Grand Final Debat Demokrasi Pelajar Nunukan 2026 Cetak Generasi Cerdas Politik
NUNUKAN – Kompetisi debat demokrasi antar pelajar SMA/SMK/MA se-Kabupaten Nunukan yang ke-4 tahun 2026 resmi ditutup, Jumat (05/06/2026). Acara yang mengusung tema “Konsolidasi Demokrasi, Tolak Politik Uang, Menyongsong Pemilu Luber Jurdil di Perbatasan” ini diharapkan menjadi wadah membangun generasi muda yang paham dan peduli demokrasi.
Mewakili Bupati Nunukan, PLH Sekda Muhammad Amin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bawaslu dan Badan Kesbangpol yang menyelenggarakan kegiatan positif ini. Sebagai daerah perbatasan, Nunukan memiliki peran strategis sebagai garda terdepan menjaga persatuan dan nilai kebangsaan.
“Demokrasi yang sehat butuh warga kritis yang cerdas menyaring informasi. Di era digital, tantangan makin besar—hoaks dan ujaran kebencian mudah menyebar. Debat ini bukan sekadar cari juara, tapi latih pelajar berpikir logis, berargumen berdasar fakta, dan menghargai perbedaan,” ujarnya.
Ia mengajak pelajar menjadi generasi yang tidak apatis: “Politik adalah alat menyejahterakan rakyat. Tolak praktik yang memecah belah, bangun budaya politik jujur dan berintegritas”.
Ketua Bawaslu Nunukan, Moch Yusran, menjelaskan kegiatan ini diselenggarakan di luar tahapan pemilu karena pendidikan politik butuh waktu panjang. Bahkan dengan anggaran terbatas, kerja sama dengan Kesbangpol membuat acara ini tetap berjalan.
“Kami sengaja angkat topik hangat seperti pemisahan pemilu nasional-daerah dan cara memilih pemimpin agar pelajar paham berbagai sisi isu. Mereka dilatih berpikir objektif, tidak hanya satu arah—ini bekal penting jadi pemimpin masa depan,” katanya.
Ia juga mengingatkan soal tantangan hukum, seperti perbedaan aturan penanganan pelanggaran antara pemilu dan pilkada, serta pentingnya perlindungan saksi agar demokrasi berjalan adil.
Ketua Bawaslu Kaltara, Yakobus Malyantor, menegaskan Nunukan satu-satunya daerah yang giat menggelar kegiatan serupa meski dalam efisiensi anggaran. Ia mengingatkan, generasi muda adalah pemilih terbesar pada Pemilu 2029.
“Jangan buta politik! Semua kebijakan—mulai dari fasilitas umum sampai pendidikan—berasal dari keputusan politik. Kalau kita diam dan tidak peduli, kualitas pemimpin dan daerah pun terpengaruh,” tegasnya.
Bawaslu Provinsi juga menandatangani kerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk rutin mengedukasi demokrasi di sekolah-sekolah.
Semua narasumber sepakat: menang atau kalah bukan hal utama. Yang terpenting adalah wawasan, keberanian berpendapat, dan sikap menghargai perbedaan yang didapat. Diharapkan para peserta menjadi duta demokrasi yang menyebarkan semangat pemilu jujur dan adil di lingkungannya masing-masing.
Adapun Tim Smansa Sinergy dari SMAN 1 Sebatik keluar sebagai juara pertama Kompetisi Debat Demokrasi Pelajar se-Kabupaten Nunukan tahun 2026 dengan meraih total nilai tertinggi, yaitu 763 poin.
(Padli/admin)
