Jangan Biarkan Perbedaan Memecah Umat: Menempatkan Konflik Internal dengan Bijak

Oleh: Gusti Randi Banashem

Sejak masa awal Islam, perbedaan pendapat sudah menjadi bagian dari dinamika umat. Para sahabat Nabi pernah berbeda dalam memahami sebuah perintah, dan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam Tidak tidak mencela salah satu pihak ketika masing-masing memiliki dasar yang kuat. Dari tradisi inilah lahir keragaman mazhab fiqh, seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Keragaman itu bukan tanda perpecahan, melainkan bukti betapa luasnya khazanah keilmuan Islam dan betapa para ulama bersungguh-sungguh dalam berijtihad.

Masalah muncul ketika perbedaan yang seharusnya menjadi rahmat berubah menjadi bahan permusuhan. Perdebatan soal qunut, jumlah rakaat tarawih, tahlilan, hingga cara bersedekap dalam salat sering kali dibawa ke ruang publik dengan nada saling menyesatkan. Padahal, persoalan khilafiyah adalah wilayah yang memang diberi ruang oleh syariat untuk berbeda pandangan.

Seorang Muslim yang dewasa dalam beragama perlu tahu di mana sebuah persoalan harus ditempatkan. Perbedaan mazhab dan fiqh adalah urusan internal. Tempatnya adalah majelis ilmu, forum kajian, dan diskusi para ahli yang dilandasi adab serta keilmuan, bukan kolom komentar media sosial atau mimbar yang dipakai untuk menyerang sesama saudara seiman.

Adab berbeda pendapat sudah dicontohkan para ulama terdahulu. Imam Syafi’i dikenal menghormati pendapat yang berseberangan, dan ia berkata bahwa pendapatnya benar namun mungkin keliru, sedangkan pendapat orang lain keliru namun mungkin benar. Sikap rendah hati seperti ini yang hari ini perlu dihidupkan kembali. Berdebat boleh, bahkan perlu, tetapi tidak dengan merendahkan, menuduh sesat, atau memutus silaturahmi.

Lain halnya ketika kita berbicara tentang penindasan terhadap umat Islam. Ketika saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia diusir dari tanah mereka, dibatasi ibadahnya, atau dirampas hak-haknya, tidak ada yang bertanya apakah mereka bermazhab Syafi’i atau Hanbali, apakah mereka berqunut atau tidak. Penindas tidak membedakan. Yang mereka lihat hanyalah satu identitas, yaitu Muslim.

Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam menggambarkan kaum mukminin dalam kasih sayang dan kepedulian mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya dengan demam dan tidak bisa tidur. Gambaran ini menegaskan bahwa solidaritas bukan sekadar anjuran moral, tetapi bagian dari bangunan keimanan itu sendiri. Maka, ketika ada saudara yang terzalimi, sudah sepatutnya kita melepaskan sejenak persoalan khilafiyah dan berdiri dalam satu barisan.

Bersatu di sini tidak berarti menyeragamkan keyakinan atau meleburkan mazhab. Bersatu berarti menyepakati bahwa ada hal-hal yang lebih besar dari perbedaan kita, yaitu kehormatan, keselamatan, dan hak hidup saudara-saudara kita. Pembelaan, doa, bantuan kemanusiaan, dan suara moral yang bersatu jauh lebih berdampak dibanding seribu perdebatan yang tak berujung.

Salah satu kecerdasan seorang Muslim adalah kemampuan menimbang prioritas. Para ulama menyebutnya fiqh aulawiyat, yaitu memahami mana yang lebih utama dan lebih mendesak. Menghabiskan energi untuk memperdebatkan perkara cabang, sementara pokok persoalan umat dibiarkan terbengkalai, adalah bentuk ketidakseimbangan dalam beragama.

Kita juga perlu waspada bahwa perpecahan internal sering menjadi celah yang dimanfaatkan pihak luar. Umat yang sibuk saling mencurigai akan kehilangan kekuatan untuk membela dirinya. Sebaliknya, umat yang mampu mengelola perbedaan dengan dewasa akan tampil kokoh dan disegani.

Maka dari itu Menjadi Muslim yang matang berarti mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Perbedaan mazhab dan fiqh kita rawat sebagai kekayaan intelektual, kita diskusikan dengan santun di ruang internal, dan kita hormati sebagai hasil ijtihad para ulama. Namun ketika umat tertindas, kita tinggalkan sejenak perdebatan itu dan bergandengan tangan membela mereka.

Sebab pada akhirnya, yang akan ditanyakan bukan hanya seberapa kuat kita membela pendapat kita, tetapi juga seberapa besar kepedulian kita terhadap saudara yang sedang membutuhkan pertolongan.

*admin/bensyam