Gaya Hidup, Pendataan dan Akses Layanan Jadi Penentu Kondisi Kesehatan Masyarakat

IMG_20260616_093526

NUNUKAN – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Hj. Miskia, menyampaikan berbagai data dan upaya penanganan masalah kesehatan di wilayahnya.

Menurutnya, kasus diabetes paling tinggi tercatat di Kecamatan Nunukan sebanyak 1.039 kasus, sedangkan di Sembakung Atulai hanya 19 kasus.

Perbedaan ini terjadi karena di daerah terpencil jumlah penduduk sedikit dan masyarakat sering berpindah tempat, sehingga pendataan belum menjangkau semua warga. Sebaliknya, di perkotaan penduduk padat, pola konsumsi makanan dan minuman kurang sehat, serta pencatatan data lebih teratur dan lengkap.

“Penanganan dilakukan melalui edukasi rutin, skrining kesehatan bulanan, pemberian obat teratur, serta pengingat bagi pasien untuk berobat kembali”, jelas Hj. Miskia saat diwawancarai awak media, Senin (15/06/2026).

Untuk hipertensi, tercatat sebanyak 21.677 kasus dengan dominasi pada perempuan dan angka tertinggi di Sebatik Timur.

“Banyaknya kasus pada perempuan disebabkan karena mereka lebih sering memeriksakan diri dan lebih banyak berada di rumah saat pendataan dilakukan”, ungkapnya.

Di Sebatik Timur, tingginya angka dipengaruhi pertumbuhan penduduk dan gaya hidup yang mirip daerah perkotaan, meskipun akses layanan kesehatan sudah tersedia.

Penyakit ini sudah menjadi prioritas penanganan, namun belum masuk kategori darurat karena sebagian besar kasus masih terkontrol.

Sementara itu, Sebatik Timur juga mencatat 13 kasus malaria dan 120 kasus demam berdarah. Malaria banyak dibawa oleh pendatang dari luar daerah, sedangkan DBD dipengaruhi letak wilayah di perbatasan dan kondisi lingkungan.

“Pencegahan dilakukan lewat edukasi kebersihan lingkungan, kerja bakti, serta penyemprotan nyamuk secara terukur sesuai kebutuhan”, ujarnya.

Kasus HIV banyak ditemukan pada usia produktif 25–49 tahun, lebih banyak tercatat pada perempuan. Faktor risiko utamanya adalah pergaulan bebas, hubungan sesama jenis dan penggunaan narkoba.

Lebih banyak kasus pada perempuan karena mereka lebih rajin memeriksakan diri, sebagian tertular dari pasangan, sedangkan pada laki-laki banyak yang enggan memeriksa atau berobat di luar daerah.

“Upaya pencegahan dilakukan melalui sosialisasi di sekolah dan lingkungan masyarakat, serta mengajak orang tua lebih waspada mengawasi pergaulan anak”, jelasnya.

Untuk memeratakan layanan kesehatan, Dinas Kesehatan terus melengkapi fasilitas, termasuk membuka Puskesmas dan rumah sakit baru secara bertahap.

“Bagi daerah terpencil yang sulit dijangkau, disediakan layanan kesehatan bergerak dengan tim dokter dan obat-obatan lengkap, yang dikunjungi setiap 3–4 bulan sekali secara gratis bagi masyarakat”, tutupnya.

(Padli/admin)