H.Ladullah dorong Penguatan Basis Ekonomi Produktif, Kurangi Ketergantungan Transfer Pusat

TANJUNG SELOR — Ketua Fraksi PKS DPRD Kalimantan Utara (Kaltara) Ladullah, menilai tingginya pendapatan transfer dari pemerintah pusat—yang pada tahun 2026 mencapai Rp1,248 triliun—menunjukkan bahwa struktur fiskal daerah masih belum sepenuhnya mandiri.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut masih tergolong wajar bagi daerah yang sedang berkembang.

Menurut Ladullah, ketergantungan ini seharusnya dipandang sebagai ruang perbaikan yang dapat dikelola secara bertahap, ke depannya.

“Kaltara masih berada dalam fase pembangunan. Karena itu, ketergantungan pada transfer pusat dapat dimaklumi, namun tetap perlu dipersiapkan strategi jangka panjang untuk menguranginya,” ujar anggota DPRD asal Nunukan itu.

Fraksi PKS, kata dia, mendorong penguatan basis ekonomi produktif sebagai langkah awal. Upaya tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kapasitas ekonomi daerah dan meningkatkan kontribusi sektor-sektor unggulan.

Selain itu, Ladullah menilai pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi baru penting untuk memperluas aktivitas ekonomi di luar wilayah yang sudah berkembang. Dengan adanya titik-titik pertumbuhan baru, daya dorong ekonomi daerah diyakini akan semakin merata.

Ia menyampaikan bahwa peningkatan investasi yang berkelanjutan perlu menjadi perhatian. Iklim investasi yang kondusif, kata dia, dapat membantu memperkuat struktur ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan pada transfer pusat secara perlahan.

“Yang penting, semua dilakukan dengan pendekatan yang hati-hati dan tetap mempertimbangkan kemampuan daerah,” imbuhnya.

(Humas DPRD Kaltara)

Vamelia Komisi IV DPRD Harap Pemprov Jaga Pemerataan Sarana Prasarana pendidikan di Kaltara

TANJUNG SELOR – Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Utara (Kaltara) Vamelia, meminta pemerintah provinsi (Pemprov) menjaga pemerataan sarana prasarana pendidikan, terutama di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).

Vamelia, yang merupakan anggota Fraksi PKB-NasDem-PAN DPRD Kaltara ini, menilai pembangunan pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam belanja daerah agar semua anak di Kaltara memiliki akses setara terhadap fasilitas belajar yang memadai.

“Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara diharapkan tetap menjaga pemerataan sarana prasarana pendidikan, terutama di wilayah 3T,” kata Vamelia.

Menurut Fraksi, saat ini masih terdapat kesenjangan fasilitas pendidikan antarwilayah. Oleh karena itu, alokasi anggaran harus mempertimbangkan kebutuhan nyata di lapangan agar pembangunan pendidikan lebih merata.

Fraksi menekankan pentingnya perencanaan yang berbasis data agar setiap investasi di sektor pendidikan memberikan manfaat maksimal. Pemeliharaan fasilitas juga harus menjadi bagian dari anggaran agar kualitas pendidikan tetap terjaga.

Vamelia menambahkan, ketersediaan fasilitas pendidikan yang merata menjadi kunci peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kaltara.

“Pemprov Kaltara harus dapat memastikan pembangunan dan pemerataan pendidikan menjadi program strategis yang terus diperhatikan setiap tahunnya,” imbuh dia.

(Humas DPRD Kaltara)

Apresiasi DPRD Kaltara Terhadap Pemprov Atas Penerapan Sistem Satu Data Daerah

TANJUNG SELOR — Apresiasi diberikan Wakil Ketua DPRD Kalimantan Utara (Kaltara), H Muhammad Nasir terhadap langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara yang mengimplementasikan Satu Data Daerah (SDD), sebagai fondasi perencanaan pembangunan yang lebih akurat dan terintegrasi.

Muhammad Nasir mengatakan, penerapan SDD sejalan dengan regulasi nasional. Yakni sesuai Perpres Nomor 39 Tahun 2019, tentang Satu Data Indonesia serta Permendagri Nomor 5 Tahun 2024 tentang Satu Data Pemerintahan Dalam Negeri.

Menurutnya, kepatuhan terhadap regulasi tidak hanya menunjukkan keseriusan daerah dalam tata kelola data, tetapi juga menjadi dasar penting bagi penyusunan kebijakan yang berbasis fakta.

Politisi Partai Golkar ini menjelaskan, langkah strategis Pemprov berikutnya adalah penetapan Data Statistik Sektoral Tahun 2024.

“Data statistik itu sudah ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur Kaltara Nomor 100.3.3.1.220/2024,” jelasnya.

Penetapan tersebut, lanjut Muhammad Nasir, memastikan setiap organisasi perangkat daerah (OPD) memiliki rujukan data yang sama dalam menjalankan program. Tak hanya itu, Pemprov juga mulai memanfaatkan data tersebut untuk perencanaan tahun 2025.

“Perencanaan sudah memanfaatkan platform E-DATAKU Sidara Cantik 2.0 yang menjadi pusat integrasi data sektoral,” katanya.

Nasir menilai langkah ini sebagai kemajuan signifikan menuju pemerintahan daerah yang berbasis teknologi dan data mutakhir. Ia berharap Pemprov terus memperkuat koordinasi dengan seluruh OPD agar SDD tidak sekadar menjadi sistem, tetapi benar-benar menjadi budaya kerja.

“Kami di DPRD siap mendukung, sepanjang hasilnya memperkuat kualitas pembangunan dan pelayanan publik,” ungkapnya.

Dengan fondasi data yang semakin akurat, Nasir optimistis arah pembangunan Kaltara akan lebih tepat sasaran.
“Kalau datanya benar, maka keputusannya pasti lebih tepat,” tandasnya.

(Humas DPRD Kaltara)

DPRD Kaltara Minta Pemprov Perkuat Program Beasiswa Pendidikan di RAPBD 2026

TANJUNG SELOR — Fraksi Perjuangan Pembangunan Rakyat (FPPR) DPRD Kalimantan Utara (Kaltara) meminta pemerintah provinsi memperkuat program beasiswa pendidikan dalam R APBD 2026 mendatang.

Ketua Fraksi, H. Hamka, menekankan bahwa beasiswa harus maksimal dan tepat sasaran demi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Beasiswa harus benar-benar menyasar generasi muda yang membutuhkan, demi peningkatan kapasitas SDM di provinsi ini,” ujar anggota Dewan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

Ia menekankan pentingnya pemanfaatan anggaran pendidikan secara efektif dan berfokus pada hasil.

Hamka menambahkan, pemerintah perlu melakukan evaluasi program beasiswa sebelumnya agar alokasi dana lebih tepat.
“Kita harus memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan memberi manfaat nyata bagi penerima,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan berkualitas menjadi fondasi pembangunan jangka panjang.

“SDM yang unggul akan menentukan masa depan Kaltara, oleh karena itu investasi pendidikan harus menjadi prioritas,” tegas Hamka.

FPPR berharap seluruh tahapan pemberian beasiswa dapat dilaksanakan secara transparan, terukur, dan tepat sasaran.

“Dengan strategi yang jelas, program ini bisa menjadi motor penggerak pembangunan daerah melalui peningkatan kualitas manusia,” imbuh Hamka.

(Humas DPRD Kaltara)

Wagub Dorong Pembentukan DOB, Wujudkan Pemerataan Pembangunan di Wilayah Perbatasan

TANJUNG SELOR – Pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) di kawasan perbatasan merupakan salah satu instrumen strategis untuk mendekatkan pelayanan publik, mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan efektivitas tata kelola pemerintahan, serta membuka ruang percepatan kesejahteraan masyarakat perbatasan.

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Utara (Kaltara), Ingkong Ala, S.E., M.Si., saat menghadiri sekaligus membuka Seminar Nasional Aliansi Masyarakat Perbatasan Kalimantan Utara (AMP Kaltara), yang digelar di Balroom Hotel Luminor, Selasa (25/11).

Mengusung tema “Peluang dan Tantangan Pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) di Wilayah Perbatasan”, menurut Wagub Ingkong, isu ini sangat relevan dengan dinamika pembangunan nasional saat ini.

Wagub mengatakan Provinsi Kaltara memiliki posisi yang sangat istimewa dan strategis karena berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Daerah ini bukan hanya sekadar wilayah terluar, melainkan Beranda Depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“DOB ini bukan hanya sekadar pemekaran administratif, melainkan sebuah rekayasa kebijakan yang harus dirancang secara matang, terukur, serta berbasis pada kebutuhan dan kapasitas riil daerah,” kata Wagub.

Peluang pembentukan DOB di wilayah perbatasan sangat besar, diantaranya peningkatan akses pendidikan dan kesehatan, pemerataan pembangunan infrastruktur dasar, penguatan ekonomi lokal berbasis potensi unggulan, peningkatan investasi, serta penguatan identitas kebangsaan di wilayah yang berhadapan langsung dengan negara lain.

Disaat yang sama, terdapat tantangan yang harus dihadapi, seperti kesiapan fiskal, kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), ketersediaan infrastruktur pemerintahan, harmonisasi tata kelola, hingga stabilitas keamanan wilayah harus menjadi pertimbangan utama.

“Oleh karena itu, setiap langkah strategis harus dilandasi kajian akademik yang komprehensif dan partisipasi aktif masyarakat,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara berkomitmen untuk terus mendorong pembangunan kawasan perbatasan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

“Kami membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan pemerintah pusat, akademisi, lembaga penelitian, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen bangsa untuk merumuskan arah pembangunan kawasan perbatasan yang lebih terencana dan strategis,” ucapnya.

Wagub Ingkong mengajak seluruh peserta, akademisi, dan khususnya aliansi masyarakat perbatasan untuk menjadikan forum ini sebagai wadah kontribusi pemikiran yang konstruktif dan strategis.

“Mari kita wujudkan Kaltara yang Maju, Makmur, dan Berkelanjutan dengan DOB-nya, sebagai simbol kedaulatan, kesejahteraan, dan akselerator pembangunan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

(dksip)