Wakil Bupati Wajo hadiri Pelepasan Tim surveior Re – Akreditasi Puskesmas Salewangeng

WAJO – Wakil Bupati Wajo H. Amran, SE, hadiri pelepasan tim surveior Re- Akreditasi di Puskesmas Salewangeng sore hari ini, Jumat 30 Agustus 2019.

Kegiatan ini merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi setiap Puskesmas untuk bisa kerjasama dengan BPJS seperti yang telah dilaksanakan pada Puskesmas Salewangeng.

Dalam sambutannya Wakil Bupati Wajo H. Amran, SE, menyampaikan ucapan terima kasih atas pelaksanaan Re Akreditasi, Pemerintah Kabupaten Wajo berkomitmen dalam pelayanan kesehatan.

“Agar betul betul mengutamakan pelayanan pada masyarakat, sesuai program kerja nyata saat ini,” ungkap H. Amran, SE.

Re Akreditasi Puskesmas Salewangeng dilaksanakan selama  3 hari dan pelepasan Tim pada tanggal 30 Agustus 2019 di halaman Puskesmas Salewangeng.

Saat ini Puskesmas Salewangeng telah meraih tingkat “Madya” dan mudah mudahan bisa naik menjadi Paripurna.” Harap Wakil Bupati Wajo.

“Setelah melalui Re Akreditasi ini tentunya banyak saran dan masukan, kita akan Akomodir secara bertahap, sehingga kedepan Puskesmas Salewangeng menjadi percontohan bagi Puskesmas lainnya.” H. Amran, SE menambahkan diakhir sambutannya.

(Humas Pemkab Wajo)

Bupati Wajo Jadi Khatib Shalat Jumat di Masjid Agung Ummul Qura, ini harapannya.

WAJO – Bupati Wajo Dr. H. Amran Mahmud, S.Sos., M.Si, Jumat 30 Agustus 2019 menjadi khatib Shalat Jumat, setelah serangkaian kegiatannya yang dilaksanakan hari ini, termasuk sehabis melayat dan juga mengadakan wawancara tingkat pimpinan dalam acara Re Akreditasi Puskesmas Salewangeng dari akreditasi Madya menuju Paripurna.

Dalam khutbahnya pada hari ini menyampaikan bahwa 1 Muharam atau tahun baru Hijriyah, telah digambarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dalam melakukan sebuah perubahan dari semua aspek kehidupan.

Dr. H. Amran Mahmud menyampaikan kalau Beliau berhijrah secara fisik dari Mekah ke Madinah merubah Yatsrib menjadi kota Madinah, menjadi kota peradaban, kota perubahan dengan berbagai sifat-sifat kejadian yang ada dan ketika beliau hadir ini bisa mempersatukan kaum Muhajirin dan kaum Anshar pada saat itu, semua suku-suku merasa terlindungi bahkan Islam pun merasa aman.

“Rasulullah merasa gelisah bila ada salah satu suku atau kaum yang merasa tersisihkan, dimana dinamika yang ada semuanya pada saat itu merasa aman dan terayomi dengan kehadiran Rasulullah di Madinah,” katanya dalam Khutbah hari ini.

Lebih lanjut dikatakan bahwa dengan akselerasi percepatan perubahan perilaku masyarakat, sehingga dengan momentum ini mewarnai dan memaknai Tahun baru Hijriyah sebagai Tahun baru Islam.

“Kita jadikan sebagai momentum peradaban dari sesuatu yang baik menjadi lebih baik lagi agar bisa bermakna, agar bisa mendapat ridho Allah SWT, ini bentuk spirit untuk memasuki Tahun baru Islam,” harapnya.

Lebih lanjut dengan mengatakan kalau melalui Tahun baru Hijriah ini, apa yang bisa dikerjakan dan apa yang bisa dilakukan perubahan-perubahan, apa yang bisa dilakukan dari tahun-tahun sebelumnya menjadi lebih baik dan semua yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawaban dari Allah SWT di akhirat kemudian.

“Agar semua pengorbanan kita, baik waktu, tenaga dan pikiran semua bermakna dan bernilai ibadah di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, inilah peradaban yang ingin kita lakukan, mengajak kita intropeksi diri, bermuhasabah dan sudah sejauh mana yang kita lakukan dan kita kerjakan, kualitas ibadah kita apa sudah ada perubahan dari kekhusuan jangan sampai seperti itu itu saja,” kata Dr. H. Amran Mahmud.

“Olehnya itu, melalui momentum ini mari melakukan perbaikan dan evaluasi diri kita, juga terkait shalat kita, apa sudah bisa merubah pribadi kita, Apakah shalat itu sudah bisa membentengi kita, serta memfilter, mari lakukan perubahan dari diri masing masing, sehingga bisa bermakna dihadapan Allah SWT, luruskan niat kita untuk memasuki Tahun baru Hijriyah ini,” katanya diakhir khutbah hari ini.

( Humas Pemkab Wajo )

Bupati Wajo hadiri Wawancara Rangkaian Re Akreditasi Puskesmas Salewangeng menuju Paripurna, ini jawabannya.

WAJO – Wawancara Lintas Sektor dan wawancara tingkat Pimpinan dalam rangka akreditasi di Puskesmas Salewangeng dari tingkat Madya menuju Paripurna, Jumat 30 Agustus 2019.

Wawancara Lintas sektor yang dilaksanakan di Puskesmas Salewangeng dari Kapolsek tempe yang memberikan tanggapannya tentang penyuluhan mengenai nafzah atau penggunaan obat-obat terlarang dan memberikan pelayanan kesehatan terkait korban kekerasan juga tentang penegakan hukum di lapangan dan melakukan acara lokmin.

Dari tim selanjutnya yang mengatakan dari 24.000 warga yang terdaftar di Kecamatan Tempe, ada beberapa yang belum terdaftar BPJS, Jadi diharapkan Camat dan Lurah bisa mensosialisasikan warganya supaya dapat mengarahkan warganya untuk memasukkan di Puskesmas masing-masing.

Camat Tempe menyatakan bersedia untuk mendukung program di Puskesmas Salewangeng, sehingga dapat meningkatkan pelayanan Kesehatan di masyarakat Kecamatan Tempe, demikian juga dari Koramil Tempe yang juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk memberikan penjelasan penjelasan, serta dari tim penggerak PKK dari Kecamatan Tempe yang memberikan penjelasan kepada tim pada hari ini.

Selanjutnya Abdul Kadar, SKM., M.Kes, sebagai ketua tim bertanya kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Wajo H. Amiruddin A, S.Sos., M.M. yang ditanyakan mengenai kebijakan sumber daya manusia terkait ketenagaan, dimana tenaga sukarela tidak boleh diberi tanggung jawab sama dengan ASN yang seharusnya misal apoteker yang dua orang harus di tanggungjawab oleh seorang ASN dan mestinya harus didukung oleh regulasi yang ada.

Dari Sekretaris Daerah Kabupaten Wajo H. Amiruddin A, S.Sos., M.M yang menyatakan kalau dari sisi ketenagaan yang belum terpenuhi, namun untuk meningkatkan kualitas pelayanan termasuk ketepatan pelayanan dari semua aspek pelayanan, jadi kebijakannya adalah bagaimana menjadi penanggung jawab atau Pokja yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Tenaga honorer ini adalah Suporting, jadi tim pendamping. Jadi apapun yang dilakukan oleh tenaga pendamping harus konsultasi dengan ASN yang diberikan tugas dan tanggung jawab seperti yang dikatakan oleh ketua tim, bahwa ini merupakan erat kaitanya dengan yang dilakukan, apabila berkaitan dengan masalah hukum kemudian terkait kode etik, ini semuanya adalah tanggung jawab ASN yang diberikan tanggung jawab dan tenaga kontrak adalah tenaga Suporting yang melakukan tindakan di bawah kewenangan yang diberikan tanggung jawab oleh ASN dari sisi Ketenagaan.

Selanjutnya tim melanjutkan wawancara tingkat pimpinan Kepada Bupati Wajo yang isinya bahwa, selama ada akreditasi yang dia kunjungi di acara semacam lintas sektor ini, barusan hadir Bupati bersama dengan Sekdanya lengkap.

Dalam wawancara tingkat pimpinan yang dipimpin oleh surveyor tingkat administrasi menyatakan, ini dukungan dari atas 100%, juga mempertanyakan kalibrasi alat kesehatan yang dalam setahun sekali harus diadakan, karena ditakutkan diagnosa bisa salah karena bisa saja tertukar hasil diagnosisnya ketika tidak ada kalibrasi dan itu mutlak bagi Puskesmas Kota yang berstandarisasi.

Juga mengenai struktur dan terkait pemakaian Ambulance yang memang tidak boleh dipakai untuk mengangkut mayat dan memang harus ada mobil khusus untuk itu, karna ini terkait masalah kesehatan, juga yang lainnya misalnya terkait di UGD yang dipertanyakan. juga dari sisi ketenagaan, utamanya SDM.

Bupati Wajo ketika menjawab pertanyaan dari tim menyatakan bahwa dari jajaran Pemerintah Kabupaten Wajo, menyampaikan apresiasi yang tinggi dan ucapan terima kasih atas masukan masukannya yang cukup objektif, sangat menjadi standar dari layanan Kesehatan.

“Kami tentunya dari Pemerintah Kabupaten Wajo dalam moment baik ini, karena kami memang mempersiapkan untuk anggaran 2020, dan apa yang digambarkan cukup urgent dan inilah yang selama ini kami wanti-wanti untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat Kabupaten Wajo,” ungkap Bupati Wajo.

Dan dikatakan kalau layanan yang terbaik itu ada tiga hal menurutnya yang pertama bagaimana layanan bisa cepat, kedua layanan mudah, sehingga masyarakat merasa dimudahkan dalam layanan mereka dan yang ketiga terkait kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai yang memiliki standar akreditasi.

“Inilah tujuan akreditasi ini, harus jadi pegangan kita dan apa yang jadi temuan dan sumbang saran dari tim survei itu baik sekali, lakukan sesuai dengan aturan yang ada, terkait ketenagaan kita kualifikasi dan ditingkatkan, evaluasi, serta perseorangannya dan supaya terus mengingatkan kepada kami supaya kita terus di dalam koridor yang diharapkan, kita anggarkan secara bertahap apa yang bisa terkait kalibrasi alat kesehatan kita,” harap Dr. H. Amran Mahmud, S.Sos., M.Si.

“Jangan sampai lain yang dibutuhkan, lain yang dibeli, bagi kami sangat merespon, dan Insya Allah kita jadikan prioritas dan perhatian, ini sesuai dengan visi misi kami, diantaranya pelayanan kesehatan, bagaimana hadirkan masyarakat yang sehat ini tentu semua terkait sarana dan prasarana, juga terkait ruang layanan kita, penataannya, masalah ramah anak semua harus jadi perhatian kita semua, mohon terus bimbingannya dari tim dan atas nama Pemerintah Kabupaten Wajo bila ada hal-hal yang tidak berkenan kepada tim surveyor mohon dimaafkan,” Dr. H. Amran Mahmud, S.Sos., M.Si, menambahkan.

Kemudian dari Ketua Tim Abdul Kadar, SKM., M.Kes, mengatakan, kalau dari tim mengharapkan agar semua Kabupaten yang disurvei nantinya, kiranya Bupatinya sama dengan Bupati Wajo, karena mereka merasa terlindungi terutama dari keamanan, bagi mereka.

“Mudah mudahan Bupati Wajo diberikan Rahmat dan Hidayah untuk membangun Wajo kedepannya lebih baik lagi,” ungkap Ketua Tim pada hari ini.

( Humas Pemkab Wajo )

Sekretaris Daerah Kabupaten Wajo membuka Acara Sosialisasi tentang Danau Tempe, ini harapannya.

WAJO – Acara Sosialisasi Hasil Identifikasi dan Penguatan Aksi Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Ekosistem di Wilayah Danau Tempe, oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia yang bertempat di Hotel Sermani Sengkang, Kamis 29 Agustus 2019 dan akan berlangsung sampai dengan 30 Agustus 2019.

Ekosistem Danau Tempe merupakan salah satu danau prioritas yang perlu diselamatkan karena tingkat kerusakannya berupa sedimentasi yang cukup tinggi dan merupakan ekosistem yang sangat berpengaruh terhadap ketahanan ekonomi serta ketahanan sosial dan sumber kehidupan masyarakat di wilayah sekitarnya.

Danau Tempe meliputi wilayah tiga kabupaten, yakni Wajo, Sidenreng Rapang (Sidrap), Soppeng, namun dari ketiga kabupaten tersebut, Kabupaten Wajo yang wilayahnya paling luas berada di tepi Danau Tempe sehingga kondisi ekosistem Danau Tempe sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi, sosial, budaya masyarakat Kabupaten Wajo.

Sambutan dari Sekretaris Daerah Kabupaten Wajo H. Amiruddin A, S.Sos., M.M. menyampaikan ucapan selamat datang serta salam hormat dan permohonan maaf dari Bapak Bupati Wajo atas ketidak hadirannya, yang mana sebenarnya berkehendak hadir pada acara ini, tapi karena ada acara bersamaan sehingga mewakilkannya.

“Kekayaan alam yang luar biasa ada di Danau Tempe, dan tantangannya dengan perubahan iklim di masa mendatang, bagaimana kita adakan kegiatan ilmiah untuk mengkajinya,” ungkap H. Amiruddin A, S.Sos., M.M.

“Mewakili Pemerintah Kabupaten Wajo, kami ucapkan selamat datang di Kabupaten Wajo kepada perwakikan Kabupaten Bone, Soppeng dan Sidrap sebagai penikmat atau penerima dampak dari pada Danau Tempe,” Sekretaris Daerah Kabupaten Wajo menambahkan.

Lebih lanjut dikatakatakan kalau tanggung jawab moral secara aktif sesuai bidang tugas dalam menyikapi dampak dari pada Danau Tempe dan sering didengar, kalau Danau Tempe adalah cermin raksasa dan merupakan Danau tektonik dan memiliki keunikan tersendiri, sehingga ekosistemnya juga punya keunikan tersendiri, Danau Tempe jadi proyek nasional di Indonesia, buktinya Kementerian lingkungan hidup datang ke sini untuk melakukan kajian, terangnya.

“Makanya hari ini dilakukan sosialisasi dan diharapkan hasil ini jadi petunjuk awal bagi kita, Danau Tempe itu seperti apa dan ada Buku yang diterbitkan tentang hal ini,” tutur H. Amiruddn A, S.Sos., M.M.

Lebih lanjut dijelaskan kalau Danau Tempe ini merupakan pengembangan terintegrasi, bagaimana memanfaatkan sumber daya airnya, bagaimana sumber daya yang melimpah ini dikelola dengan baik jangan cuma jadi bencana, bagaimana di sektor pertanian dimanfaatkan, ini yang yang bisa juga manfaatkan di sisi pariwisata.

Juga dikatakan kalau di Wajo sudah diadakan revitalisasi dan ada tiga pulau yang terbentuk, dan oleh Bapak Bupati Wajo akan dijadikan destinasi wisata terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan, akan nantinya dikelola sumber daya Danau Tempe sehingga menjadi destinasi wisata di Sulawesi Selatan, di sini manajemen dan keterlibatan usaha mikro atau kecil, stakeholder untuk ambil peran dan bersinergi, jangan ada ego sektoral, harus berkolaborasi bersama, bentuk forum yang dianggap lintas sektor.

“Budaya Maccera Tappareng, Bungka Toddo, Makkoti merupakan warisan budaya dan istilah ini merupakan kearifan lokal yang tumbuh bersama keberadaan Danau Tempe sekarang,” paparnya.

Ada program SERASI juga dari Kementerian dan dibuka langsung oleh Bupati Wajo beberapa waktu yang lalu dengan mengundang beberapa Kabupaten tetangga, kegiatan ini juga terintegrasi melalui Kementerian Pertanian, ini bisa dioptimalkan supaya bisa terakselerasi dengan pertanian di Kabupaten Wajo, dikelola dengan baik supaya jangan terbuang percuma airnya, diberikan sentuhan teknologi sehingga mudah mudahan program serasi dapat lancar dan terprogram dengan baik.

Juga dikatakan kalau Danau Tempe pernah dikenal dengan nama mangkok ikan, dan seiring adanya sedimentasi hal ini sudah berubah juga, ada ikan sapu-sapu yang berkembang di Danau Tempe, ini bisa berguna atau tidak, bagaimana ikan ini bisa dimanfaatkan, karena ikan ini menjadi ikan pengganggu.

“Harapan kami dalam kegiatan sosialisasi ini Pemerintah Wajo berharap ini jadi pedoman sebagai urusan pemerintahan dari sisi mandatori, sisi pendidikan, kesehatan yang saling terhubung, dan berharap dari 3 kabupaten yang diundang agar punya pikiran yang sama, ingin menjadikan Danau Tempe jadi ekosistem yang terintegrasi dari sisi pemukiman, sosial, ekonomi, budaya dan pariwisata serta bagaimana 4 Kabupaten ini bisa mengawal Danau Tempe dengan baik,” tutup Sekretaris Daerah Kabupaten Wajo di Akhir sambutannya.

Dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLHK diwakili oleh Kasubdit Adaptasi Ekologi Alami, Nuraeni, S. Hut, MES mengatakan bahwa dalam rangka mensosialisasikan hasil identifikasi tersebut, serta untuk mendorong kegiatan aksi adaptasi perubahan iklim berbasis ekosistem di wilayah Danau Tempe.

Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim akan menyelenggarakan kegiatan Pendampingan Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Ekosistem berupa sosialisasi hasil tersebut dan melakukan penguatan upaya aksi adaptasi berbasis ekosistem.

“Kegiatan dilaksanakan di dua lokasi yakni di Kota Makassar dan Kota Sengkang Kabupaten Wajo. Kegiatan di Kota Makassar dilakukan dengan mengundang Kelompok Kerja Danau Tempe, sedangkan kegiatan di Kota Sengkang, Wajo dilakukan dengan mengundang berbagai para pemangku kepentingan di wilayah ekosistem Danau Tempe seperti dinas atau organisasi pemerintah daerah terkait, kepala desa dan tokoh masyarakat serta lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan'” kata Nuraeni, S. Hut, MES.

Dan dijelaskan kalau tujuan dari rangkaian acara ini adalah untuk mengenalkan pentingnya pertimbangan perubahan iklim dalam pengelolaan ekosistem Danau Tempe yang berkelanjutan; Mendorong pengelolaan ekosistem Danau Tempe yang berketahanan iklim, sehingga mampu memberikan jasa layanan dalam mendukung ketahanan iklim wilayah sekitar Danau Tempe.

Adapun narasumber selama kegiatan ini dari Direktorat Adaptasi Perubahan IklimDr. Perdinan (Fakultas MIPA IPB) LSM Menuju Indonesia Hijau dan Hardi buhaerah (lokasi proklim Poleonro Bone) Ridwan (USAID – APIK).

Juga dalam acara ini hadir dari beberapa Kepala Dinas di Kabupaten Wajo diantaranya Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Wajo Andi Muh. Baso Iqbal, S.T., M.Si. dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Wajo Drs. H. Andi Darmawangsah, M.Si. serta beberapa dari Perangkat Daerah Kabupaten Wajo serta beberapa Pejabat dan Perangkat Daerah dari Kabupaten Sidrap, Sopeng dan Bone.

( Humas Pemkab Wajo )

Sering curi Helm Di Parkiran pemuda ini Diamankan Resmob Polres Sinjai

Sinjai – Seorang pria inisial WY (26), yang diduga keras sebagai spesialis pelaku pencurian Helm di area parkir kendaraan roda dua. Terpaksa harus berurusan dengan aparat Kepolisian dari Polres Sinjai, setelah aksinya dapat dibongkar petugas.

WY, yang diketahui berprofesi sebagai pengangguran dan berasal dari Kecamatan Bulupoddo – Sinjai tersebut, hanya mampu tertunduk lesu tak berdaya, ketika digelandang petugas kepolisian menuju dinginnya Hotel Prodeo (bui) Polres Sinjai.

Kapolres Sinjai, AKBP Sebpril Sesa, SIK, membenarkan bahwa pihaknya berhasil mengamankan seorang terduga kuat sebagai spesialis pelaku pencurian Helm (WY), yang meresahkan masyarakat di wilayah hukumnya.

“Jum’at (30/8), Unit Resmob Polres Sinjai dipimpin langsung Kanit Resmob, Ipda Sangkala, SH, melakukan penangkapan terhadap pelaku pencurian pria inisial WY (26) asal Dusun barang, Desa Lamatti Riattang, Kecamatan Bulupoddo, Sinjai,” ujarnya

Menurut perwira menengah Polri Alumnus Akademi Kepolisian tahun 1998 itu, penangkapan pelaku (WY) berawal dari unit Resmob yang mendapatkan informasi bahwa pelaku pencurian yang terjadi di depan RSUD Sinjai, depan puskesmas Balangnipa, Indomaret Tangka, Indomaret Lappa dan depan Polres Sinjai, sedang berada di kelurahan Lappa, Kecamatan Sinjai Utara.

“Berbekal informasi tersebut, team langsung bergerak dan melakukan penangkapan terhadap Pelaku berikut barang bukti (BB) yang turut di amankan dari pelaku diantaranya, 3 (tiga) buah helm KYT (hasil curian). 20 (dua puluh) bungkus rokok (hasil curian). 2 (dua) bungkus so good (hasil curian). 4 (empat) botol farfum (hasil curian). 1 (satu) bungkus gula (hasil curian),” bebernya, lengkap.

“Termasuk, 1 lembar baju kaos warna merah 1 buah jaket warna abu-abu silver 1 Lembar celana panjang warna coklat. 1 buah tas warna hitam. 1 pasang sepatu merek nike warna abu-abu. 1 (satu) unit motor yamaha xride warna hitam DD 6640 BV (motor yang digunakan). Uang pecahan Rp.50.000 2 lembar (hasil jual helm). uang pecahan Rp.10.000 ada 2 lembar dan 1 lembar uang Rp.2.000 (hasil jual helm),” katanya, menambahkan.

Sementara itu, Kanit Resmob Polres Sinjai, Ipda Sangkala, SH, menjelaskan, dari hasil Introgasi pihaknya terhadap pelaku WY, Pelaku mengakui bahwa Ia telah melakukan pencurian Helm sebanyak 37 (tiga puluh tujuh) kali dengan lokasi atau tempat kejadian perkara (TKP) yang berbeda-beda tempat.

“Dari pengakuan Pelaku telah melakukan pencurian di depan rumah sakit sebanyak 15 kali. Depan puskesmas sebanyak 12 kali. Depan Polres Sinjai 1 kali. Depan sekolah SMK 9 kali. Selain dari Helm, pelaku juga mengakui bahwa Ia melakukan pencurian rokok di toko dan parfum di Indomaret. Selanjutnya, Pelaku di amankan di Polres Sinjai, guna proses hukum lebih lanjut,” pungkasnya.

Irwan N Raju
Kontributor berandankrinews.com