Pelindo Sebut Rumput Laut Tak Berdokumen, Balai Karantina Perikanan Bantah Jika Pelindo Asal Bicara

Bukti Nota Tagihan Barang Non Dokumen Pelindo

Nunukan-Adanya Pembayaran Nota tagihan barang non dokumen yang dikeluarkan oleh PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) Cabang Nunukan tahun 2019.

Menjadi sorotan bagi sopir truk dan pedagang yang memuat barang baik dari Kapal untuk dibawa keluar atau sebaliknya, pasalnya ada beberapa pungutan yang diberlakukan Pelindo, saat memasuki pintu gerbang membayar Rp. 5000, dari halaman parkir masuk ke dermaga sopir harus membayar lagi Rp. 5000, dan jasa TO Rp.15.000, serta Nota Tagihan barang non dokumen sebesar Rp. 75.000 dimasa kepemimpinan Muhammad Ilyas.

Namun setelah berganti Kepemimpinan GM Pelindo, yang saat ini dipimpin Teguh Firdaus, Nota Tagihan Barang Non dokumen tarifnya meningkat menjadi Rp. 150.000 sekali jalan.

Manager Operasi PT Pelindo IV cabang Nunukan, Damsi mengatakan, sopir truk membayar Rp. 95.000, dari dermaga ke Kapal itu Rp. 5000, dari Pintu Masuk ke Halaman Rp. 5000 dan jasa terminal TO Rp. 15.000 dan yang Rp 75.000 itu non dokumen.

“Non dokumen ini jenis barang yang dari kapal keluar tanpa agen maupun yang dari luar naik ke Kapal, misalnya barang dari Nunukan mau dimuat dikapal langsung itukan tanpa manifest, itu tanpa agen, berbeda dengan kapal kargo itu ada agennya,”ujar Damsi.

Disebutkan Damsi, barang yang tanpa dokumen salah satunya Rumput laut yang ditagih perorang bukan secara manifest.

“Barang tanpa manifest yaitu rumput laut karena tidak ditagih manifest tetapi satu orang, karena pemilik barang satu orang satu truk,” jelas Damsi.

Menurutnya hal ini dilakukan karena pendapatan Pelindo Nunukan tidak mencapai, dengan pembangunan terminal yang baru mencapai Rp 70 M ditambah area dan parkir yang sementara di kerjakan mencapai Rp 11 M.

“Jadi kita disini dari kantor pusat untuk cabang Nunukan itu diintruksikan bagaimana cari pendapatan peluang untuk meningkatkan pelabuhan Nunukan lebih baik dan lebih bagus lagi,” katanya.

Dia juga menambahkan, sebelumnya juga ini telah disosialisasikan, namun hanya beberapa saja yang hadir dari pedagang.

“Rapat kemarin kan ada KSOP dan KSKP yang hadir serta beberapa pedagang, namun yang tidak hadir kita anggap setuju, karena yang hadir setuju. Jadi kita sepakat waktu itu,”kata Damsi.

Sementara pihak Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Tarakan Wilker Nunukan saat dikonfirmasi terkait dokumen rumput laut yang akan di ekspor itu telah diberikan dokumen saat akan berangkat.

Bukti dokumen rumput laut

“Salah sekali kalau pihak Pelindo mengatakan rumput laut tidak berdokumen, jadi setiap pengiriman rumput laut pasti ada dokumennya,” jelas Petugas Karantina.

Lanjutnya, jadi setiap ada kapal datang baik siang, malam atau subuh, mereka sudah laporan ke Kami sebelum barangnya masuk ke Pelabuhan.

“Kami menerbitkan dokumen tersebut setelah barang itu dipelabuhan, kalau kapal roro itu kita buatkan dokumennya di hari keberangkatan kapal setelah pemuatan ke Kapal,” tambah petugas Karantina. (Red)

Pihak Dishub Berupaya Carikan Solusi Agar Perahu Terus Beroperasi

Nunukan-Dermaga Apung Mentikas di Desa Binalawan yang sejak tahun 2017 difungsikan kini sementara ditutup.

Dermaga Apung yang memakan anggaran Rp 2 Miliar lebih tersebut yang baru difungsikan beberapa tahun kini dalam keadaan rusak parah diakibatkan oleh gelombang dan pastinya kurang perawatan dari Instansi terkait.

Kepala Seksi Kepelabuhanan dan Penunjang Keselamatan Pelayaran pada Dinas Perhubungan Nunukan, Lisman saat dikonfirmasi diruang kerjanya mengatakan, Dermaga Apung Binalawan sudah disurvei oleh tim Aset, untuk mengantisipasinya, pimpinan memberikan untuk dialihkan ke Pelabuhan Penyeberangan di Liang Bunyu.

“Semua pelayaran promotor yang mengangkut motor semua harus lewat kapal Ferry, tidak bisa naik kapal motor dan itu sangat menyalahkan,” kata Lisman, Senin (6/8/19).

Analisis saya, kata Lisman tetap dialihkan ke Dermaga Liang Bunyu supaya roda perekonomian tetap jalan.

“Terkait Jadwal Ferry sementara ini mau dibahas, intinya kita menunggu dari Kepala Bidang kami apa keputusannya hasil survei di Sebatik. Yang jelas masalah kendaraan ini harus melalui Jalur kapal Ferry tidak boleh melalui Mentikas itu sangat menyalahi prosedur” jelasnya.

Kesalahan prosedurnya, perahu motor ini bukan perahu angkut motor tetapi angkut orang, kata Lisman “kita utamakan keselamatan orang terutama yang motor ini, memang enak dirasakan orang tetapi salah prosedurnya,” Ungkapnya.

Jelas sudah diatur dalam UU pelayaran, Keselamatan itu tidak bisa ditawar-tawar, “ini sudah di atur nomor 17 tahun 2008,” tegasnya.

Namun Lisman menuturkan Dishub akan berupaya untuk mensinkronkan agar berjalan, mungkin diusulkan di Liang Bunyu sehingga beroperasi terus. Sebenarnya tidak dipindah namun karena kondisi rusak jadi harus di alihkan dulu.

“Saya berharap kita sama bijak melihat kondisi dermaga ini rusak dan sama-sama kita mencari solusi untuk dipindahkan sementara ke Liang Bunyu, mudah-mudahan masyarakat mau menerima sehingga bisa berjalan terus,”Tandasnya. (Win)

26 Pasutri di Desa Balansiku Ikuti Sidang Isbat Nikah Gratis

Nunukan (Kaltara) – Sebanyak 26 pasangan suami istri warga Desa Balansiku Kecamatan Sebatik yang belum memiliki legalitas pernikahan melakukan isbat nikah secara gratis di Balai Desa Balansiku, Senin (5/8/19).

Guna mengurangi jumlah pasangan suami istri yang belum disahkan secara hukum dan taat Administrasi, Desa Balansiku bekerjasama dengan Kemenag Kabupaten Nunukan menggelar sidang isbat.

Sidang Isbat ini merupakan program desa Balansiku di anggaran APBDes tahun 2019 melalui Dana Desa Pemberdayaan masyarakat desa.

Kepala Desa Balansiku H Firman mengatakan, kami sebagai pemerintah desa melihat masih ada banyak warga kami yang tidak memiliki buku nikah, sekitar 30 Kepala Keluarga yang belum memiliki.

Dari 30 Kepala Keluarga ini yang lolos hanya 26 yang empat itu kemungkinan dari masalah belum cerai dari pasangan lamanya.

“Hal ini kami lakukan sebagai salah satu ketertiban administrasi kependudukan, tahun lalu kami sebelumnya menganggarkan di Akta Kelahiran secara gratis melalui Alokasi dana desa, dan tahun ini selaku kepala desa, Saya mengambil Kebijakan untuk menganggarakan Akta Nikah di APBDes 2019 melalui Dana Desa,” Jelas Firman.

Menurut Firman, Sidang Isbat Nikah Gratis ini pertama kali dilakukan di Kabupaten Nunukan, Kaltara dengan mengalokasikan dana desa untuk pemberdayaan masyarakat.

“Ini kata Pengadilan Agama, Pertama kalinya salah satu desa di Nunukan, Kaltara yang melakukan sidang isbat dengan mengalokasikan dana desa,”tutur Firman.

Meskipun Desa lainnya ada yang melakukan sidang isbat, namun kata Firman, warganya membayar Rp 626 ribu, berbeda dengan Balansiku semua digratiskan.

Dia juga berencana akan memprogramkan BPJS gratis untuk warganya jika BUMDes nya berhasil.

“Saya berencana akan memberikan BPJS Gratis bagi warga kurang mampu, jika BUMDes Balansiku berhasil mengangkat APBDes Balansiku, karena untuk tertib administrasi saya rasa sudah cukup lengkap,” ujar Firman.

Firman berharap Masyarakat Desa Balansiku terus mendukung program pemerintah agar terus memberikan inovasi yang baik.

“Harapan saya masyarakat terus mendukung program pemerintah dan terus mendoakan kami, supaya bisa memikirkan dan memberikan inovasi baru, seperti rencana saya, andaikan bumdes kami berhasil kami akan berikan bpjs gratis,” tukas Firman.

Sementara itu, Ketua RT 02, Burhan menuturkan, dengan program yang dilakukan pak Kades ini sangat baik, warga senang dengan adanya sidang isbat nikah gratis.

“Masyarakat menyambut baik pak, karena nikah gratis, yang kami dengar di desa lain itu bayar, jadi sangat berterima kasih kepada pak kades sudah menganggarkan,” tutur Burhan. (OV)

Tangga Dermaga Apung Binalawan Runtuh, zainal: Masyarakat Swadaya Bangun Tangga Sementara

Nunukan (Kaltara)- pertemuan antara Camat Sebatik Barat bersama unsur muspika diruang pertemuan kantor camat Sebatik Barat, Senin (5/8/19).

Adapun pertemuan tersebut membahas tentang kerusakan dan solusi bagaimana caranya penanganan dermaga Binalawan agar pelayanan tetap berjalan normal seperti biasa.

Kepala UPTD LLA Dishub Sebatik Zainal Abidinsyah, SE mengatakan, dua dermaga yang dulu bisa kita gunakan sekarang tidak bisa lagi, karena dermaga muara sungai perahu tidak bisa sandar saat air surut.

Dermaga Apung Binalawan Bugis sudah rusak dermaganya dan masyarakat tidak mau karena mengganggu aktivitas perumput laut, jadi penyambang Binalawan maunya tetap di Binalawan, kata Zainal.

“Mereka swadaya membuat tangga turun naik sementara menunggu tindaklanjut Pemda Nunukan. Karena dermaga itu dikelola pemda dalam hal ini UPTD Dishub Sebatik,” Kata Zainal

Dari hasil musyawarah yang dihadiri Camat Sebatik Sarat Drs Darwin M.Si, Kapolsek Sebatik Barat, AKP Oman, Kepala UPT LLA Dinas Perhubungan Sebatik, Zainal Abidinsyah, SE, Sekcam Sebatik Barat, Sawaluddin, SH, Kepala Pos Binalawan, Abdul Kahar, SST. Mar dan Unsur Muspika Kecamatan Sebatik Barat Serta Tokoh Masyarakat dan Topa Kecamatan Sebatik Barat, sejumlah unsur muspika kecamatan sebatik barat bersama-sama meninjau lokasi fisik dermaga.

“Kita menutup mengunakan dermaga Binalawan, kita membuka tangga fleksibel dermaga apung untuk menhindari kerusakan yang lebih parah ketempat yang lebih aman, dan memasang tangga darurat untuk sementara waktu di sisi kiri dermaga agar aktivitas penyebrangan tetap berjalan normal seperti biasa,”Ujar Zainal. (Dhian)

Pedagang Atribut Kemerdekaan RI Mengeluh Pembeli Sepi

Nunukan-Mendekati peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), pedagang pernak-pernik kemerdekaan di Nunukan mulai membuka lapaknya di beberapa sudut kota. Seperti di Jalan Pasir Putih, Jalan Patimmura, Jalan Tvri, Jalan Antasari dan Tugu Simpang pertigaan Nunukan, Senin (5/8/2019).

Salah satu pedagang musiman bernama Deny Hardiansyah yang menjual berbagai atribut menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI seperti bendera merah putih, umbul-umbul dan lainnya mengatakan sejak tiga hari yang lalu sudah mulai berjualan di Jalan RA. Kartini

“Saya baru tiga hari berjualan. Karena ini musiman dan memasuki hut Kemerdekaan RI ,” ujar Deny (32) yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat.

Menurutnya sejak jualan hingga saat ini, mulai pagi hingga sore antusias masyarakat sepertinya kurang.

“Selama tiga hari berjualan masih terhitung sepi, antusias warga kurang, kemungkinan dari segi keuangan atau mungkin belum waktunya sudah jualan atau Nasionalismenya yang belum berkobar. Kemungkinan pembeli akan ramai saat mendekati Hari Kemerdekaan, yah tunggu tanggal 10 hingga 15 nanti dilihat,”jelasnya.

Adapun, harga bendera yang di jual sangat bervariasi. Dari harga 10 ribu, 35 ribu, hingga 350 ribu.

“Harga bendera berbeda-beda tergantung ukuran. Ada yang Rp 10 ribu sampai Rp 350 ribu. Kalau umbul-umbul mulai Rp 35 ribu dan model Plafon Rp 350 ribu,” ujarnya.

Deni juga menambahkan, jika dibandingkan tahun lalu dan sekarang, lebih ramai tahun lalu dibandingkan tahun ini.

“Kalau tahun lalu ramai, dibanding tahun ini, Mudah-mudahan beberapa hari kedepan ramailah,” kata Deny. (OV)