NUNUKAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan melaporkan kondisi ekonomi regional terus mengalami pergerakan harga pada Mei 2026. Secara umum, harga berbagai komoditas masih menunjukkan tren kenaikan dengan tingkat inflasi *year-on-year* (y-on-y) tercatat sebesar 2,03 persen. Angka ini didasarkan pada kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,89 pada Mei 2025 menjadi 111,1 pada Mei 2026.
*Analisis Kelompok Pengeluaran*
Kenaikan inflasi tahunan ini terjadi karena adanya kenaikan harga yang tercermin dari naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatatkan kenaikan tertinggi hingga 7,79 persen , diikuti oleh kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran sebesar 5 persen. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga juga naik sebesar 2,53 persen.
Beberapa kelompok lain yang turut memberikan andil inflasi antara lain:
1. Makanan, Minuman dan Tembakau: naik 1,56 persen.
2. Transportasi: naik 1,09 persen.
3. Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga: naik 0,95 persen.
4. Kesehatan: naik 0,56 persen.
Sementara itu, kelompok pendidikan justru menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan indeks atau deflasi sebesar 0,03 persen.
*Komoditas Pendorong Inflasi*
Berdasarkan komoditas spesifik, emas perhiasan menjadi penyumbang andil inflasi tahunan (y-on-y) tertinggi mencapai 0,38 persen. Di sektor pangan dan jasa, komoditas seperti beras (0,29 persen) , nasi dengan lauk (0,24 persen) , dan tomat (0,23 persen) juga memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan harga. Selain itu, kenaikan harga komoditas seperti sigaret kretek mesin (SKM), daging ayam ras, hingga kontrak rumah turut memperkuat tekanan inflasi tahunan di wilayah ini.
*Kondisi Bulanan dan Tahun Kalender*
Meskipun inflasi tahunan meningkat, data BPS menunjukkan adanya deflasi secara *month-to-month* (m-to-m) sebesar 0,03 persen pada Mei 2026. Hal ini mengindikasikan adanya penurunan harga komoditas tertentu jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sementara itu, tingkat inflasi tahun kalender (*year-to-date*/y-to-d) berada di angka 1,61 persen.
Sebagai komoditas penyumbang utama terhadap deflasi bulanan (m-to-m), komoditas beras justru memberikan andil negatif atau deflasi bulanan yang cukup meredam gejolak harga komoditas lainnya.
Dengan kondisi ini, kelompok pengeluaran seperti makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi perhatian utama karena memiliki andil inflasi y-on-y sebesar 0,62 persen , yang didorong kuat oleh subkelompok rokok dan tembakau (2,42 persen) serta subkelompok makanan (1,51 persen). BPS juga mencatat kenaikan pada biaya kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan; rekreasi, olahraga, dan budaya; hingga pakaian dan alas kaki yang meskipun kecil, tetap berkontribusi pada pergerakan IHK di Kabupaten Nunukan.
(*)
