Sopir Angkot Menolak Keberadaan Nujek dan Taxi Bandara di Nunukan

Social share

Nunukan (Kaltara)- Sebanyak 15 perwakilan Sopir angkot mendatangi kantor Organisasi angkutan darat (Organda) Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, meminta Organda Kabupaten Nunukan untuk menfasilitasi menghadap Bupati Nunukan, Hj Asmin Laura Hafid, pasalnya Pihak Sopir angkot tak terima keberadaan Nunukan Ojek (Nujek) atau mobil Online di Nunukan.

Kepala Organda Kabupaten Nunukan, H Laoding saat ditemui di kantor organda, Senin (5/8/19) mengatakan, awalnya teman-teman dari perwakilan Sopir angkot ini meminta rapat dengan organda, berhubung organda tadi tidak siap untuk membuat satu undangan dengan sendirinya mereka datang membawa aspirasi meminta organda dimediasi ke pemerintah daerah dalam hal ini Bupati Nunukan, terkait keberadaan mobil online atau Nujek itu.

“Hasil kesepakatan tadi, Mereka menolak adanya mobil online atau nujek tersebut beroperasi di Pulau Nunukan ini, kemudian keberadaan tulisan dibandara Taxi minta dirubah menjadi transportasi bandara atau angkutan bandara,”Jelas H Laoding.

Lanjutnya, mereka menuntut bahwa bandara itu bukan taxi yang dioperasikan, pengertian mereka taxi itu plat kuning, sementara dibandara itu plat hitam yang disewa dan di operasikan bandara.

“Hari kamis nanti saya membawa lima orang perwakilan untuk berhadapan langsung atau mediasi dengan kepala dinas Perhubungan Kabupaten Nunukan,”Ujar H Laoding.

Disebutkan, perwakilan angkot di Nunukan terbagi dibeberapa titik yakni, di Rumah sakit umum, PLBL, Pelabuhan baru, di Pasar Baru dan Pelabuhan Ferry.

“Di titik-titik ini memang sudah dikhususkan angkotnya untuk menunggu rejeki, hal ini agar komunikasi kita enak, mudah-mudahan keberadaan mereka diketahui Sopir Online agar tidak terjadi gesekan-gesekan, Saya berharap tetap aman,” Jelasnya.

H Laoding juga mengatakan, kita sebagai organisasi tiba bisa juga memberikan kata-kata yang tidak berkenan bahwa tidak boleh beroperasi mobil online itu.

“Karena beberapa permintaan aspirasi dari sopir angkot, saya berpendapat dan mendukung mobil angkot itu karena berdasarkan ADRT kami, plat kuning organda bawahi, plat hitam organda tidak bisa bawahi dan menaungi serta memediasi mereka itu,” ungkap H Laoding.

Pihak Sopir angkot menolak adanya Mobil Online atau Nujek dikarenakan banyaknya angkot di Nunukan yang mencapai 200 Angkot, mau dikemanakan? dengan pendapatan selama beroperasinya mobil online itu sudah mulai berkurang inilah keluhan mereka sehingga mendatangi Organda untuk di mediasi ke pemerintah dan mendapatkan solusinya.

“Adanya pertemuan ini agar dilapangan tidak ada gesekan atau berebut penumpang, terjadi nanti sesuatu yang tidak di inginkan. Tetapi kalau mungkin kita sudah naungi begini memberikan penjelasan, sama-sama duduk bagaimana berjalan dulu, berikan kesempatan organda untuk berkordinasi dengan Pemkab Nunukan,” Tutur H Laoding. (OV/Red)