Irianto Sampaikan 4 Tanggapan dan 7 Usulan Terkait Rancangan Teknokratik RPJMN 2020 – 2024

BALIKPAPAN – Ada 4 tanggapan yang disampaikan Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr H Irianto Lambrie terhadap Rancangan Teknokraktik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang disusun Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).

Tanggapan pertama, perlunya kesinambungan yang kuat antara RPJMN 2015-2019 dengan RPJMN 2020-2024. Ini bertujuan agar setiap rencana pembangunan dapat berlanjut, holistik dan terintegratif. “Saya yakin pula rancangan Bappenas ini sudah bagus. Namun, tetap harus disadari bahwa tak ada karya manusia yang sempurna.

Dari itu, butuh masukan,” kata Gubernur saat menyampaikan tanggapannya pada Konsultasi Regional Pulau Kalimantan Penyusunan Rancangan Awal RPJMN 2020-2024 di ballroom Novotel Balikpapan, Selasa (20/8).

Tanggapan kedua, Gubernur menilai bahwa perencanaan pembangunan antar pulau yang termuat didalam rancangan teknokratik saat ini, belum detail. “Masih sangat makro. Saya khawatir, pada pembahasan perencanaan tahunan di tiap regional akan muncul fragmentasi pemikiran dan usulan lagi.

Sehingga terjadi perdebatan,” jelas Irianto. Gubernur juga menilai perlunya mem-booming-kan tema pembangunan yang dipampang pada RPJMN 2020-2024. “Tema pembangunan yang diangkat untuk 5 tahun kedepan, adalah Indonesia berpenghasilan menengah-tinggi yang sejahtera, adil dan berkesinambungan.

Tema ini harus diselaraskan di seluruh wilayah Indonesia, dan harus benar-benar dapat ditindaklanjuti bukan mengambang,” ulas Irianto. Tanggapan selanjutnya, adalah belum tergambarkannya kebhinekaan dalam rancanan teknokratik RPJMN 2020-2024.

“Indonesia tak bisa dibangun secara seragam. Jangan lagi kita berpikir untuk membangun di wilayah yang banyak penduduknya, tapi harus berpikir bagaimana membangun untuk mendatangkan penduduk dan peningkatan perekonomiannya.

Dengan kata lain, pembangunan harus disesuaikan dengan kultur daerah masing-masing,” jelas Gubernur. Selain 4 tanggapan tersebut, Gubernur juga menyampaikan 7 usulan. Usulan pertama, yakni Pemerintah Indonesia harus memiliki kemauan yang kuat untuk menjadikan Kalimantan sebagai pusat energi listrik nasional. “Kaltara sendiri, terus berusaha keras untuk mewujudkan pembangunan kelistrikan.

Dalam hal ini, pembangunan PLTA diharapkan dalam beberapa tahun kedepan sudah dapat terbangun. Meski memang investasi PLTA jauh lebih mahal dibandingkan PLTU,” papar Irianto. Usulan kedua, mewujudkan Kalimantan sebagai pusat penelitian dan pelestarian hutan gambut nasional.

“Selama ini, pemerintah di Kalimantan terus berupaya melestarikan keberadaan hutannya. Dan, itu memberikan sumbangsih besar terhadap oksigen dunia. Dari itu, saya kira wajar jika Kalimantan menuntut perlakuan lebih atas hal ini,” urai Gubernur. Usulan ketiga, yakni pentingnya melanjutkan pembangunan jalan Trans Kalimantan. “Usulan keempat, perlunya penegasan isu pemindahan Ibukota Negara ke Kalimantan.

Didalam rancangan teknokratik tersebut, tidak dijelaskan dimana lokasinya, jadi tidak menimbulkan banyak pertanyaan,” ungkap Irianto. Dan, usulan kelima adalah penguatan pertahanan dan keamanan di wilayah perbatasan NKRI di Kalimantan dengan melakukan pergeseran pasukan. “Usulan selanjutnya, adalah pemanfaatan lahan secara maksimal, termasuk perairan dan lahan konversi untuk peningkatan ketahanan pangan di wilayah Kalimantan.

Dan usulan terakhir, pentingnya melakukan pemekaran wilayah secara terbatas. Seperti, kepada Tanjung Selor yang masih berstatus kecamatan, sementara wilayahnya adalah ibukota Kaltara yang seharusnya berstatus kota,” tutup Irianto.(humas)

Duka Papua Duka Kita Dan Bahagia Papua Adalah Bahagia Kita

Jakarta — Dedi Ruslan selaku Dewan Pembina Laskar Palapa dalam perbincangannya dengan awak media di Jakarta, Rabu, (21/08/2019).

mengatakan”Sering kita mendengar slogan NKRI harga mati, tapi yang diperlukan sekarang apalagi di era global ini adalah Kesatuan Berbangsa dan Bernegara yang ditopang oleh ekonomi kuat agar tercapai kesejahteraan bersama.

“Menanggapi polemik Papua dan Papua Barat serta tragedi Surabaya berikut saudara saudara kita yang terkena imbas hampir di daerah lainnya, tentu ini sangat miris.

Kemirisan dengan tragedi ini tak cukup hanya dengan jargon atau berbagai teori lainnya, melainkan butuh pendekatan nyata dari hati ke hati yang selanjutnya kita praktekkan dengan merangkul saudara Papua kita tanpa curiga dan benci melainkan dengan penuh cinta.

Ketika itu kita lakukan maka luka Papua adalah luka kita dan bahagia Papua adalah bahagia kita semua.” tutur Dedi. “Saatnya kita tatap Matahari yang terbit dari timur dengan penuh cinta. Merdeka…!” tandas Dedi Ruslan yang juga Dewan Pembina Forum Wartawan Jakarta ini. (fri)

Komnas HAM RI,Siap Layani Pengaduan di Kaltara

TANJUNG SELOR – Agenda Respons Kaltara kembali digelar pada Selasa (20/08). Di edisi ke-53 kali ini membahas menganai layanan pengaduan Hak Asasi Manusia (HAM) di Kaltara.

Dua nara sumber dihadirkan dalam acara inovatif gagasan Bagian Humas pada Biro Humas dan Protokol Sekretariat Provinsi Kaltara ini. Yaitu Asisten I bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Sanusi dan Komisioner Komisi Nasional (Komnas) HAM RI, Munafrizal Manan. Berbicara masalah HAM, tentu akan berkaitan dengan hak-hak yang wajib diperoleh masyarakat.

Salah satunya hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak, serta mendapatkan fasilitas yang memadahi. Di Kaltara, seperti disampaikan Sanusi, sejauh ini pemenuhan hak-hak mendasar bagi masyarakat, telah dilakukan oleh Pemerintah.

Baik oleh Pemerintah daerah maupun pusat. “Termasuk dalam hal pemenuhan fasilitas yang memadahi, serta layanan-layanan kepada masyarakat. Tentu memang semua belum seratus persen terpenuhi.

Namun pemerintah daerah, utamanya pemerintah provinsi telah berkomitmen terus berupaya memenuhinya. Utamanya terkait kebutuhan hak pendidikan, kesehatan dan lainnya,” kata Sanusi. Dikatakan, berkaitan dengan hak asasi manuaia, salah satunya hak berdemokrasi, sejauh ini di Kaltara sudah berjalan dengan baik.

Bahkan berdasar penilaian Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Kaltara selalui masuk dalam jajaran 5 besar terbaik secara nasional. Pemerintah Provinsi Kaltara, lanjutnya juga selalu memberikan perhatian terhadap HAM di Kaltara.

Mengenai antisipasi konflik agraria misalnya. Pemprov selalu berupaya memfasilitasi penyelesaian secara baik, tanpa ada pihak yang terlanggar hak asasinya.

Hal ini pun mendapat respons positif dari Komnas HAM RI. Melalui salah satu komisionernya, Munafrizal Manan, apa yang dilakukan Pemprov Kaltara sejauh ini sudah sangat baik. “Apa yang disampaikan Pak Ass I tadi, menujukkan bahwa Pemprov Kaltara sudah menjalankan fungsinya dengan baik. Seperti diketahui dalam UU, pemenuhan HAM merupakan kewajiban pemerintah.

Dan itu sudah dilakukan Pemprov Kaltara,” ujarya. Sesuai tema, mengenai layanan pengaduan jika terjadi pelanggaran HAM di Kaltara, Munafrizal menyebutkan, Komnas HAM siap menerima pengaduan, dan juga konsultasi dari masyarakat berkaitan dengan HAM. Di Kaltara, lanjutnya, telah disiapkan pos pengaduan di Kota Tarakan.

“Masyarakat yang ingin mengadu, atau sekedar berkonsultasi silakan menghubungi kami. Bisa lewat telepon, email atau ketemu langsung. Di Kaltara juga sudah kita siapkan tempat, silakan datang. Sementara pos pengaduan kami ada di Tarakan,” kata Munafrizal. Disebutkan, dari empat isu stretagis menjadi fokus Komnas HAM, yakni konflik agraria, intoleransi, dan penataan kelembagaan, di Kaltara dominannya adalah konflik agraria dan intoleransi.

Namun itu pun belum begitu signifikan. “Sesuai laporan yang masuk, kasus konflik agraria ada dua laporan. Sementara intoleransi ada satu. Itu pun hanya masih sebatas dugaan-dugaan,” katanya. (humas)

Wakil Bupati Wajo Hadiri Rakesnas Apkasi Di Bali Denpasar

WAJO – Wakil Bupati Wajo H.Amran, SE menghadiri Rapat Kerja Nasional dan Apkasi Smart Regency and Forum 2019 yang berlangsung di Batur Room, Aston Denpasar Hotel & Convention Center, Jl. Gatot Subroto Barat No.283, Pemecutan Kaja, Denpasar Utara, Kota Denpasar Bali, Rabu 21 – 23 Agustus 2019.

Sebagaimana diketahui bahwa Revolusi industri 4.0 sebagai perkembangan peradaban modern telah dirasakan dampaknya pada berbagai sendi kehidupan yang menjadikan perubahan semakin cepat.

Perkembangan tersebut membawa konsekuensi meningkatnya tuntutan akuntabilitas dan transparansi kepada pemerintah daerah serta responsif yang tinggi dan cepat terhadap perubahan.

Di sisi lain, pemerintah daerah masih menghadapi permasalahan keterbatasan sumber daya manusia, anggaran dan permasalahan lainnya. Pada pelaksanaan ASREF 2019 hari ini, diisi dengan beberapa forum dengan tema besar “Menuju Kabupaten Cerdas melalui Digitalisasi Pelayanan Publik.” Forum-forum tersebut juga dilaksanakan selama 3 (tiga) hari dengan dengan topik yang berbeda.

Ketua Umum Apkasi H.Abdullah Azwar Anas yang juga Bupati Banyuwangi menyampaikan dalam sambutannya bahwa salah satu program Apkasi kedepan adalah program peningkatan kapasitas SDM Pemerintah Kabupaten dalam bentuk short course dan studi tiru, fasilitasi keikutsertaan Bupati dalam Economic Leadership For Regional Government Leader oleh Institut Bank dan masih banyak lagi.

Sementara itu Wakil Bupati Wajo H.Amran, SE, mengharapkan melalui forum Pemerintah Kabupaten Kota ini, dapat membangun sinergitas antara seluruh Pemerintah Kabupaten se Indonesia, sehingga development goals dapat kita wujudkan secara bersama sama.

“Kami mendukung program kerja Apkasi untuk kemajuan daerah, melalui forum ini kami dapat bersinergi dan menjalin kerjasama antar daerah ” tegas H. Amran, SE. Rakornas Apkasi ini dihadiri oleh Menteri Desa PDT dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Sekjen Kemendagri serta beberapa pejabat Kementerian terkait, sedangkan dari Pemerintah Kabupaten Wajo Wakil Bupati Wajo didampingi Kadis Kominfo Wajo Hasri, As, S.STP., M.AP. ( Humas Pemkab Wajo )

Wisata Tangkulara Mutiara indah dari Teluk Bone

Penulis : Iwan Hammer
Perkumpulan pemuda Bone pecinta alam
Angkatan ke II 1994.

Bajoe salah satu kawasan di kota watampone Kabupaten Bone provinsi Sulawesi Selatan, merupakan penyanggah Sulsel dan Sulawesi Tenggara , dari pelabuhan Bajoe sandang pangan didistribusikan oleh para saudagar saudagar yang datang dari berbagai daerah disulawesi Selatan.

Pelabuhan Bajoe yang berada dikecamatan Tanete Riattang Timur dalam wilayah Teluk Bone menyimpan berbagai kisah tentang masa kemasan Kerajaam Bone dimasa lampau , dulunya Bajoe dikenal sebagai bandar niaga bersandarnya Kapal kapal VOC dan Kapal kapal bangsa Portugis.

Itu terjadi dimasa lampau jauh sebelum Bone bergabung dengan Republik Indonesia , pelabuhan Bajoe saat ini dilayani 7 unit kapal RORO milik beberapa perusahaan pelayaran yang bergabung di GAPASDAP atau gabungan pengusaha Angkutan sungai Danau dan penyeberangan.

Kini pelabuhan Bajoe siap berbenah untuk menyambut datangnya para wisatawan mancanegara dan domestik setelah ditemukannya Mutiara Di kawasan Tangkulara Teluk Bone, kawasan pasir putih yang hanya bisa dilihat dari pukul 06 sampai pukul 12. 00 wita.

Tangkulara ibarat butiran mutiara putih yang siap memanjakan mata orang orang yang melihat dan merasakan pesonanya, Tangkulara punya keunikan tersendiri dibandingkan pasir putih ataupun kawasan wisata lainnya di Indonesia, seperti Bunaken di Manado, Raja Ampat dipapua, Bira di Bulukumba, lombok di Nusa Tenggara.

Pulau Tangkulara kawasannya hanya seluas Dua Hektare ini punya keunikan dan kelebihan tersendiri dengan pulau pulau wisata bahari lainnya di Indonesia ungkap Mr Gerrard 25 tahun turis Asal Belanda saat melihat video video tentang Tangkulara.

Pulau Tangkulara Mutiara putih dikawasan Teluk Bone akan menjadi Ikon wisata bahari Kab Bone kedepannya, tinggal bagaimana kesiapan pemkab Bone melalui dinas pariwisata, dinas kelautan, Dinas Perhubungan dan dinas dinas terkait lainnya.

Intinya tetap menjaga keaslian dan keindahan pulau Tangkulara dari oknum oknum yang tidak bertanggung jawab agar pulau ini tetap menjadi Ikon dan idola untuk Kabupaten Bone bagi wisata mancanegara, domestik ataupun wisatawan lokal Bone.

Pemerintah Kabupaten Bone harus segera menyiapkan segala sarana dan prasarana agar pulau Tangkulara mutiara putih Teluk Bone bisa segera terwujud menjadi tujuan wisata Bahari .