Harga Bahan Pokok di Pasar Melonjak Menjelang Lebaran, Cabe Rawit Tembus Rp90.000 per Kilogram

NUNUKAN – Menjelang hari raya Idul Fitri, pergerakan harga sejumlah kebutuhan pokok dan bahan baku dapur di pasar tradisional mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, lonjakan harga ini terjadi pada hampir seluruh komoditas sayuran utama, di mana permintaan masyarakat yang meningkat menjadi pemicu utama pergeseran angka harga tersebut.

Salah satu pedagang di lokasi, Ahmad, mengonfirmasi adanya perubahan harga yang cukup tajam dibandingkan hari-hari biasa. Ia menyebutkan, komoditas yang paling terasa kenaikannya adalah cabai rawit asal Sulawesi Selatan. Jika sebelumnya harga jual masih bertahan di angka Rp65.000 per kilogram, kini harga cabai tersebut melonjak hingga mencapai Rp90.000 per kilogram.

“Cabe rawit yang biasa ini sekarang sudah Rp90.000, Pak. Dulu baru Rp65.000, jadi naik lumayan banyak. Ini cabe dari Sulawesi, kualitasnya bagus tapi harganya memang ikut naik menjelang lebaran begini,” ungkap Ahmad saat ditemui di kiosnya, Senin (25/5/2026).

Selain cabai rawit, jenis cabai keriting juga turut mengalami penyesuaian harga dan kini dibanderol seharga Rp65.000 per kilogram. Kenaikan harga juga tercatat pada komoditas tomat yang sempat berada di kisaran harga jauh lebih rendah, kini melompat menjadi Rp30.000 per kilogram.

Bumbu dapur lainnya seperti bawang-bawangan juga tidak luput dari kenaikan. Ahmad menjelaskan, bawang putih saat ini dijual dengan rentang harga Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram, sedangkan bawang merah naik menjadi Rp45.000 per kilogram.

Kenaikan harga juga terlihat pada sayuran pendamping masakan. Wortel kini dijual seharga Rp20.000 per kilogram, naik dari harga normal, sementara kentang berada di angka Rp18.000 per kilogram. Menurut keterangan Ahmad, hampir seluruh pasokan sayuran yang ia jual dikirimkan dari Sulawesi Selatan, dan pergerakan harga sangat bergantung pada ketersediaan barang serta permintaan pasar.

Menanggapi lonjakan harga ini, Ahmad meyakini kondisi ini bersifat sementara. Ia memprediksi setelah masa libur dan hari raya lewat, harga-harga komoditas tersebut akan kembali turun dan menuju angka normal seperti sedia kala, seiring dengan menurunnya permintaan masyarakat yang biasanya melonjak tinggi saat mendekati hari besar keagamaan.

(Padli)