Tingginya Angka Deportasi, BP3MI Gencarkan Jalur Resmi Kerja ke Malaysia

IMG-20260925-WA0020

NUNUKAN — Tingginya jumlah warga yang dideportasi dari Malaysia mendorong BP3MI Kalimantan Utara bersama Polri, TNI, dan instansi terkait memperketat pengawasan sekaligus menggalakkan sosialisasi kerja resmi.

Kepala BP3MI Kalimantan Utara, Kombes Pol. Andi Muhammad Ichsan, menjelaskan arus pemulangan warga terus terjadi setiap bulan. Dalam waktu dekat akan tiba 87 orang dari Tawau, disusul puluhan lainnya dari Kota Kinabalu pada awal Oktober. Sebagian besar dideportasi karena masuk atau bekerja tanpa dokumen sah.

Ichsan menyebut fenomena ini berakar pada kebutuhan hidup.

“Banyak warga berangkat bukan tanpa alasan. Di daerah asal sulit mendapat pekerjaan, sehingga mereka mengambil risiko menyeberang. Sebagian bahkan sudah beranak-pinak hingga generasi kedua dan ketiga di sana,” ujarnya, Jumat (25/9).

Siklus ini pun berulang: tertangkap, dipulangkan, lalu berangkat lagi lewat jalur yang sama.

Untuk memutus rantai tersebut, pemerintah membuka jalan aman dan sah melalui program SMK Global. Hasilnya mulai terlihat. Dua minggu lalu, 20 orang telah diberangkatkan bekerja secara resmi. Saat ini, 32 orang lainnya telah lulus seleksi dan direncanakan mengikuti pelatihan di LPKR Perbatasan minggu depan sebelum berangkat melalui P3MI Nunukan.

“Perbedaannya sangat jelas. Jika lewat jalur resmi, negara hadir melindungi, mulai dari pendaftaran, selama bekerja, hingga pulang. Jika terjadi masalah, ada yang memfasilitasi. Sebaliknya, lewat jalur tidak resmi, tidak ada data, tidak ada perlindungan, risiko ditangkap dan dipulangkan setiap saat,” tegas Ichsan.

Sebagian besar warga yang dideportasi berasal dari Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. Sosialisasi terus digencarkan agar masyarakat memahami pentingnya bekerja melalui jalur yang aman dan terjamin.

Padli/admin