Metode PMAS: Pertanian Modern Nunukan Booming, Hasil Hingga 12 Ton Per Hektar
NUNUKAN – Terobosan teknologi pertanian modern mulai diterapkan di Kabupaten Nunukan. Penyuluh Pertanian Kendarto, memperkenalkan metode PMAS (Advanced Agriculture System), sistem tanam baru yang diprediksi mampu melipatgandakan hasil panen secara signifikan dibandingkan cara konvensional, Rabu 12 Agustus 2026.
Berbeda dengan metode tanam pindah yang membutuhkan waktu penyemaian 10–20 hari, PMAS menanamkan benih yang sudah berkecambah langsung ke lahan sawah. Sistem ini memanfaatkan saluran pipa yang dilubangi untuk menyalurkan benih secara merata ke seluruh area lahan.
2 Keunggulan Utama PMAS yaitu:
Pertama, Menghemat Tenaga Kerja Drastis. Satu hektar yang sebelumnya butuh lebih dari 10 orang, kini cukup diselesaikan oleh satu orang dalam satu hari.
Kedua, Populasi Tanaman Lebih Padat. Benih disebar lebih rapat sehingga jumlah tanaman per hektar meningkat tajam.
Jenis padi yang ditanam tetap membutuhkan waktu sekitar 3 bulan atau 100–115 hari dari tanam hingga panen, sama seperti metode biasa. Namun potensi hasilnya melonjak luar biasa: dari sebelumnya 6–7 ton per hektar, metode PMAS mampu memanen 10 hingga 12 ton per hektar — peningkatan hampir dua kali lipat.
Kendarto mengakui kepadatan tanaman menuntut perawatan lebih ekstra, terutama pengendalian hama yang juga berpotensi meningkat seiring kerapatan tanaman.
Meski begitu, harapan ke depan sangat besar.
“Jika metode PMAS ini diterapkan secara luas oleh seluruh petani di Nunukan, secara langsung tingkat produksi padi daerah akan melonjak signifikan. Populasi tanaman bertambah, hasil panen pun ikut melimpah,” ujar Kendarto penuh optimisme.
Terobosan ini menjadi angin segar bagi ketahanan pangan Kabupaten Nunukan, sekaligus membuktikan bahwa teknologi pertanian modern mampu meningkatkan kesejahteraan petani di wilayah perbatasan.
Padli/admin
