Kapolres Nunukan Tekankan Sinergi Tokoh Masyarakat, Personil Masih Kekurangan 50% untuk Jaga Wilayah Perbatasan
NUNUKAN – Kepala Kepolisian Resor Nunukan Polda Kalimantan Utara, AKBP Ruslaeni, S.H., S.I.K., M.H., melakukan kunjungan kerja ke Polsek Nunukan, Selasa (1/9/2026). Kunjungan ini bertujuan meninjau kinerja sekaligus mempererat sinergi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban wilayah perbatasan.
Polsek Nunukan berada di tengah keramaian kota dan menjadi garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Karena itu, penguatan kerja sama lintas elemen menjadi hal penting.
Kapolres menyampaikan kondisi krusial yang dihadapi kepolisian di wilayah perbatasan. Jumlah personil Polres Nunukan saat ini masih kekurangan sekitar 50 persen dari kebutuhan ideal untuk mengamankan wilayah seluas 14.250 km² yang terdiri dari daratan, kepulauan, dan berbatasan langsung dengan Malaysia.
“Kami memohon bantuan Bapak-Bapak tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban. Dengan jumlah personil terbatas, tanpa dukungan masyarakat kami tidak bisa bekerja maksimal. Namun kekurangan ini tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap melayani dan menjaga keamanan masyarakat,” tegas Kapolres.
Mengingat posisi Nunukan sebagai pintu masuk perbatasan, Kapolres mengingatkan wilayah ini rentan menjadi jalur peredaran barang haram. Ia menekankan agar tidak ada personil yang menjadi “pembuka jalan”, pelindung, atau terlibat langsung dalam peredaran narkoba.
Selain narkoba, Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) juga menjadi perhatian serius. Nunukan kerap menjadi pintu masuk korban TPPO yang sebagian besar berasal dari luar Kalimantan seperti Sulawesi dan wilayah Timur.
“Saya harap rekan-rekan jangan menjadi bagian dari TPPO. Ini sudah menjadi atensi pimpinan hingga tingkat Presiden. Jika memiliki informasi, laporkan melalui layanan pengaduan 110. Gratis, bebas pulsa, dan akan kami tindak lanjuti dengan cepat,” ujarnya.
Terkait isu penghinaan berbasis suku yang viral dan memicu ketegangan pada Agustus lalu, Kapolres mengapresiasi kearifan tokoh agama dan tokoh masyarakat yang mampu meredam situasi.
“Informasi tersebut tidak benar dan merupakan rekayasa untuk memecah belah. Di daerah lain hal serupa memicu kerusuhan. Namun di Nunukan, berkat kesatuan kita bisa melewatinya dengan baik. Mari jaga persatuan. Jangan mudah terprovokasi informasi yang belum tentu benar, apalagi di era media sosial,” pesannya.
Kapolres juga menyampaikan pesan Kapolda Kaltara: “Jangan pernah menyakiti hati masyarakat. Apa yang tidak ingin kita rasakan, jangan lakukan kepada orang lain.” Ia meminta seluruh personil bersikap transparan, profesional, dan rendah hati dalam melayani, karena masyarakat kini juga bisa mengawasi kinerja polisi melalui media sosial.
Terkait penanganan perkara, Kapolres meminta penyidik segera melimpahkan berkas yang sudah P21 ke Kejaksaan Negeri. Hal ini mengingat keterbatasan anggaran makanan tahanan bulan Agustus yang sudah habis.
Kapolres juga menyampaikan beberapa imbauan:
1. Hiburan malam: Turunkan volume musik setelah pukul 23.00 agar tidak mengganggu warga dan mencegah konflik
2. Karhutla: Hindari pembakaran lahan di musim kemarau. Jika terpaksa, lakukan secara terkendali dan diawasi
3. Sarana: Gedung Polsek Nunukan sudah tua. Pemda dan Polri sedang berupaya agar pembangunan gedung baru terealisasi tahun depan
Menutup sambutan, Kapolres menegaskan seleksi penerimaan anggota Polri tidak dipungut biaya.
“Jangan percaya oknum yang menjanjikan kelulusan dengan bayaran ratusan juta. Jangan sampai ada orang tua menjual kebun, sawah, atau ternak demi biaya masuk Polri. Itu penipuan. Laporkan langsung kepada saya. Siapkan anak-anak kita dengan belajar dan berlatih, bukan dengan uang,” tegasnya.
Kunjungan kerja ini diharapkan memperkuat silaturahmi dan kerja sama antara kepolisian dengan seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Nunukan, demi mewujudkan wilayah perbatasan yang aman, damai, dan sejahtera.
Padli/admin
