang mengajarkan tentang kesetiaan. “Karena Allah mengajarkan kita tentang kesetiaan yang berimbas pada kekuatan dan kesatuan,” ujar Irianto. Kedua, kata Gubernur, dilihat dari dimensi sosial.

Melalui hewan kurban yang disembelih memberikan arti peningkatan solidaritas sosial. “Oleh karena itu, peringatan Iduladha tidak hanya diperingati secara formalitas saja, tetapi maknanya dapat kita terapkan dalam kehidupan kita untuk membangun dan membina kepekaan sosial kita,” kata Irianto lagi.

Melalui pelaksanaan kurban, menurut Gubernur, dapat merajut kembali persatuan dan kebersamaan kita.

Melalui kurban juga akan menguatkan ukhuwah. Baik dengan sesama umat manusia, terkhusus bagi umat muslim sendiri.

“Dalam kesempatan ini, saya juga mengajak kepada kita semua untuk mendoakan saudara-saudara kita, utamanya warga Kaltara yang sedang menunaikan ibadah haji, semoga kembali dalam keadaan sehat walafiat dan menjadi haji yang mabrur,” tutur Gubernur.

Gubernur, atas nama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, maupun pribadi dan keluarga, tak lupa menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Iduladha 1440 Hijriah.

Lewat momen Iduladha ini, Gubernur mengajak kita semua untuk meningkatkan keimanan, ukhuwah, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama. “Kita ambil hikmah dan keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, yang mengajarkan pengabdian dan ketaatan, terutama Kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan iman dan taqwa bagi kita semua,” pungkasnya. Pelaksanaan salat ied di Masjid Agung Istiqomah Tanjung Selor kemarin berlangsung khidmat. Bertindak sebagai khotib, Ustaz Kasman Ghafar, dari Kementerian Agama Kaltara.

Gubernur hadir bersama istri dan anak bungsunya. Usai pelaksanaan salat Ied, Gubernur berkesempatan menyerahkan bantuan sapi kurban yang diterima ketua takmir masjid agung.(humas)

Mengenang Sejarah Terbentuknya BIRA Atau Yang Dikenal Karaeng Loe Ri Bira

Makassar – Kisah sejarah daerah ini diawali dengan kedatangan seorang Tomanurung yang datang melalui sebuah pohon keladi raksasa yang dalam Bahasa setempat disebut Pacco “Balira” dan kemudian Tomanurung tersebut digelar Manurunga ri Bira. Diperkirakan terjadi sekitar akhir Abad XII. 

Kedatangannya lalu disambut gembira oleh masyarakat asli setempat yang saat itu dipimpin oleh seorang Ketua Kaum yang digelar Tolaki.

Manurunga ri Bira, lalu memperistrikan putri Tolaki dan menurunkan dua orang putera yaitu :

  1. Batara Bira
  2. Batara Bulu

Batara Bira sebagai putera sulung menggantikan kedudukan Manurunga ri Bira. Dari perkawinannya dengan Karaeng Beroanging menurunkan 7 orang anak, masing-masing 6 putera dan seorang puteri, yaitu  masing-masing

  1. Karaeng LoE ri Bira, Karaeng Bira I
  2. Karaeng LoE ri Bentang, Karaeng Sudiang I
  3. Karaeng LoE ri Katingan
  4. Karaeng LoE ri Karampuang
  5. Karaeng LoE ri Barasa
  6. Karaeng LoE ri BululoE
  7. Karaeng Nipakocci ri Pao-pao

Karaeng LoE ri Bira akhirnya menggantikan ayahandanya Batara Bira sebagai Raja Bira dan adiknya Karaeng LoE ri Bentang mendirikan Kerajaan Bentang yang kemudian berubah nama menjadi Sudiang  sekaligus sebagai Raja Bentang (Sudiang) yang pertama.

Di awal sudah kami tuliskan bahwa Bira berasal dari nama pohon talas/keladi raksasa atau dalam bahasa Makassar disebut “Pacco Balira”.   

Diambil untuk menjadi nama kerajaan ini, karena   Manurunga ri Bira, datang secara misterius dan ditemukan oleh masyarakat setempat  sedang duduk di atas selembar daun talas (keladi) beralaskan selembar cindai (bendera) bergambar harimau putih.

Dari kejadian itu akhirnya disebutkan bahwa nama daerah tersebut adalah BIRA  mengambil dari nama jenis pohon talas tempat kedatangan Tomanurung, yaitu Balira yang kemudian berubah bunyi menjadi Bira.

Bendera bergambar harimau yang menjadi alas Tomanurung di atas daun talas itu lalu menjadi  “Kalompoang” (simbol kebesaran) Kerajaan Bira yang digelar  “Macang Keboka”.

Bendera “Macang Keboka” tersebut oleh Karaeng LoE ri Bira diserahkan kepada Karaeng LoE ri Sero, Raja Tallo I ketika Raja Bira menyatakan perhambaannya di bawah kekuasaan Tallo sekaligus menempatkan kerajaannya sebagai bagian dari Kerajaan Tallo dan kemudian mengundurkan diri dan memegang jabatan sebagai Dampang ParangloE di bawah kekuasaan Tallo.

Di  Kerajaan Bira lah Dato ri Bandang pertama kali tiba yaitu di suatu pelabuhan yang disebut “Turungang Berasa” dan oleh Raja Bira yang ketika itu bernama Baso Daeng Pabeta (Raja Bira VIII) mengantarkannya menemui  I Mallingkaan Daeng Mannyonri Raja Tallo untuk menyampaikan missi kedatangannya.

Sudiang berdiri sekitar abad XIII dengan nama Bentang, karena itulah awalnya raja yang memerintah Sudiang bergelar Karaeng LoE ri Bentang,  putera Batara Bira. .

Perubahan nama dari Bentang menjadi Sudiang berawal ketika Raja Gowa memberi nama wilayah ini Kodia yang artinya buruk, mungkin karena Raja Gowa menilai kondisi alam daerah ini yang sungguh-sungguh tidak menarik atau pun mungkin ada hal lain yang kurang menyenangkan sehingga Raja Gowa menyebutnya demikian.

Ketika Kare Kobbi, Karaeng Sudiang IX bersama-sama dengan Karaeng Punrangan ri Borisallo berhasil kembali dari Jawa dalam sebuah tugas ekspedisi penyerangan, maka Raja Gowa menganggap penilaiannya selama ini terbalik yang diistilahkan SISULIANG yang artinya pengertian terbalik dari sebelumnya. Dari kata sisuliang itulah akhirnya berubah bunyi menjadi SUDIANG.

Selanjutnya dari Bira dan Sudiang, akhirnya berkembang menjadi 4 kerajaan yaitu Biringkanayya dan MoncongloE, setelah putera  dari  I Addolo Daeng Mangngitung (Karaeng Bira XIV /Gallarang Bira III)  yaitu   I Mangngassengi Daeng Mangngassai Bangkeng Bate ri Paralloe diangkat menjadi Gallarang Biringkanaya Pertama dan adiknya I Hama Daeng Leo, diangkat sebagai Gallarang MoncongloE pertama

Bira, Sudiang, Moncongloe dan Biringkanaya, merupakan daerah Suku Makassar, dengan demikian ikatan sejarahnya sangatlah erat dengan Sejarah Gowa dan Tallo, sebab memang berdasarkan catatan Lontara, Karaeng LoE ri Sero ditetapkan sebagai Raja Tallo Pertama atas permufakatan Karaeng LoE ri Bentang (Raja Sudiang) dan Karaeng LoE ri Bira (Raja Bira).

Sudiang sendiri adalah salah satu Anggota Dewan Panji Sembilan Kerajaan Gowa atau yang dikenal dengan sebutan Bate Salapanga, yaitu sejak tahun 1565 menggantikan kedudukan Gallarang Batua.

Jabatan selaku Anggota Bate Salapanga dipegang selama 4 (empat) dekade raja di Sudiang yang kebetulan semuanya adalah perempuan (ratu). Sebutan raja di Sudiang sejak berdirinya sampai keluar sebagai Anggota Bate Salapanga adalah karaeng tetapi sesudahnya barulah disebut gallarang.

Sedangkan Bira, Biringkanayya dan Moncongloe menjadi bagian dari Dewan Hadat Kerajaan Tallo.

Perkembangan Selanjutnya
Istilah Gallarang Appaka muncul dan populer, pada saat Belanda sudah memperoleh penguasaan total atas Sulawesi Selatan termasuk Maros, atas dasar itu Kerajaan-kerajaan lokal yang ada ditata menjadi daerah-daerah pemerintahan administratif dalam bentuk Distrik Adat Gemenschaap yang dipimpin oleh seorang kepala distrik yang dipilih dari bangsawan setempat berdasarkan peraturan  adat serta mendapatkan pengesahan dari Gubernur Belanda di Makassar.

Empat Distrik serumpun masing-masing Bira, Sudiang, Moncongloe dan Biringkanaya  yang ditetapkan sebagai Distrik Adat Gemenschaap dipimpin oleh seorang Kepala Distrik dengan gelar Gallarang. Dan dimasukkan menjadi bagian dari Onderafdeling Maros. Setelah sebelumnya menjadi daerah bawahan dari Kerajaan Gowa Tallo.

Atas dasar itulah sehingga keempatnya dipopulerkan dengan istilah Gallarang Appaka (Empat Distrik yang dipimpin oleh Gallarang).

Uraian lengkap masing Kerajaan Gallarang Appaka menjadi satu bagian pokok dari Buku Sejarah yang kami tulis meskipun diakhir perjalanannya hanya MoncongloE yang tetap menjadi bagian dari Maros hingga saat ini.

Laporan : Amran Allobaji, SH, MH Kr. Tetta Sau.

Lilo Ak Mantan Racer Andalan Honda Motor Racing Akhirnya Sah Jadi Anggota DPRD

Bone (Sulsel)-pelantikan dan pengambilan sumpah janji jabatan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DPRDKab Bone, Andi Muh. Salam yang lebih akrab disapa dengan Lilo Ak, baru saja dilantik, berharap nantinya akan perjuangkan potensi potensi anak milineal agar bisa menjadi energi positif untuk daerah ini bukan menjadi generasi yang tidak berguna alias generasi negatif dimasyarakat ungkapnya.

Lanjut Lilo Ak yang juga mantan pembalap motor Road Race Andalan Kab Bone dan Pernah Harumkan Nama Honda Motor Racing ini melihat semua potensi anak muda di daerah ini sangat membutuhkan wadah dan sarana agar nantinya dapat mengangkat semua potensi anak muda menjadi aset daerah.

Insya Allah
“Harapan saya kedepan bagaimana membawa suara anak muda milenial terkait penyaluran potensi dan bakat agar tidak menjadi energi negatif, dan bias,”jelasnya Senin, 12/8/2019 pukul 14.30 usai pelantikan

Lilo Ak melihat banyak potensi yang dimiliki anak muda Kab Bone yang kurang mendapat perhatian pemerintah saat ini

” Sejatinya Potensi mereka adalah aset daerah, yang membutuhkan wadah pembinaan sehingga nantinya mampu mengangkat daerah ini dilevel Regional maupun Nasional.

Melihat potensi tersebut, Lilo Ak Optimis berusaha merealisasikan harapan harapan itu agar potensi Anak anak Bone kelak bisa menjadikan Bone salah satu Pencetak pembalap Handal untuk bertarung di Porda, PON dan kejurnas

“Saya optimis karena Anggota DPRD hari ini itu mayoritas muda muda, jadi potensi ini kemudian saya yakin bisa terealisasi tutupnya saat dikonfirmasi langsung oleh awak media ini disela sela foto foto bersama keluarga dan Team pemenangannya usai pelantikan. (Irwan N Raju)