Ekspresi Keagamaan di Dunia Virtual: Fenomena Ustaz Media Sosial dan Transformasi Dakwah Melalui TikTok dalam Perspektif Komunikasi Kontemporer

IMG_20260717_223955

Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk praktik keberagamaan. Jika dahulu dakwah identik dengan mimbar masjid, majelis taklim, dan ruang-ruang fisik lainnya, kini penyebaran pesan keagamaan berlangsung secara masif melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan Facebook. Fenomena lahirnya “ustaz media sosial” menunjukkan adanya transformasi komunikasi keagamaan yang semakin dipengaruhi oleh algoritma, budaya digital, dan preferensi audiens. Artikel ilmiah populer ini membahas bagaimana ekspresi keagamaan berkembang di dunia virtual, karakteristik dakwah melalui TikTok, peluang yang dihadirkan media digital, sekaligus tantangan yang muncul akibat logika viralitas yang sering kali lebih dominan dibandingkan kedalaman substansi keagamaan. Artikel ini menggunakan pendekatan kajian literatur dengan perspektif komunikasi kontemporer untuk menjelaskan perubahan pola komunikasi agama di era digital.

Kata kunci:komunikasi kontemporer, media sosial, TikTok, dakwah digital, ekspresi keagamaan.

Era digital telah menghadirkan perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi. Internet bukan lagi sekadar media penyampai informasi, tetapi telah menjadi ruang sosial baru tempat manusia membangun identitas,membentuk komunitas, bahkan mengekspresikan keyakinan keagamaan. Fenomena ini dikenal sebagai cyber religion atau praktik keberagamaan di ruang digital.

Media sosial telah menggeser batas antara ruang privat dan ruang publik.Aktivitas beribadah,berbagi kutipan kitab suci, mengikuti kajian daring, hingga berdiskusi mengenai persoalan agama kini dapat dilakukan melalui telepon genggam. Transformasi ini menunjukkan bahwa agama tidak lagi hanya hidup di ruang fisik, tetapi juga berkembang secara dinamis di ruang virtual.

Di Indonesia, perkembangan tersebut terlihat jelas melalui meningkatnya popularitas dakwah digital di TikTok. Platform yang awalnya dikenal sebagai media hiburan kini dipenuhi berbagai
konten edukasi keagamaan. Ceramah berdurasi satu hingga tiga menit mampu memperoleh jutaan penonton hanya dalam hitungan jam. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi agama telah mengikuti perubahan perilaku konsumsi media masyarakat modern.

Fenomena ustaz media sosial kemudian menjadi salah satu isu menarik dalam kajian komunikasi
kontemporer karena memperlihatkan bagaimana teknologi tidak hanya mengubah saluran komunikasi,tetapi juga mengubah bentuk pesan, otoritas komunikator, serta pola interaksi antara pendakwah dan audiens.

Media sosial pada dasarnya merupakan ruang komunikasi yang sangat demokratis. Setiap orang
memiliki kesempatan yang sama untuk memproduksi,menyebarkan, maupun mengomentari suatu informasi. Dalam konteks agama, kondisi ini menghasilkan bentuk ekspresi keagamaan yang semakin beragam.Jika dahulu masyarakat memperoleh pengetahuan agama melalui guru, ulama, atau lembaga pendidikan formal, kini informasi tersebut dapat diperoleh dari berbagai akun media sosial. Bahkan seseorang dapat mengikuti kajian dari berbagai negara tanpa harus meninggalkan rumah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa otoritas keagamaan mengalami desentralisasi. Tidak semua tokoh agama populer berasal dari institusi keagamaan formal. Sebagian memperoleh pengaruh karena kemampuan komunikasi, kreativitas membuat konten, serta kedekatan emosional dengan audiens digital.Dalam perspektif komunikasi kontemporer, perubahan tersebut merupakan konsekuensi dari berkembangnya media baru (new media), yaitu media yang memungkinkan komunikasi berlangsung secara interaktif,real time, dan partisipatif.

TikTok berkembang menjadi salah satu platform media sosial dengan tingkat pertumbuhan tercepat di dunia. Karakteristik video pendek, musik,efek visual,serta algoritma yang sangat personal menjadikan platform ini sangat efektif dalam menjangkau generasi muda.Berbeda dengan ceramah konvensional yang dapat berlangsung selama satu hingga dua jam, dakwah di TikTok harus disampaikan secara singkat, menarik, komunikatif, dan mudah dipahami. Pendakwah dituntut mampu mengemas pesan agama dalam waktu yang sangat terbatas.

Inilah yang kemudian melahirkan berbagai gaya komunikasi baru, seperti:
• dakwah melalui storytelling,
• motivasi islami,
• kutipan ayat dan hadis dalam bentuk visual,
• tanya jawab singkat,
• humor religi,
• podcast pendek,
• video refleksi kehidupan,
• hingga konten sinematik bernuansa spiritual.

Penelitian mengenai dakwah digital menunjukkan bahwa TikTok sangat efektif menarik perhatian Generasi Z karena sesuai dengan karakter mereka yang menyukai informasi visual, cepat, dan interaktif.

Istilah “ustaz media sosial” merujuk pada para pendakwah yang memperoleh popularitas melalui
platform digital dibandingkan melalui mimbar tradisional.
Popularitas mereka tidak hanya ditentukan oleh kedalaman ilmu agama, tetapi juga dipengaruhi
oleh kemampuan membangun personal branding, kualitas produksi video, gaya komunikasi, kemampuan bercerita, hingga konsistensi mengunggah konten.

Dalam komunikasi kontemporer, fenomena ini menunjukkan bergesernya konsep source
credibility. Kredibilitas komunikator tidak lagi semata-mata dibangun oleh gelar akademik atau
posisi kelembagaan, tetapi juga oleh persepsi publik yang terbentuk melalui media sosial.
Semakin tinggi jumlah pengikut (followers), semakin besar pula peluang seseorang menjadi opinion leader dalam ruang digital.

Namun demikian, popularitas belum tentu selalu berbanding lurus dengan kualitas substansi keilmuan. Kondisi inilah yang menjadi tantangan utama komunikasi agama di era digital.

Salah satu karakteristik utama media sosial adalah keberadaan algoritma.Algoritma TikTok menentukan video mana yang akan muncul pada halaman “For You Page”
berdasarkan perilaku pengguna seperti durasi menonton, jumlah komentar, likes, shares, maupun
interaksi lainnya.Akibatnya, banyak kreator dakwah menyesuaikan cara penyampaian pesan agar sesuai dengan mekanisme algoritma.

Ceramah yang emosional, kontroversial, menghibur, atau menggunakan judul yang provokatif
sering kali memperoleh jangkauan lebih luas dibandingkan kajian yang lebih mendalam.Dalam perspektif Marshall McLuhan, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa “the medium is the message”. Media tidak hanya menjadi saluran penyampaian pesan, tetapi turut membentuk isi, gaya, bahkan cara masyarakat memahami agama.

Dengan demikian, dakwah digital tidak lagi hanya dipengaruhi oleh isi pesan agama, melainkan juga oleh logika algoritma yang bekerja di balik platform.

Terlepas dari berbagai tantangan, media sosial memberikan peluang yang sangat besar bagi
perkembangan dakwah.

Pertama, jangkauan dakwah menjadi jauh lebih luas.Seorang pendakwah dapat menyampaikan pesan kepada jutaan orang tanpa harus hadir secara fisik.
Kedua, biaya penyebaran informasi menjadi sangat murah dibandingkan media konvensional.
Ketiga, komunikasi berlangsung dua arah.Audiens dapat langsung bertanya melalui kolom komentar, siaran langsung (live streaming),
maupun pesan pribadi.
Keempat,media digital memungkinkan kolaborasi antarpendakwah, lembaga pendidikan, maupun organisasi keagamaan sehingga proses penyebaran ilmu menjadi lebih cepat.Berbagai penelitian menunjukkan bahwa media sosial telah berhasil meningkatkan minat generasi muda untuk mempelajari agama melalui konten yang lebih kreatif dan mudah dipahami.

Di balik berbagai peluang tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang tidak dapat diabaikan.
Pertama, munculnya penyederhanaan ajaran agama.Karena keterbatasan durasi video, persoalan agama yang kompleks sering kali dijelaskan secara sangat singkat sehingga berpotensi menimbulkan salah tafsir.
Kedua, meningkatnya penyebaran informasi agama yang belum tentu valid.Tidak semua kreator memiliki latar belakang pendidikan keagamaan yang memadai.
Ketiga, munculnya fenomena komersialisasi dakwah.
Konten agama kadang diproduksi bukan semata-mata untuk edukasi, tetapi juga demi memperoleh
keuntungan ekonomi melalui monetisasi platform.
Keempat, adanya polarisasi akibat konten yang provokatif.
Persaingan memperoleh perhatian audiens dapat mendorong sebagian kreator menggunakan judul
sensasional atau membahas isu-isu kontroversial demi meningkatkan jumlah penonton.Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi agama di media sosial memerlukan literasi digital yang tinggi agar masyarakat mampu membedakan antara informasi yang kredibel dan informasi yang bersifat manipulatif.

Dalam kajian komunikasi kontemporer, media digital telah mengubah pola komunikasi dari model satu arah menjadi komunikasi partisipatif.Audiens bukan lagi sekadar penerima pesan (receiver), tetapi juga produsen informasi (prosumer).Setiap pengguna media sosial dapat menjadi penyampai pesan agama melalui unggahan, komentar, maupun video yang mereka buat sendiri.Perubahan ini memperlihatkan bahwa komunikasi agama semakin bersifat dialogis, interaktif, dan kolaboratif.

Namun demikian, komunikasi yang semakin terbuka juga meningkatkan kebutuhan terhadap etika
digital.Penyebaran pesan agama harus tetap mengedepankan nilai toleransi, penghormatan terhadap
perbedaan, serta menghindari ujaran kebencian maupun penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Transformasi komunikasi digital telah mengubah wajah dakwah dan ekspresi keagamaan secara
fundamental. TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai media sosial lainnya telah menjadi ruang
baru bagi penyebaran nilai-nilai keagamaan. Fenomena ustaz media sosial menunjukkan bahwa
otoritas komunikasi agama kini tidak hanya dibangun melalui institusi formal, tetapi juga melalui kemampuan beradaptasi dengan karakter media digital.
Media sosial menghadirkan peluang besar berupa perluasan jangkauan dakwah, meningkatnya partisipasi masyarakat, serta kemudahan akses terhadap pengetahuan agama. Namun, di sisi lain, media digital juga membawa tantangan berupa dominasi algoritma, komersialisasi konten,
penyederhanaan ajaran agama, hingga potensi disinformasi.
Oleh karena itu, keberhasilan dakwah digital tidak cukup hanya diukur dari jumlah penonton, likes, atau pengikut, tetapi juga dari sejauh mana pesan yang disampaikan mampu membangun
pemahaman agama yang moderat, mendalam, inklusif, dan membawa manfaat bagi kehidupan
masyarakat.

Dalam konteks komunikasi kontemporer, kemampuan mengintegrasikan teknologi
dengan etika komunikasi menjadi kunci utama agar ruang virtual benar-benar menjadi sarana
penyebaran nilai-nilai keagamaan yang mencerahkan.

(Wahyu Eko Handayani/Nn)