Penyelesaian Batas Negara RI-Malaysia Berjalan Sesuai Rencana, BPP Kaltara Pastikan Tidak Ada Desa Yang Hilang

TANJUNG SELOR – Penyelesaian Batas Negara RI–Malaysia di Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Utara sedang berproses dan sesuai rencana kedua negara. Kegiatan ini dilakukan suda lama dan bertahap, bukan secara tiba-tiba.
Pemerintah Indonesia dan Malaysia telah menuntaskan penyelesaian sengketa batas negara di Pulau Kalimantan, khususnya Outstanding Boundary Problems (OBP) Sektor Timur yang berada di wilayah Provinsi Kalimantan Utara, melalui proses diplomasi dan perundingan panjang antarnegara.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengelola Perbatasan Provinsi Kalimantan Utara, Dr. Ferdy Manurun Tanduklangi, SE, M.Si, saat dikonfirmasi terkait polemik perbatasan yang viral di media sosial.
Menurut Dr. Ferdy, penyelesaian OBP Sektor Timur telah dituangkan dalam Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia yang ditandatangani pada Februari 2025. Kesepakatan tersebut merupakan hasil pembahasan bertahun-tahun dan bukan keputusan yang muncul secara tiba-tiba.
Ia menjelaskan, di Kabupaten Nunukan terdapat dua segmen perbatasan utama yang dibahas, yaitu Segmen Pulau Sebatik serta Segmen Sinapad dan B.2700–B.3100.
“Untuk Segmen Pulau Sebatik, perundingan batas negara telah selesai, disepakati bahwa wilayah Indonesia yang masuk ke Malaysia seluas 4,9 hektare, sementara wilayah Malaysia yang masuk ke Indonesia seluas 127,3 hektare. Saat ini, kedua negara tengah membahas mekanisme ganti rugi yang layak bagi masyarakat yang terdampak,”kata Ferdy
Sementara itu, pada Segmen Sinapad dan B.2700–B.3100, hasil kesepakatan menunjukkan Indonesia memperoleh tambahan luasan wilayah sebesar 5.207,7 hektare, sedangkan Malaysia memperoleh tambahan luasan wilayah sebesar 778,5 hektare. Terkait 3 desa yg terdampak tidak seluruhnya tetapi hanya sebagian wilayah dan bukan keseluruhan, dari Desa Tetagas, Desa Lipaga, dan Desa Kabungolor, Kecamatan Lumbis Hulu, Kabupaten Nunukan, sebagaimana data dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP).
“Sejak penandatanganan MoU, Pemerintah terus melakukan pembahasan lanjutan untuk menangani dampak terhadap masyarakat dan bagaimana negara bisa hadir untuk membantu dan melindungi mayarakat kita,”paparnya.
Dr. Ferdy menegaskan, isu yang menyebut adanya desa yang hilang akibat perubahan batas negara tidak benar. Ia juga meluruskan bahwa rapat Panitia Kerja Perbatasan DPR RI pada 22 Januari 2026 tidak secara khusus membahas sengketa batas negara RI–Malaysia di Kalimantan Utara, melainkan berfokus pada percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat kawasan perbatasan.

(dkisp)

Bupati Nunukan Tegaskan Tiga Desa Tetap NKRI, Koordinasi Langsung ke BNPP Terkait Isu Batas RI–Malaysia

NUNUKAN – Kabar soal tiga desa di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang disebut “masuk ke Malaysia” ramai diperbincangkan setelah muncul di sejumlah media nasional. Isu itu mengemuka usai Sekretaris Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Komjen Pol Makhruzi Rahman memaparkan perkembangan penanganan Outstanding Boundary Problem (OBP) atau persoalan batas negara Indonesia–Malaysia, dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR RI di Senayan, Jakarta, Rabu (21/1/2026).

OBP (Outstanding Boundary Problem) adalah istilah untuk menyebut segmen atau titik batas negara yang masih menyisakan persoalan karena tidak diputuskan batas negara karena adanya perbedaan tafsir atas trity Belanda-Inggris, titik koordinat, atau letak patok sehingga memerlukan verifikasi, negosiasi, dan kesepakatan resmi antarnegara sebelum menjadi batas yang definitif.

Menindaklanjuti informasi yang berkembang, Bupati Nunukan H. Irwan Sabri, SE, bergerak cepat melakukan klarifikasi dan koordinasi langsung dengan BNPP. Bupati bertemu Sekretaris BNPP Komjen Pol Makhruzi Rahman di Kantor BNPP, Jalan Kebon Sirih No. 31A, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2026).

“Menindaklanjuti penetapan tata batas negara di OBP Segmen Sinapad, Sungai Sesai, B2700-B3100, OBP Sungai Simantipal dan OBP Sebatik, saya langsung melakukan koordinasi ke BNPP,” kata Irwan Sabri usai pertemuan.

Bupati menegaskan, isu “tiga desa masuk Malaysia” perlu dipahami secara utuh. Menurutnya, sesuai kesepakatan kedua negara, memang ada bagian wilayah OBP yang masuk ke Malaysia. Namun, pada saat yang sama, sebagian besar wilayah justru telah menjadi definitif bagian dari Indonesia, termasuk tiga desa yang ramai diberitakan.

Ia merinci, luasan OBP yang semula sekitar 5.900 hektare, hasil kesepakatan terbaru menegaskan kurang lebih 5.207.8 hektare menjadi wilayah Indonesia, sementara 778.5 Hektar menjadi bagian Malaysia artinya 90% wilayah OBP itu Sah Milik NKRI dan 10% menjadi bagian Malaysia.

“Pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Nunukan berkomitmen untuk melaksanakan akselerasi pembangunan di wilayah ex-OBP tersebut,” tegas Irwan Sabri.

Lebih lanjut, Bupati menyampaikan bahwa masyarakat perbatasan menyambut baik hasil kesepakatan ini dan siap mendukung pembangunan demi peningkatan kesejahteraan warga.

Di akhir pernyataannya, Irwan Sabri berharap pemerintah pusat memberikan perhatian khusus untuk percepatan pembangunan di Kabupaten Nunukan, terutama pada wilayah-wilayah ex-OBP, agar dampak penegasan batas negara benar-benar diikuti peningkatan layanan dasar, infrastruktur, dan ekonomi masyarakat perbatasan.

(PROKOMPIM)

Gubernur Kaltara Soroti Ketimpangan Harga dan Infrastruktur di Perbatasan, Minta Perhatian Lebih dari Pemerintah Pusat

JAKARTA – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum. menyampaikan sejumlah tantangan berat dalam pembangunan wilayah perbatasan RI-Malaysia.

Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Tim Panitia Kerja (Panja) tentang Pengelolaan Perbatasan Wilayah Negara Komisi II DPR RI, di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (21/1).

Dalam paparannya, Gubernur menekankan dua persoalan utama yang menjadi fokus perhatian yaitu infrastruktur dasar yang masih memprihatinkan dan ketimpangan harga barang. Isu ini kerap ia sampaikan dalam berbagai forum dengan pemerintah pusat, termasuk dalam audiensi dengan Menteri Keuangan yang akhirnya berbuah bantuan sebesar Rp 150 miliar untuk pembangunan jembatan.

Dijelaskannya, kehidupan di wilayah perbatasan kerap berhadapan dengan harga yang tidak wajar.

“Di perbatasan, harga satu karung semen bisa mencapai Rp 800 ribu. Sedangkan gas elpiji 3 kg bisa mencapai Rp 400 ribu,” ujarnya.

Namun, kondisi yang lebih memprihatinkan adalah minimnya infrastruktur dan pelayanan dasar. Jalan, listrik, jaringan telekomunikasi, fasilitas kesehatan, dan pendidikan masih sangat tertinggal.

Akses ke banyak daerah masih sangat bergantung pada jalur sungai dengan menggunakan long boat, yang sering kali harus menembus giram atau jeram dengan taruhan nyawa.

“Ada beberapa daerah harus menggunakan long boat dengan mengarungi jeram dengan risiko nyawa maupun barang habis. Kalau sekali itu (long boat) menabrak batu, habis itu barang (sembako) di dalamnya. Nyawapun belum tentu selamat,” tuturnya.

Gubernur mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Kaltara telah berupaya mengatasi masalah akses jalan ini. Namun, dengan tingginya harga material dan ongkos lainnya.

“Alhamdulillah kami kemarin hanya bisa menganggarkan Rp 5 Miliar untuk pembangunan aspal di wilayah perbatasan di Krayan. Itupun hanya mendapat (jalan aspal) sepanjang 800 meter saja karena memang factor kemahalan bahan baku dan sebagainya,” imbuhnya.

Meski dihadapkan pada keterbatasan keuangan daerah, pemerintah provinsi tetap memberikan perhatian khusus bagi masyarakat perbatasan. Program seperti dokter terbang dan subsidi angkutan barang serta orang terus dilaksanakan sebagai bukti kehadiran negara di wilayah perbatasan.

Melalui forum ini, Gubernur kembali menyampaikan harapannya agar pemerintah pusat dapat lebih memperhatikan dan mengulurkan tangan kepada wilayah yang berbatasan langsung dengan negara lain. Dukungan yang lebih besar dinilai krusial untuk meningkatkan kesejahteraan, memperkuat ketahanan wilayah, dan menjaga kedaulatan NKRI dari pinggiran.

“Yang kita harapkan adalah uluran tangan pemerintah pusat bagaimana mengucurkan anggaran ke wilayah-wilayah perbatasan sehingga baik dari sosial, pendidikan, kesehatan masyarakat kita di perbatasan,” tutup Gubernur.

Rapat tersebut langsung dipimpin oleh Tim Panja Komisi II DPR RI yang dihadiri oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang memiliki wilayah perbatasan. Diantaranya hadir 3 Wakil Menteri Dalam Negeri yaitu Bima Arya Sugiarto, Ribka Haluk, dan Akhmad Wiyagus. Hadir pula Wakil Menteri ATR/BPN Ossy Dermawan dan Sekretaris Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Makhruzi Rahman.

dkisp

Lakukan Safari Perangkat Daerah, Peningkatan Pelayanan jadi Atensi Sekprov

TANJUNG SELOR – Guna memastikan peningkatan pelayanan di lingkup Pemprov Kaltara, Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Kaltara H. Denny Harianto, S.E., M.M., melakukan safari perangkat daerah pada Rabu (21/1).

Didampingi Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setdaprov Kaltara Jaini, S.Hut., M.P., Sekprov Denny melakukan safarinya ke Gedung Gabungan Dinas (Gadis) 2.

Sekprov Denny mengungkapkan safari perangkat daerah ini dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi kantor beserta kesiapan jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam menunjang program Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltara.

“Di awal tahun kita persiapkan segala sesuatu nanti sampai di akhir tahun pasti baik. Kita tadi silaturahmi ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dari tadi pegawainya cukup disiplin, dan ternyata ruangannya cukup bersih dan rapi,” kata Sekprov.

Denny berpesan agar kepala perangkat daerah dapat mendesain denah ruangan kantor yang lebih aman dan nyaman. Ia menyebutkan dengan kondisi kantor yang nyaman dan bersih akan mampu meningkatkan semangat kerja pegawai dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang datang ke kantor.

“Kita bekerja karena pelayanan publik dan seharusnya tempat kerja itu harus bersih dan rapih, itu yang harus saya pastikan,” terangnya.

Selain itu, Denny meminta perangkat daerah yang berkantor di Gedung Gadis 2 untuk memperhatikan akses jalan menuju ruangan kantor agar tidak terlalu sempit. Demikian halnya dengan tidak menutupi akses penting seperti menuju pintu darurat.
“Ada beberapa fasilitas yang tidak baik dan itu memang harus ditindaklanjuti. Gedung ini sudah di desain dengan keselamatan, keamanan dan kenyamanannya,” ujarnya.

“Jadi seluruh pegawai yang ada di Gedung Gadis 2 memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan bekerja seperti tangga darurat aksesnya jangan ditutup, kita menjaga segala sesuatu,” sambungnya.

Lebih jauh, ia memastikan akan melakukan evaluasi secara bertahap dalam menata kembali kantor perangkat daerah Pemprov Kaltara agar lebih baik kedepannya.

“Apapun itu namanya aset harus kita pelihara dengan sebaik mungkin, kita jaga. Jadi masyarakat yang datang akan merasa nyaman melihat kita dengan suasana rapi dan nyaman,” jelasnya.

Terakhir Denny menekankan pentingnya menjaga dan meningkatkan kinerja dan disiplin pegawai. Ia meminta kepala perangkat daerah memastikan jajaran tetap menjalankan tugasnya dengan baik, serta hadir dalam memberikan pelayanan.

(dkisp)

Harapan Besar Wagub Kaltara Terwujudnya Pendidikan yang Unggul di Perbatasan

NUNUKAN – Wakil Gubernur (Wagub) Ingkong Ala, S.E., M.Si., menyimpan harapan besar, terhadap masa depan pendidikan di wilayah perbatasan RI yang ada di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara).

Putra daerah kelahiran Long Nawang, Malinau itu ingin mewujudkan sekolah unggulan sebagai fondasi kemajuan generasi muda di tapal batas negara.

Harapan tersebut disampaikan Ingkong Ala saat mengunjungi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan, Senin (19/1/2026).

Pria yang pernah menjadi wakil bupati Bulungan dua periode ini, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kepada masyarakat, pemerintah desa, serta para tenaga pendidik yang selama ini berperan aktif membangun dan mengembangkan sekolah secara swadaya.

“Wilayah perbatasan adalah wajah dan martabat bangsa. Dari sinilah karakter, persatuan, toleransi, dan cinta tanah air harus ditanamkan kepada generasi muda,” kata Ingkong.

Ia menuturkan, berdirinya gedung sekolah tersebut merupakan hasil aspirasi masyarakat yang ditindaklanjuti pemerintah. Dalam waktu kurang dari dua tahun, sekolah itu akhirnya dapat terbangun.

Meski demikian, Ingkong mengakui masih terdapat keterbatasan fasilitas, mulai dari kebutuhan ruang kelas tambahan, perpustakaan, laboratorium, hingga sarana pendukung digitalisasi pembelajaran.

Pemprov Kaltara, kata dia, akan terus berupaya melakukan peningkatan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran daerah.

“Kami akan sampaikan kebutuhan ini ke perangkat daerah terkait. Pendidikan hari ini menuntut penguasaan teknologi sekaligus karakter yang kuat. Digitalisasi dan peningkatan kualitas sekolah menjadi prioritas,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ingkong juga mengingatkan para pelajar untuk menjauhi narkoba yang rawan masuk melalui wilayah perbatasan.

Ia menekankan pentingnya menjaga masa depan dengan memperkuat iman, disiplin, dan semangat belajar.

Kunjungan tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah dan tenaga pendidik dalam mewujudkan sekolah unggulan yang berdaya saing, khususnya di wilayah perbatasan Kalimantan Utara.

(dkisp)