Pemprov Dorong Gerakan Literasi Menjangkau Wilayah Perbatasan

IMG_9655-1024x683

TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) mendorong gerakan literasi yang lebih terarah, merata, dan berkelanjutan, terutama di wilayah perbatasan, pesisir, dan daerah yang masih terbatas akses bacaannya. Penguatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga membentuk masyarakat yang kritis, kreatif, dan mampu memanfaatkan informasi secara bijak.

Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., yang diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Hubungan Antar Lembaga, dr. Rustan Samsuddin, M.M., saat membuka Dialog Aspirasi dan Lokakarya Akselerasi Penggerak Literasi Kaltara di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kaltara, Rabu (14/10).

Dalam sambutannya, Rustan mengapresiasi para penggerak literasi, pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM), pustakawan sekolah dan komunitas literasi yang selama ini berkontribusi dalam menumbuhkan budaya membaca di Kaltara.

Rustan menyebutkan, literasi saat ini tidak cukup hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, mengenali berita bohong atau hoaks, serta memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup.

“Literasi harus membantu masyarakat berpikir kritis, kreatif, dan mampu membedakan informasi yang benar dengan yang tidak benar,” katanya.

Ia menegaskan, penguatan literasi perlu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga di wilayah perbatasan yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap bahan bacaan berkualitas dan fasilitas perpustakaan.

Karena itu, keberadaan TBM, perpustakaan sekolah, keluarga, dan komunitas lokal perlu terus diperkuat sebagai garda terdepan dalam mendekatkan akses pengetahuan kepada masyarakat.

Rustan berharap lokakarya tersebut menghasilkan langkah konkret, mulai dari pemetaan kebutuhan literasi di lapangan, penguatan pengelolaan TBM, pengembangan bahan bacaan berbasis kearifan lokal, hingga penyusunan rencana aksi yang terukur dan dapat dievaluasi bersama.

Ia juga menilai perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) perlu dimanfaatkan untuk memperluas akses pengetahuan dan menciptakan inovasi dalam gerakan literasi. Namun, pemanfaatannya harus disertai kemampuan memverifikasi informasi serta sikap bijak, etis dan bertanggung jawab.

Selain itu, Rustan mengajak para penggerak literasi menjadikan kekayaan lokal Kaltara sebagai sumber pengetahuan. Cerita rakyat, sejarah perjuangan daerah, bahasa lokal, serta pengalaman hidup masyarakat di wilayah perbatasan perlu didokumentasikan dan diwariskan kepada generasi muda.

Pemprov Kaltara akan terus mendorong sinergi antara pemerintah daerah, dunia pendidikan, perpustakaan, komunitas, keluarga, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas manfaat gerakan literasi bagi masyarakat.

“Harapannya, gerakan literasi di Kaltara tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung, saling mendukung dan berkelanjutan,” pungkasnya.

(dkisp)