NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan menyerahkan bantuan dana hibah sebesar Rp200 juta kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Nunukan.
NUNUKAN – Asisten Perekonomian dan Pembangunan Juni Mardiansyah, A.P, mewakili Bupati Nunukan membuka secara resmi Bimtek Penyusunan Dokumen Persiapan Pengadaan
TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) memperkuat pemahaman Aparatur Sipil Negara (ASN) terkait perlindungan data pribadi guna
TANJUNG SELOR – Panitia Khusus (Pansus) II DPRD Provinsi Kalimantan Utara menggelar rapat kerja dalam rangka pembahasan pasal-pasal Rancangan Peraturan
JAKARTA – Di tengah keterbatasan akses transportasi di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara), secercah harapan baru muncul. Rencana menghadirkan kereta api
MAKASSAR – Dukungan terhadap penguatan peran organisasi keagamaan kembali ditegaskan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) melalui kehadiran Wakil Gubernur
Nunukan, Berandankrinews.com –Warga Nunukan yang ingin mencetak e-KTP mesti bersabar. Pasalnya, stok blangko e-KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nunukan sedang kosong.
Menurut Sekretaris Disdukcapil Kabupaten Nunukan, Umboro dinunukan membenarkan bahwa, e-KTP belum bisa dicetak. Sebab, blangko e-KTP sedang kosong, Rabu (6/2/19).
“Saat ini kita sudah bermohon ke Provinsi, namun saat ini kita belum menerima jawaban. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini blangko ini diberikan kepada kami,” Kata Umboro.
Disampaikan Umboro, Sementara saat ini hanya Kabupaten Nunukan saja yang sedang kekosongan blangko.
Lanjutnya, Blangko e-KTP ini sebenarnya tersedia saja di pusat, namun kita harus mengambil.
“Untuk sementara kami belum bisa ke Jakarta untuk meminta Blangko, permintaan ini langsung ke Dirtjen Dukcapil,”Jelas nya.
Sementara kekosongan Blangko e-KTP dinunukan sudah hampir dua minggu.
“Ini sudah hampir 2 minggu, untuk masalahnya sih tidak ada, hanya dipengiriman saja,” Ungkap Umboro.
Umboro berharap masyarakat Nunukam dapat bersabar selama dua minggu kedepan. “Yang jelas kita sudah membuat permohonan, tinggal mengambil dijakarta hanya saja berkaitan dengan anggaran, karena kita baru juga kan. Mudah-mudahan kita bisa ke Jakarta mengambil langsung, terkait masalah ini kita sudah menyampaikan kepada Kadis dan komunikasikan langsung ke Kaltara untuk kami ambil sendiri di Jakarta,” Pungkasnya (*)
Amir Bakry, Kepalaa Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kalimantan Utara
TANJUNG SELOR – Berandankrinews.com – Kalimantan Utara (Kaltara), sebagai salah satu penghasil komoditi perikanan di Indonesia memiliki potensi besar. Namun dengan letak gografis yang berada di ujung utara Indonesia, membuat pengusaha perikanan agak kesulitan dalam memasarkan produknya. Terutama untuk pemasaran domestik, karena terkendala biaya trasnportasi yang tinggi.
Dengan adanya program tol laut yang dilakukan pemerintah pusat,
dirasa memberikan keringanan kepada pengusaha perikanan yang ada di Kaltara. Namun
demikian, sejauh ini kapal kargo sebagai pengangkut barang melalui program tol laut
itu, ternyata belum dilengkapi dengan kontainer khusus untuk mengangkut ikan. Yaitu
thermal container atau kontainer dengan pengatur suhu (pendingin).
Untuk itu lah, para pelaku usaha mengusulkan agar tol laut yang menuju Kaltara kedepannya dilengkapi
dengan kontainer dengan pengatur suhu atau pendingin yang cocok untuk produk perikanan.
Hal ini disampaikan oleh salah satu pengusaha perikanan asal
Sebatik yang beberapa waktu lalu menghadiri undangan pertemuan dengan forum perikanan
tangkap seluruh Indonesia bersama dengan Menteri Kelautan dan Perikanan dan Menteri
Perhubungan di Gedung Mina Bahari III Jakarta 30 Januari
lalu.
Amir Bakry, Kepalaa Dinas
Perikanan dan Kelautan (DKP) Kaltara yang turut mendampingi pertemuan itu, mengatakan,
Menteri Perhubungan yang menjadi salah satu narasumber pada kegiatan itu langsung
merespon keinginan masyarakat Sebatik, dengan akan mengupayakan pengadaan kontainer
dengan pendingin pada kapal tol laut yang ke Kaltara.
Amir mengatakan, dengan diresponsnya pengadaan kontainer pendingin
pada tol laut, akan sangat membantu terutama dengan adanya Sentral Kelautan Perikanan
Terpadu (SKPT) yang juga ke depannya akan menampung hasil perikanan tangkap di Kaltara.
Selain mengenai tol laut, lanjut Amir, masalah yang banyak dibahas
pada kegiatan tersebut terkait penerbitan surat kesempurnaan kapal yang selama ini
di bawah kewenangan kementerian perhubungan terutama yang memiliki 30 GT ke atas.
Dari usulan bersama, sehingga akhirnya disepakati kewenangannya dialihkan ke
DKP Provinsi. “Tentu hal ini akan memudahkan bagi kita terutama yang akan mengurus
perijinan, sehingga tidak harus ke Jakarta lagi,” kata Amir. (Humas)
TANJUNG SELOR – Berandankrinews.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara), melalui Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop-UKM), terus berupaya meningkatkan produksi industri manufaktur mikro dan kecil di Kaltara.6/2/19
Kepala Disperindagkop-UKM Hartono mengatakan, dengan meningkatnya
produksi pada sektor industri tentu akan memberikan pengaruh positif bagi
pelaku usaha di Kaltara. Pembangunan industry merupakan bagian integral dari
pembangunan nasional yang harus dilaksanakan secara terpadu.
Ini dipandang perlu, karena pembangunan bidang industri dapat
memberikan manfaat besar bagi masyarakat, katanya, Senin (4/2). Di samping itu,
lanjutnya, perlu juga adanya kelanjutan fungsi sumber daya industri itu sendiri
untuk dapat menopang kehidupan manusia antar generasi.
Hartono menjelaskan, penyebab terjadinya penurunan produksi industri
manufkatur di Kaltara, karena terjadinya penurunan produksi kayu di Kaltara.
Kayu ini, yang punya izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) tidak banyak. Karena HPH
telah dibatasi, kata Hartono.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara menunjukkan
terjadinya penurunan produksi industri manufaktur mikro kecil (IMK). Prosentase
penurunan produksi IMK di Kaltara hingga 6,05 persen (q to q). Namun
pertumbuhan Produksi industri manufaktur mikro dan kecil pada triwulan IV/2018
terhadap Triwulan IV/2017 (y on y) mengalami Kenaikan sebesar 5,66 persen
Jenis IMK yang ada di Kaltara adalah industri meliputi industri kayu,
barang dari kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan
barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya. Jenis industri yang mengalami
penurunan itu ialah industri kayu barang dari kayu, anyaman rotan dengan
prosentase -26,67 persen, industri barang logam bukan mesin dan peralatannya
sebesar -18,42 persen dan industri pengolahan lalinnya -9,32 persen.
Untuk rotan yang masih satu kelompok dengan industri kayu, penjualannya
tidak banyak karena buyer dari mancanegara yang datang ke Kaltara tidak
sebanyak triwulan sebelumnya. Tak lain penyebab berkurangnya kedatangan tamu
mancanegara lantaran harga tiket transportasi udara yang begitu tinggi sehingga
membuat mereka enggan masuk ke Kaltara.
Triwulan sebelumnya tinggi karena pada saat-saat itu banyak buyer dari
luar yang datang untuk membeli itu, ekspor meningkat sehingga industrinya tetap
jalan, jelasnya.
Sementara itu, jenis industri yang mengalami kenaikan produksi adalah
industri Makanan 4,02 persen, industri Tekstil 20,65 persen, industri
Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman 35,46 persen, industri Barang Galian
Bukan Logam 5,60 persen, Industri Farmasi, Obat dan Obat Tradisional 2,28
persen, Industri Alat Angkutan Lainnya 0,49 persen dan industri Furniture 5,72
persen. (humas)
///grafis////
Jenis industri manufaktur yang pertumbuhannya mengalami kenaikan
– Industri Furnitur 33,72%
– Industri barang galian
bukan logam 31,97%
– Industri barang logam
bukan mesin dan peralatannya 24,58%
– Industri Alat Angkutan
lainnya 19,33%
– Industri pakaian jadi
13,95%
Produksi industri manufaktur mikro dan kecil pada triwulan IV/2018 yang
pertumbuhannya mengalami penurunan terhadap Triwulan IV/2017 (y on y) adalah :
– Industri Makanan -0,81%
– Industri Minuman -34,94%
– Industri Kayu, barang
dari kayu, anyaman rotan -52,3%
– Industri Farmasi Obat dan
Obat tradisional -36,32%
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara, 2019
Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie didampingi Kepala DPUPR-Perkim Kaltara saat meninjau pembangunan salah satu jalan di Kaltara, belum lama ini.
TANJUNG SELOR Berandankrinews.com – Meski tahun ini tidak ada dana bantuan keuangan (Bankeu) umum kepada Pemerintah Kabupaten/kota di Kalimantan Utara (Kaltara), Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara bukan berarti tidak membantu ke daerah. Melalui berbagai program Pemprov Kaltara tetap mengalokasikan anggaran untuk di kabupaten/kota di provinsi ini. Untuk Kabupaten Bulungan misalnya. Melalui APBD tahun ini, dialokasikan sebesar Rp 64,9 miliar untuk pembangunan serta perbaikan jalan dan jembatan.Rabu 6/2/19
Gubernur
Kaltara Dr H Irianto Lambrie mengungkapkan, sejumlah kegiatan pembangunan jalan
dan jembatan akan dilakukan di Bulungan pada 2019 ini. Utamanya pada ruas jalan
yang memang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Kaltara. Termasuk beberapa
kegiatan melanjutkan dari program tahun-tahun sebelumnya. Seperti salah satunya
ruas jalan menuju Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah
Kuning-Mangkupadi.
Sesuai data
yang di Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman
(PUPR-Perkim) melalui Bidang Bina Marga (BM), disebutkan, sejak 2015 hingga
2018 dari 432,14 kilometer total panjang jalan yang ada di Kabupaten Bulungan,
sudah terbangun dengan kondisi baik sepanjang 53,34 kilometer. Sedangkan untuk
rehabilitasi dan pemeliharaan jalan sepanjang 5,15 kilometer dari total ruas
jalan sepanjang 11,58 kilometer. Tahun ini, kata Gubernur, yang didampingi Kepala
Dinas PUPR-Perkim Kaltara Suheriyatna, program pembangunan jalan di Bulungan
kembali dilanjutkan. Di mana, rencana pembangunannya telah masuk dalam DPA atau
Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) di Dinas PUPR-Perkim Kaltara Tahun 2019.
Tahun ini, kata
Gubernur, lanjutan pembangunan akses jalan pendukung menuju KIPI Tanah Kuning,
Mangkupadi masih menjadi yang prioritas. Sejumlah pengerjaan nantinya akan
dilakukan mulai dari perkerasan agregat hingga pengaspalan. Di antaranya, akan
dilakukan pembangunan jalan mulai dari ruas jalan Kampung Baru – Karang Tigau –
Batas Bulungan – Berau hingga batas Bulungan – Tanjung Selor – Mangkupadi.
Selanjutnya, juga akan dilakukan pembangunan jalan kawasan pusat pemerintah di
Kota Baru Mandiri (KBM) Tanjung Selor, serta pembangunan jalan menuju Rumah
Susun Sederhana Sewa Aparatur Sipil Negara (Rusunawa ASN) yang berlokasi di
KBM, Tanjung Selor.
Tak hanya di
Tanjung Selor dan akses ke KIPI, kegiatan pembangunan jalan di Bulungan juga
dilakukan di wilayah kecamatan. Seperti jalan ruas lingkar Pulau Bunyu yang
dialokasikan sebesar Rp 14 miliar lebih. Kemudian jalan menuju Pelabuhan Fery
Ancam di Kecamatan Tanjung Palas Utara dengan dana Rp 10 miliar.
Khusus di
ibukota provinsi, dikatakan Gubernur, ada beberapa kegiatan peningkatan maupun
pemeliharaan jalan. Antara lain, pelebaran Jalan Durian Tanjung Selor,
peningkatan jalan antara Selimau I Selimau III, serta jalan porosd
Bulungan-Berau hingga simpang Kilometer 9 Tanjung Selor.
Selain itu
juga ada perencanaan teknis pembangunan drainase perkotaan di Tanjung Selor, serta pembangunan dua
jembatan, di UPT Transmigrasi Tanjung Buka dan di Pindada, Tanjung Palas
Timur, ungkap Gubernur.
Irianto
menambahkan, kegiatan pembangunan jalan dan jembatan ini, sebagai upaya
pemerintah provinsi meningkatkan sarana infrastruktur di daerah. Utamanya pada
kawasan-kawasan yang memang diproyeksikan untuk pengembangan wilayah maupun
ekonomi ke depan.
Suheriyatna
menambahkan, untuk semua kegiatan yang akan dilaksanakan ini, semua masih dalam
tahap persiapan dokumen lelang. Kemungkinan jika tidak
ada aral, bulan depan sudah mulai lelang, dan April bisa mulai jalan
kegiatannya. (humas)
Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie bersama Kepala BKPM RI Thomas T Lembong
:
TANJUNG SELOR Berandankrinews.com – Realisasi investasi di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), berdasarkan data yang diperoleh dari National Single Window for Investment (NSWI) Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI, pada periode 2014 hingga 2018 (memasuki awal 2019), menunjukkan angka yang positif. Untuk Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai USD 703.704.000 (Rp 9,85 triliun, untuk nilai kurs sekitar Rp 14.000 per USD), sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 6.814.911.100.000 atau sekitar Rp 6,8 triliun. Sehingga ditotal nilai investasi yang terealisasi di Kaltara sejak 2014-2018 sebesar Rp 16,65 triliun.
Dijelaskan
Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie, dari data itu diketahui bahwa untuk PMA,
sektor investasi yang paling dominan berasal dari bidang tanaman pangan,
perkebunan dan peternakan. Di sektor ini, tercatat ada 76 proyek. Disusul
sektor industri makanan dengan 70 proyek. Lalu, sektor listrik, gas dan air
dengan 49 proyek. Sementara sektor pertambangan sendiri, hanya 16 proyek dengan
nilai investasi USD 1.946,3 ribu.
Sedangkan di
PMDN, investasi paling dominan berasal dari sektor perdagangan dan reparasi
dengan 72 proyek, senilai USD 643.739,2 juta. Sektor investasi memang menjadi prioritas
untuk dapat direalisasikan. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, geliat
investasi di sejumlah bidang menjadi perhatian. Utamanya, investasi bidang
kelistrikan, industri dan lainnya. Ini akan menjadi penopang pembangunan
Kaltara kedepan, kata Gubernur, baru-baru ini.
Secara total, lanjutnya, realisasi investasi PMA tercatat ada 245 proyek,
sementara PMDN ada 229 proyek. Pemprov (Pemerintah Provinsi) Kaltara terus
memacu munculnya investasi pada setiap sektor potensial yang ada. Kalau dilihat
dari NSWI BKPM tersebut, pada PMA yang realisasi investasinya belum maksimal
adalah sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi. Juga sektor perikanan. Sedangkan
di PMDN, yang perlu dipacu, adalah investasi di sektor industri lainnya,
industri karet dan plastik juga sektor kehutanan, paparnya.
Dilihat dari nilai realisasi yang terinput pada NSWI BKPM, pada PMA sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi nilainya mencapai USD 18.067,1 ribu untuk 1 proyek; dan sektor perikanan, 1 proyek senilai USD 0,0 ribu. Sedangkan di PMDN, untuk sektor industri karet dan plastik nilainya mencapai USD 141,0 juta untuk 1 proyek; sektor kehutanan USD 5.340,3 juta, dan sektor industri lainnya USD 980,0 juta. Pada input data NSWI, untuk PMA ada 12 sektor yang menjadi andalan. Sedangkan, PMDN ada 15 sektor yang masih menggeliat. 6/2/19 (humas)