Dua Nelayan WNI di Perairan Sabah Malaysia di Culik, 1 Orang Lainnya Tertembak

Berandannkrinews.com, Nunukan (Kaltara)-Dua Nelayan WNI Diculik diperairan Sabah, Malaysia dan 1 Nelayan Tertembak.

Dari informasi ILO TNI Tawau, Mayor Inf. Ronaldi Konstangin, S.Sos, MM, M.Si mengatakan pada Rabu (5/12) telah terjadi penembakan terhadap satu orang WNI bernama Didi Saviady (40) asal Riau dengan Nomor Passport B1664758.

“Merupakan Kapten Kapal Magtrans II (Tug Boat Tongkang) yang berangkat dari Bintulu menuju Papua New Guinea,” Jelas Ronaldi.

Diungkapkan Ronaldi Sekitar pukul 14:00  Kapal Tug Boat Magtrans II dengan jumlah crew sebanyak 13 orang, 11 orang WNI dan 2 orang Warga Malaysia yang menarik sebuah Kapal Tunda/Tongkang dengan muatan kosong berangkat dari dermaga Bintulu, Serawak Malaysia dengan tujuan Port Moresby Papua New Guinea.

Tambahnya disekitar perairan Kinabatangan, Sabah Malaysia pada koordinat 5°38.375’ N 118°57.439’ E, Didy Saviady melaksanakan Shalat Magrib di anjungan, secara sekilas Sang kapten melihat adanya cahaya dari samping kanan kapal, saat itu kapal berkecepatan 5-6 knot pada saat dijaga oleh Irwan Syukur.

“Kapten Kapal mengintip secara perlahan keluar melalui jendela dan langsung ditembak oleh kawanan OTK yang diperkirakan berjumlah  4 orang bersenjata yang mengunakan topeng, Didy tertembak tepat mengenai paha kiri di atas lutut,” jelas Ronaldi.

Ronaldi menuturkan, setelah mendengar suara tembakan tiga kali oleh kawananan OTK yang diperkirakan menggunakan perahu karet dengan 4 mesin tersebut, Irwan langsung menyampaikan kepada rekannya yang berada di dalam dek untuk menutup jendela dan pintu serta.  Muahlim 1 juga mengintruksikan agar menambah kecepatan menjadi  9 knot, sehingga kapal OTK tak mampu menahan gelombang air yang ditimbulkan Kapal Magtrans II.

Dengan kecepatan menjadi 9 knot Muahlim 1, menembakkan tanda isyarat berwarna merah ke udara 6 kali serta membunyikan sirene tanda emergency sambil tetap melakukan panggilan darurat kepada stasiun terdekat melalui Radio Channel 12  dan 16  serta  menggunakan HT.

“Hampir 1 jam baru ada jawaban panggilan dari Kapal Tambisan 2 yang berada di sekitar perairan Tambisan, kemudian langsung mengarahkan panggilan kepada pihak ESSCom. Kemudian pihak ESSCom langsung menghubungi melalui HP milik Muahlim 1 karena suara radio kurang jelas,”Jelas Ronaldi.

Lanjutnya, Kapal ESSCom dari Kinabatangan dengan anggota berjumlah 4 orang menjemput Kapten Kapal yang terluka di Kapal Magtrans II beserta 4 orang ABK, kemudian 4 ABK dibawa ke Klinik di Tambisan agar diberikan pertolongan.

“secepatnya dirujuk ke Rumah Sakit Lahad Datu untuk mendapatkan penanganan intensif,” jelas Ronaldi

Kemudian Ronaldi mengungkapkan  pada Kamis (6/12/18) sekitar pukul 01.00, Kapal Magtrans II dijemput oleh Pasukan Polis Marin (PPM) Lahad Datu. Selanjutnya diiring menuju ke dermaga PPM Lahad Datu untuk pengamanan maupun olah TKP.

Ronaldi menuturkan pada 10 Desember 2018 diperoleh informasi dari jaringan agen dan sumber terbuka bahwa pada hari Rabu (5/12/18) setelah upaya penculikan yang gagal oleh kelompok penculikan untuk tebusan (kidnapping for ransom group) pada kapal Tugboat di wilayah Pegasus Reef, Pulau Tambisan, Lahad Datu, Sabah. Diperoleh informasi bahwa kelompok penculikan untuk tebusan yang sama terlibat dalam sebuah kasus penculikan lain yakni tiga nelayan yang bekerja pada sebuah kapal Trawl (kapal pukat lengkong) milik perusahaan perikanan di Sandakan, Malaysia.

“Penculikan itu terjadi ketika mereka dalam perjalanan pulang ke Philipina setelah gagal menculik ABK kapal Tugboat Magtrans II dan menembak awak kapalnya, dalam perjalanan pulang mereka bertemu kapal Trawl Malaysia yang sedang mencari ikan di perairan sekitar Pegasus Reef, dan kelompok penculik itupun langsung menaiki kapal Trawl tersebut dan menculik 3 (tiga) ABK-nya, dua orang warga negara Indonesia (WNI) dan satu orang warga negara Malaysia,” Jelas Ronaldi.

Ronaldi mengatakan perkembangan situasi dari kasus penembakan dan penculikan WNI di wilayah perairan timur Sabah (Esszone) menyarankan pimpinan daerah memberikan peringatan dini kepada instansi terkait, agar dapat memberikan himbauan kepada seluruh WNI yang akan berkunjung atau bekerja di Sabah untuk sedapat mungkin menghindari kawasan pantai/perairan timur Sabah karena saat ini diperoleh informasi bahwa aksi teroris ataupun penculikan sedang mencari target yang memiliki umpan balik tinggi dari segi finansial bagi kelompok Abu Sayyaf.

Dengan melihat tidak jelasnya aparat keamanan Malaysia (ESSCom) menanggapi setiap aksi penculikan di kawasan perairan timur Sabah maka sangat diperlukan kerjasama trilateral berkelanjutan (Philipina, Malaysia, Indonesia) untuk monitoring dan pengamanan di laut Sulu dan perairan timur Sabah.

Tambahnya, Perlunya meningkatkan koordinasi yang terbuka, intens dan setara bagi aparat keamanan terkait (Philipina, Malaysia, Indonesia).

“Guna mengoptimalkan pertukaran informasi terkait rencana dan aksi penculikan yang akan dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf sehingga kedepan aksi penculikan untuk tebusan di wilayah laut Sulu dan perairan timur Sabah dapat diminimalisir dan dinihilkan,” terang Ronaldi. (Reta/Hms Polres)

Polisi Diraja Malaysia Berhasil Mengamankan 7 Terduga Teroris

Berandankrinews.com-Divisi kontra Terorisme cabang khusus bukit aman telah menggagalkan rencana teror di Malaysia, Enam orang Pria dan 1 orang wanita diamankan diduga terlibat terorisme dalam penangkapan di empat Negara Bagian Malaysia, Mereka ditangkap dalam sebuah operasi yang digelar pada 20-28 November 2018.

Kepala Polisi Malaysia Inspektur Jenderal Polisi, Tan Sri Mohamad Fuzi Harun, Mengatakan para tersangka teroris tersebut merupakan lima orang Malaysia dan dua orang Filipina ditangkap di Kelantan, Sabah, Selangor dan Kedah oleh Divisi Kontra Terorisme Cabang Khusus Bukit Aman.

“Adapun mereka yang ditangkap termasuk penjual madu di Kelantan, seorang insinyur minyak dan gas di Kajang, Selangor dan tiga orang di Sabah terkait dengan Kelompok Abu Sayyaf,” Kata Tan Sri Mohamad Fuzi Harun

Sri Mohamad Fuzi Harun mengungkapkan, penangkapan pertama dilakukan pada pria Malaysia (28) di Kelantan pada hari Senin (19/11/18), Pria tersebut adalah seorang penjual madu, dia menerima instruksi dari pemimpin militan Akel Zainal untuk melancarkan serangan di Malaysia.

“Akel Zainal adalah pemimpin militan utama Malaysia yang merekrut orang-orang untuk perang IS di Suriah,” ungkap Tan Sri Mohamad Fuzi Harun

Lanjutnya, Penangkapan berikutnya adalah seorang pria Malaysia berusia (52) pada Selasa (20/11/18) di Kajang, Selangor, Pria tersebut bekerja sebagai insinyur minyak dan gas dan dia telah menyalurkan RM14.000 kepada Muhammad Wanndy Mohamed Jedi pada tahun 2016 dan 2017 dimana uang tersebut untuk membiayai operasi teror di Malaysia.

Berdasarkan Informasi Divisi Kontra Terorisme Cabang Khusus Bukit Aman bahwa Muhammad Wanndy Mohamed Jedi telah tewas di Suriah pada April 2017, dan perannya sebagai perekrut utama diambil alih oleh Akel Zainal.

“Polisi juga menangkap seorang pria Filipina (45) di Tawau, Sabah Rabu (21/11/18), orang tersebut adalah anggota Kelompok Abu Sayyaf. Dan diyakini pria tersebut terlibat dalam setidaknya tiga penculikan untuk insiden acak di Filipina selatan dan Sabah,” jelas Tan Sri Mohamad Fuzi Harun

Tan Sri Mohamad Fuzi Harun menuturkan Divisi Kontra Terorisme Cabang Khusus Bukit Aman kembali mengamankan seorang pria Malaysia (35). Pria yang bekerja di sekolah mengemudi di Kota Baru, Kelantan yang ditangkap pada Rabu (21/11/2018). Pria tersebut telah menerima perintah dari para pemimpin Islamic State (IS) untuk melancarkan serangan terhadap non-Muslim dan tempat-tempat ibadah mereka.

Kemudian Divisi Kontra Terorisme Cabang Khusus Bukit Aman kembali mengamankan seorang pria Malaysia (26) yang merupakan sopir van pabrik di Bedong, Kedah Kamis (22/11/2018), Pria tersebut telah memberikan dana kepada Jemaah Ansharut Dauliah (JAD), kelompok teror pro-IS di Indonesia.

Selain itu, Divisi Kontra Terorisme Cabang Khusus Bukit Aman kembali juga mengamankan Pasutri di Tenom, Sabah, pada Rabu (28/11/18).

“suaminya adalah pria Filipina yang bekerja sebagai buruh sementara istrinya tidak bekerja. Mereka diduga telah turut ambil bagian dalam menyembunyikan anggota Kelompok Abu Sayyaf di Sabah,” Terang Tan Sri Mohamad Fuzi Harun. ***(Reta/Hms Polres Nunukan)

Editor: Edwin

Direktorat Pol Air Polda Kaltara Lakukan Kerja Sama Dengan Polis Marin Malaysia

Berandankrinews.com, Nunukan (Kaltara)-Patroli Rendevost antara
Polis Marin Diraja Malaysia bersama Direktorat Pol Air Polda Kaltara berlangsung lakukan latihan bersama dipulau sebatik, laut perbatasan Indonesia-Malaysia, Jumat (7/12/18).

Latihan bersama dimulai pada Titik Koordinat Perbatasan Laut Perairan Sebatik, Indonesia dan Tawau, Sabah Malaysia.

Perwakilan dari Polis Malaysia sebanyak 20 orang polis marin dibawah komandan PDRM Sabah
ACP. H. Mohd Pajeri,

Sedangkan Perwakilan Direktorat Pol Airud Polda Kaltara, dibawahi Komandan Kompol Syam Surya SH.
Selaku Ketua Tim yang terdiri 9 Orang Polairud.

Pada kesempatan itu, Penandatanganan Buku memori pertemuan Rendevots ditandatangani ACP. H. Pajeri dan Kompol, Syam Surya, SH.

Pada pertemuan itu, Ketua Polisi Diraja Malaysia (PDRM) Sabah APC. H. Pajeri mengatakan Rendevost akan di tingkatkan dengan sebaik-baiknya dan tetap menjaga Kedaulatan di kedua Negara.

Pihak Polis marin juga akan meningkatkan Kerja Sama di bidang pencegahan Narkotika bersama Polairud.

Selain itu PDRM Rencana Kedepan akan melakukan kunjungan kerja Sama dengan Direktorat Polairud Polda,Tanjung Selor, Kaltara

Dikatakannya, Pihak polis Marin akan meningkatkan Pengawasan dan pencegahan tindak kriminal di Wilayah perairan perbatasan di kedua Negara wilayah sabah, M. alaysia-Indonesia

Pihak Polis marin akan saling bertukar dan memberi informasi terkait dengan bantuan pertolongan di perairan perbatasan bila terjadi tindak kejahatan dan musibah kecelakaam di perairan.

Kompol Sam Surya dalam Pertemuan itu mengatakan, Pol Air Polda akan menjalin hubungan yang baik, pertemuan Rendevost ini terutama dalam mencegah terjadinya kejahatan di Wilayah perbatasan di perairan seperti tindak Kejahatan Narkotika, Penyelundupan Tki ilegal , Ilegal Fising dan Terotisme.

Pol Air Polda Kaltara melalui Satuan Pol Air Polres Nunukan akan menindak lanjuti pertemuan rutin dengan tiga bulan sekali.Pada kesempatan itu, LO Polri Kompol Fadilan, SH, menyampaikan beberapa yang perlu dilakukan antara kedua pihak yaitu

1. Untuk memperkuat hubungan kerja sama antara PDRM polis marin dengan polri dan saling membagi informasi.

2. Agar petugas polis marin memberikan binluh Kamtibmas jika ada warga Indonesia yang pulang dengan menggunakan sarana laut agar mengunakan life jaket.

3. Jika sekiranya mendapatkan warga Indonesia yang masuk wilayah Malaysia lewat jalur tikus dan tidak menggunakan Dokumen yang sah agar di sarankan untuk kembali ke Indonesia.

4. Masih ada peredaran narkoba yang berasal dari Tawau, Malaysia dengan menggunakan sarana laut, Perlu di Tindak. (Win 66/ YP)

86 TKI Asal Malaysia di Pulangkan Ke Indonesia

Berandankrinews.com, Nunukan (Kaltara)-Puluhan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Ilegal kembali dideportasi lewat Pelabuhan resmi Tunon Taka Nunukan, Kamis (06/12/2018).

Mereka saat ini berada di Rusunawa Nunukan, yang rencananya akan dibina selama 5 hari.

Di antara TKI mengalami gatal-gatal dan demam

Mereka mengalaminya usai menjalani proses hukum di Malaysia.

“Ya gatal-gatal dan demam, selama dipenjara malaysia ” papar satu TKI yang dideportasi, Andi Zakaria kepada Berandankrinews.com, Kamis (6/12/18) malam.

86 Orang TKI yang dideportasi ke Indonesia, 70 pria dewasa, 13 orang perempuan dewasa

Dua orang anak laki-laki dan satu lagi anak perempuan.

Mereka menjalani proses hukum diantaranya kasus Narkoba, Ilegal, Tinggal lebih lama, dan kriminal lainnya.

Seperti yang dikatakan Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat, Arbain, bahwa ada 4 orang anak Sebatik yang dideportasi yaitu Andi (20) dengan kasus pencurian dengan ancaman 1 tahun 10 bulan, Saharudin (28) dan Suherman (25) dengan 4 tahun dituntutan dan menjalani hukuman 2,8 Tahun kasus tekong (membawa orang masuk secara ilegal) dan Haras (46) kasus penadah dengan tuntutan 1.3 Tahun menjalani hukuman 10 bulan.

Ia juga mengatakan penanganan tki deportasi diserah terimakan konsulat, nantinya akan memberikan pembekalan kepada deportan selama lima hari.

Dari imigrasi yang memberikan pemahaman bagaimana masuk ke malaysia secara resmi dengan dokumen, kita libatkan juga dari kodim dengan materi pembekalan bela Negara.

“bukan hanya perang saja bela negara, tetapi cukup memiliki dokumen resmi untuk masuk ke Negara orang, itu sudah cukup membela negara membawa nama baik bangsa negar ini,”kata Arbain.

Ia menambahkan kita juga melibatkan dari Dinas Kependudukan dan catatan sipil.

Arbain menuturkan hampir setiap bulan rutinitas ada deportasi disini.

Pertanyaannya kenapa deportasi tetap ada, ini takkan pernah selesai sampai kapanpun.

“karena puncak awalnya mereka masuk secara ilegal, ada yang berkeluarga disana menikah kemudian memiliki anak dan si anak menjadi ilegal tanpa dokumen,” kata Arbain.

Dari 86 TKI dideportasi hampir sebagian over stay, Arbain mengungkapkan ada 14 orang yang awalnya masuk secara resmi, mendapatkan jaminan 1 tahun, habis masa jaminan tidak diperpanjang karena tidak mengerti memperpanjang akhirnya mereka tinggal terus disana, ini lah yang menjadi ilegal.

Arbain menjelaskan sejak januari hingga Desember 2018 TKI deportasi mencapai 3000 lebih.

“total tki dideportasi sejak januari hingga Desember 2018 lebih 3000 deportan,” Ungkap Arbain. (***)