64 WNI Dideportasi Dari Malaysia, Pulang Dengan Biaya Mandiri: BP3MI Tetap Tanggung Perjalanan Ke Kampung Halaman

IMG_20260731_183752

NUNUKAN – Sebanyak 64 Warga Negara Indonesia (WNI) dideportasi dari Malaysia dan tiba di Nunukan, Kamis 30 Juli 2026.

Berbeda dari gelombang pemulangan sebelumnya, kali ini para WNI harus membiayai sendiri tiket perjalanan hingga ke perbatasan. Hal itu terjadi karena kontrak kerja sama pemerintah Malaysia dengan agen pelayaran telah berakhir.

Ketua Tim Pelindungan BP3MI Kalimantan Utara, Asriansyah, menjelaskan jumlah WNI yang dipulangkan terdiri dari 52 laki-laki dan 12 perempuan.

“Total ada 64 orang yang dipulangkan kali ini. Mereka membeli tiket masing-masing karena pemerintah Malaysia sudah tidak lagi menanggung biaya perjalanan ke perbatasan. Namun, begitu mereka tiba dan berada di wilayah kami, BP3MI tetap menanggung sepenuhnya biaya perjalanan mereka menuju kampung halaman masing-masing. Anggaran untuk pemulangan ke daerah asal masih tersedia dan siap kami gunakan,” jelas Asriansyah.

Setibanya di Nunukan, seluruh WNI ditampung sementara di Rusunawa dengan masa penanganan paling singkat tiga hari. Selama waktu itu, petugas melakukan pendataan lengkap, pemeriksaan kesehatan, serta memastikan keamanan dan kenyamanan mereka.

“Jika ada keluarga di Nunukan yang ingin menjamin dan merawat, kami serahkan segera setelah proses administrasi selesai. Bagi yang ingin pulang ke kampung halaman, kami siapkan keberangkatan secepat mungkin,” tambahnya.

Terkait rencana sebagian warga untuk kembali bekerja ke Malaysia, Asriansyah menegaskan mereka akan dirujuk ke layanan BP3MI untuk pengurusan dokumen secara resmi. Ia mengingatkan prosedur kerja ke luar negeri cukup ketat sehingga tidak boleh dilakukan melalui jalur tidak resmi.

Pihaknya juga menyoroti pentingnya pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan pengiriman pekerja migran secara ilegal. BP3MI mengajak RT, Kepala Desa, aparat keamanan, hingga pemerintah daerah untuk bekerja sama menjaga warga agar tidak terjebak penipuan tawaran kerja fiktif.

“Kita cegah sejak di rumah, sebelum mereka berangkat melintasi batas negara,” tegasnya.

Mengenai kondisi kesehatan, Asriansyah bersyukur seluruh WNI yang tiba dalam keadaan sehat. “Hampir tidak ada keluhan kesehatan serius, hanya keluhan ringan biasa seperti lelah perjalanan atau luka kecil di kulit,” pungkasnya.

Padli/admin