Perwakilan Tawau: Irau Tidung Borneo Bersatu Eratkan Silaturahmi Lintas Perbatasan

IMG_20261009_144110

NUNUKAN — Kemeriahan Irau Tidung Borneo Bersatu ke-4 di Desa Binusan, Nunukan, tak hanya menjadi milik warga Tidung semata. Di tengah gema tarian dan warna-warni pakaian adat, hadir wajah-wajah penuh senyum dari seberang perbatasan, kontingen perwakilan dari Tawau, Sabah, Malaysia, yang membuktikan bahwa budaya mampu melampaui batas-batas administratif negara.

Rombongan berjumlah 12 orang yang diundang melalui Persatuan Pertubuhan Etnik Perpaduan Tawau ini dipimpin oleh Puan Melina.

Puan Melina tak bisa menyembunyikan rasa senang dan antusiasme yang luar biasa. Baginya, ini bukan sekadar undangan seremonial, melainkan pulang ke rumah besar keluarga Borneo.

“Kami sangat terkesan dengan keberagaman suku dan budaya yang tampil hari ini. Acara ini sangat indah dan penuh kehangatan,” ungkapnya, Senin (19/10).

Bagi Nunukan, kehadiran Kontingen Tawau, Malaysia,memiliki makna yang jauh lebih dalam. Di saat perbatasan sering kali diidentikkan dengan isu penyelundupan, pekerja migran, dan penjagaan ketat, Irau justru hadir sebagai jembatan lunak, diplomasi budaya yang paling jujur.

Ini adalah pengingat bahwa sebelum ada garis di peta, masyarakat di kedua sisi sudah saling berdagang, menikah, dan berbagi cerita. Irau Tidung mengembalikan fungsi perbatasan sebagai halaman depan persaudaraan, bukan tembok pemisah.

Oleh karena itu, harapan yang disampaikan Puan Melina menjadi doa bersama.

“Semoga silaturahmi yang begitu indah ini terus terjalin erat antara Tawau, Nunukan, Tarakan, dan seluruh masyarakat di Pulau Borneo ini,” harapnya.

Harapan itu harus dijawab dengan komitmen. Irau Tidung Borneo Bersatu tidak boleh berhenti sebagai agenda tahunan seremonial. Ia harus menjadi platform permanen, ruang temu ekonomi kreatif, pertukaran pelajar adat, hingga promosi wisata lintas batas. Ketika silaturahmi budaya sudah erat, maka kerja sama ekonomi dan keamanan perbatasan pun akan jauh lebih mudah dibangun.

“Dari Binusan, pesan itu jelas terdengar: Borneo itu satu, Tidung itu bersatu, dan persaudaraan lintas perbatasan adalah kekuatan terbesar kita”, tutup Puan Melina.

Padli/Nn