442 CPNS Serahkan Berkas, 2 Orang Mengundurkan Diri


Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kalimantan Utara Burhanuddin . (Foto : Humas)

Tanjung Selor, berandankrinews.com – Dari 444 peserta yang dinyatakan lulus berdasarkan hasil integrasi nilai Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) pada penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018 di lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara), hingga penutupan proses pemberkasan pada 21 Januari lalu, tercatat ada 442 orang yang melengkapi berkas. Sementara, dua peserta lainnya menyatakan mengundurkan diri.

Hal tersebut diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kaltara Burhanuddin melalui siaran Pers nya yang sampai ke meja Redaksi , Rabu (30/1/2019). Burhan menjekaskan, dua peserta yang mengundurkan diri tersebut masing-masing lulus pada formasi tenaga pendidik atau guru pada SMAN 1 Krayan Selatan dan SMAN 9 Malinau. 

“Mereka mengajukan pengunduran diri secara resmi, dan sesuai aturan maka haknya menjadi CPNS digugurkan,” kata Burhanuddin di ruang kerjanya, Selasa (29/1/2019).

Sementara itu, bagi para peserta yang sudah melakukan pemberkasan meski telah melengkapi berkas persyaratan sebagaimana yang diminta, diimbau untuk tetap memantau perkembangan terkini. Mengingat, validasi dan verifikasi berkas akhir diwenangkan kepada Badan Kepegawaian Negara (BKN) Regional VIII Banjarmasin. 

“BKD Kaltara hanya membantu memvalidasi berkas peserta sesuai ketentuan yang ada. Yang berhak menentukan keabsahan dan kelengkapan berkas paling akhir adalah BKN. Untuk itu, peserta harus memantau terus perkembangannya dari pihak yang berkompeten,” ujar Burhanuddin. 

Dalam validasi akhir tersebut, BKN akan mengeluarkan status berkas berdasarkan keterangan tertentu. Seperti, TMS atau Tidak Memenuhi Syarat, BTL atau Berkas Tidak Lengkap dan lainnya. 

Mengantisipasi hal tersebut, sedianya BKD Kaltara sudah melakukan validasi ulang kepada peserta yang kelengkapan dokumennya dinilai belum lengkap atau masih meragukan keabsahannya. 

“Pada proses pemberkasan belum lama ini, apabila ada peserta yang berkasnya belum valid, kami akan memanggil yang bersangkutan untuk melengkapi atau mengklarifikasinya,” ucapnya.

Diinformasikan juga olehnya, apabila tak ada aral, maka diperkirakan para CPNS baru tersebut akan bertugas dengan Terhitung Mulai Tanggal (TMT) pada Maret nanti.

“Seperti sebelumnya, kami akan memanggil kembali peserta yang lulus seleksi dan mengikuti pemberkasan, apabila SK pengangkatan telah dicetak. Jadi, kami berharap peserta untuk sabar dan terus memantu informasi dari BKD,” tutupnya.

Sumber Humas Pemprov
Editor : Eddy Santry

BalasTeruskan

Kalimantan Utara Turut Mendongkrak 0,6 Persen Ekspor Nasional

Suasana pertambangan di salah satu Perusahaan Batu Bara di Kalimantan Utara. (Foto: Eddy Santry)

Kendati tercatat sebagai Provinsi paling muda di wilayah Negara Kesatua Republik Indonesia, namun Kalimantan Utara (Kaltara) tak bisa dianggap sebelah mata dalam kancah Pembangunan Nasional. Terbukti, menurut menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) RI, sepanjang Januari hingga Desember 2018, total ekspor dari Provinsi yang sebagian wilayahnya berada di Perbatasan dengan negara Malaysia tersebut mencapai USD 1,21 miliar.

Dengan fakta nilai tersebut, maka Kalimantan Utara berkontribusi sebesar 0,67 persen dari nilai keseluruhan ekspor nasional. Di mana total ekspor nasional pada periode Januari hingga Desember 2018 mencapai USD 180,06 miliar.

Melalui keterangan tertulisnya yang diterima Redaksi, Rabu (30/1/2019), Gubernur Kalimantan Utara Dr H Irianto Lambrie mengungkapkan bahwa Kaltara menyumbang ekspor non minyak dan gas bumi (Migas) sekitar 90,33 persen dari total ekspor Januari hingga Desember 2018. Dengan demikian menurut Irianto, posisi Kaltara mampu diatas dari beberapa provinsi yang telah lama terbentuk.

“Posisi ekspor Kaltara tahun lalu, menurut data BPS masih lebih baik dibandingkan 12 provinsi lainnya, bahkan yang sudah lama terbentuk. Seperti Sulawesi Tenggara, Bali, DI Yogyakarta, Aceh, Gorontalo dan lainnya. Ini akan terus didongrak, meski kita merupakan provinsi bungsu di Indonesia,” ujarnya.

Lebih jauh Irianto menuturkan, secara regional, Kaltara memang perlu memacu produktivitas ekspornya. Karena diketahui bahwa wilayah Kalimantan hinga kini masih menjadi yang tertinggi diantara wilayah lain sebagai pendongkrak ekspor Nasional.

Sebagaimana diketahui, di area Kalimantan, kontribusi ekspor tertinggi terhadap ekspor nasional berasal dari Kalimantan Timur (Kaltim) yang mencapai USD 18,56 miliar (10,31 persen), lalu Kalimantan Selatan (Kalsel) sebesar USD 8,22 miliar (4,56 persen), Kalimantan Tengah (Kalteng) memiliki nilai ekspor USD 1,90 miliar (1,06 persen), Kalimantan Barat (Kalbar) USD 1,51 miliar, lalu Kaltara (0,67 persen).

Sehingga melihat hal tersebut, Irianto bertekat memacu peluang investasi di Kalimantan Utara. Diantaranya, dengan pembangunan infrastruktur penunjang seperti pelabuhan dan hal maupun sarana lain demi terwujudnya investasi yang nyaman dan aman terutama di wilayah Perbatasan.

“Peningkatan peluang investasi di Kaltara terus dipacu hingga saat ini. Utamanya, terkait dengan pertumbuhan produktivitas ekspor, melalui pembangunan infrastruktur penunjang seperti pelabuhan. Inilah yang menjadi salah satu tujuan dari pengembangan KIPI (Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional) Tanah Kuning-Mangkupadi,” paparnya 

Selama ini, menurut Irianto, ekspor dari Kaltara masih bergantung kepada golongan barang non migas, khususnya batubara. Ini lantaran, masih banyak perusahaan batubara yang beroperasi di provinsi ini. Selain itu, ekspor Kaltara juga berasal dari golongan barang kayu dan barang dari kayu, arang kayu; tembakau dan pengganti tembakau dipabrikasi; dan lemak dan minyak hewani atau nabati serta produksi, disosiasinya, lemak olahan yang dapat dimakan, malam hewani atau malam nabati.

“Kita akan terus tingkatkan, agar Kaltara mampu berdaya saing,” tutupnya.

Sebagai informasi, dari total ekspor nasional 2018, kontribusi terbesar berasal dari Jawa Barat yang mencatatkan nilai ekspor USD 30,307 miliar (16,87 persen), Jawa Timur USD 19,07 miliar (10,59 persen), dan Kaltim. Kontribusi total ketiga provinsi itu mencapai 37,77 persen dari seluruh ekspor Nasional tahun lalu. (eddys)

DANRAMIL 0911-02/SEBATIK TURUN LANGSUNG PANTAU PERLINTASAN ORANG DAN BARANG ANTARA DUA NEGARA

Nunukan, berandankrinews.com . Perlintasan orang dan barang antar dua Negara sudah disandang mutlak bagi daerah yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga. Yakni Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Utara.

Tepatnya di daerah Desa Sei Pancang Kecamatan Sebatik Utara Kabupaten Nunukan ini memiliki pelabuhan untuk melintas dari Negara Malaysia atau sebaliknya.

Koramil 0911-02/Sebatik sebagai komando wilayah yang memiliki tanggung jawab penuh atas kondusifnya wilayah memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai aspek terutama mengenai pertahanan dan keamanan.

Setiap hari kegiatan yang dilakukan warga Sebatik sangat beragam. Bukan hanya warga asli sebatik bahkan pendatang dari Sulawesi atau daerah lainnya juga rela menuju ke Pulau Sebatik hanya untuk melintas menuju ke Malaysia.

Tentu ini memiliki tingkat kerawanan yang sangat beragam pula. Danramil 0911-02/Sebatik Mayor Arm Moh. Bakry menginstruksikan kepada babinsanya untuk rajin memantau wilayah khususnya yang memiliki perlintasan ke negara sebelah.

“Berdasarkan perintah Komandan Kodim 0911/Nnk untuk meningkatkan kewaspadaan dalam monitoring wilayah binaan masing-masing,” ucap Moh Bakry, Rabu (30/1/2019).

Lebih lanjut Bakry menututrkan, Koramil 0911-02/Sebatik terus menerus melakukan dan menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pihak terkait lainnya. Ini merupakan cara paling efektif untuk menekan segala kemungkinan ancaman yang akan terjadi. Baik itu masuknya barang illegal atau narkoba dan hal lainnya.

” Penyaringan ini sangat kecil dan rapat, membuat segala hal yang berbau kejahatan akan tercium lebih awal.Juga sinergritas yang kita bangun merupakan kekuatan penuh untuk menangkal segala bentuk ancaman”, tandasnya.

Dengan adanya kerjasama dan sinergritas antar aparat dengan masyarakat tersebut,Bakry menegaskan segala giat dan pekerjaan akan semakin ringan dan solid. Dengan cara itulah paling tidak dapat mengefektifkan kinerja menghadapi ratusan orang yang melintasi itu setiap harinya, demi menjaga kondusifnya wilayah Sebatik khususnya dan Kabupaten Nunukan umumnya.

“Dengan cara itulah paling tidak dapat mengefektifkan kinerja menghadapi ratusan orang yang melintasi itu setiap harinya, ” pungkasnya. (leo/wn)

BNPP Minta Pusat dan Daerah Bersinergi Kelola Perbatasan

JAKARTA – Pemerintah daerah dan pusat harus berupaya bersama mewujudkan daerah perbatasan yang baik, kuat dan sejahtera. Ini juga merupakan Nawacita ke-3. Untuk itu, selama ini pemerintah menempatkan pembangunan daerah perbatasan sebagai prioritas. Demikian disampaikan Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Utara (Kaltara) usai menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Pengelolaan Perbatasan Negara Tahun Anggaran 2019 di The Ballroom Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (28/1).

Diungkapkan Wagub, sesuai arahan Menteri Koordinasi Politik, Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkopolhukam) Wiranto, meski membangun daerah pinggiran berisiko dan tidak populis serta memerlukan biaya besar namun keberanian pemerintah membangun daerah perbatasan adalah bentuk keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. “Untuk itu, hal ini harus kita dukung bersama,” ucap H Udin.

Selain itu, dijelaskan Wagub bahwa Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) juga tetap memprioritaskan program percepatan penyelesaian dan penegasan batas wilayah negara, baik darat, laut dan udara sepanjang tahun ini. Dimana program yang diusung tahun ini, masih berfokus pada beberapa penanganan masalah dan isu strategis di perbatasan. Fokus lainnya, ialah pembangunan sarana dan prasarana sosial dasar yang mencakup sektor pendidikan, kesehatan dan perumahan.

“Pada 2019, pembangunan sarana dan prasarana kewilayahan pun terus digenjot. Meliputi pembangunan infrastruktur jalan, transportasi, elektrifikasi dan komunikasi. Juga, pembangunan sarana dan prasarana pendukung strategis seperti pengelolaan batas wilayah negara, pengamanan wilayah, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT),” urai Wagub.

H Udin juga menilai bahwa masyarakat perbatasan, khususnya Kaltara patut bersyukur karena pemerintah telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2019 tentang Percepatan 11 PLBN Terpadu dan Sarana Prasarana Penunjang di Kawasan Perbatasan. 11 PLBN tersebut akan dibangun di 5 provinsi, yakni Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Papua, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sebagai salah satu provinsi yang akan dibangun PLBN, kita akan memberikan dukungan. Antara lain koordinasi dan penyiapan lahan, pengalihan atau hibah aset, percepat proses perizinan, dan fasilitasi pembangunannya sesuai arahan Mendagri,” jelas Wagub.

Terkait pelaksanaan rakor sendiri, dijelaskan H Udin bertujuan untuk  mengkoordinasikan dan mengevaluasi pelaksanaan pembangunan kawasan perbatasan di 2018 sekaligus penajaman program prioritas pengelolaan kawasan perbatasan tahun ini.

“Di rakor ini turut diharapkan agar seluruh pihak dapat memastikan peningkatan efektivitas sekaligus percepatan pengelolaan perbatasan dalam rangka memperkokoh kedaulatan NKRI  terutama di daerah perbatasan,” ungkap Wagub.

Rakor sendiri dibuka oleh Menkopolhukam Wiranto dengan tema ‘Melalui Evaluasi Capaian Kinerja Tahun 2018, Kita Tingkatkan Sinergitas Percepatan Pengelolaan Perbatasan Negara Tahun 2019 Dalam Rangka Mewujudkan Nawacita ke-3’. Pada acara tersebut hadir Mendagri Tjahjo Kumolo selaku Kepala BNPP, Pejabat Eselon I dari berbagai kementerian/ lembaga, Wagub pada 13 provinsi wilayah perbatasan, wakil bupati/wakil walikota pada 41 kabupaten/kota wilayah perbatasan, sekretaris kabupaten/kota wilayah perbatasan serta pejabat lainnya

Sikapi Bertambahnya Penduduk, Gubernur Kaltara Siapkan Lapangan Kerja

Gubernur Kalimantan Utara, Dr. H Irianto Lambrie

Hal tersebut disampaikan Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie melalaui pesan tertulisnya kepada Redaksi , Selasa (28/1/2019). Menurutnya, berdasarkan rilis Proyek Penduduk Kabuapten/Kota Provinsi Kaltara 2015-2025 Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, per 31 Desember 2018. Irianto juga menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk ini, salah satunya dipengaruhi oleh perpindahan penduduk dari wilayah luar Kaltara. 

Tapi menanggapi hal tersebut, Irianto mengungkan bahwa pihaknya menyambut positif terkait minat masyarakat di luar Kalimantan Utara yang menaruh asa di wilayah Perbatasan. Hal tersebut membuktikan bahwa Kalimantan Utara kendati merupakan provinsi yang terbilang paling muda di NKRI, namun telah menjadi salah satu daerah terfavorit dalam tujuan penghidupan.

“Memang, Provinsi Kaltara sebagai sebuah daerah otonomi baru, dinilai banyak orang cukup potensial dan menjanjikan. Hal ini berdampak pada tingginya asa dari warga luar Kaltara untuk mencari penghidupan disini,” ujarnya.

Pada tahun 2019 ini, lanjut Irianto, pertumbuhan penduduk tertinggi di Kaltara, diprediksi terjadi di Kota Tarakan. Hal tersebut menurutnya karena berdasarkan proyeksi BPS, di Tarakan jumlah penduduknya pada tahun ini akan bertambah menjadi 254.262 jiwa. Disusul, Kabupaten Nunukan sebesar 196.918 jiwa, Bulungan 133.166 jiwa, Malinau 84.609 jiwa dan Tana Tidung 26.607 jiwa. 

“Pertambahan penduduk ini, di satu sisi adalah sebuah potensi. Namun, apabila tak dikelola dengan baik maka akan menjadi sebuah persoalan pelik. Untuk itu, disamping penduduk yang bertambah, kualitas hidup penduduk pun menjadi perhatian pemerintah,” imbuhnya.

Hingga 2025, penduduk Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) diproyeksi mencapai 773.377 jiwa. Sementara di 2019, pertumbuhan penduduk Kaltara diproyeksi bisa mencapai 695.562 jiwa. 

Adapun implikasi negatif dari pertumbuhan penduduk itu, menurut Irianto, salah satunya adalah pertumbuhan masyarakat miskin dan pengangguran. Diakui Gubernur, tidak sedikit penduduk dari luar Kaltara yang hijrah ke Kaltara tak dibekali pendidikan dan kemampuan yang memadai. Alhasil, dengan keterbatasan lowongan pekerjaan maka mereka pun tak bisa bersaing hingga menjadi pengangguran.

“Untuk itu, Pemprov Kaltara menggiatkan investasi guna memicu ketersediaan lapangan pekerjaan. Di samping itu, lewat sejumlah lembaga pelatihan, melalui OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait dilakukan kegiatan untuk meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) lokal sehingga mampu bersaing dalam era saat ini,” pungkasnya. (eddysantry/darwin)