Upacara Proklamasi Kemerdekaan RI Ke 74 di Porsas Dilaksanakan Secara Dadakan

217 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Nunukan- Upacara Hari proklamasi Kemerdekaan RI di Lapangan Porsas, Sabtu (17/8/2019) pagi tadi, dilangsungkan secara mendadak oleh warga dari RT 18, 15,16 dan 21 Kelurahan Nunukan Timur.

Hal tersebut dibenarkan oleh ketua RT 18, Hasanuddin Conding, bahwa upacara proklamasi tersebut dilaksanakan secara mendadak.

“Kegiatan ini secara dadakan dilakukan, ini permintaan masyarakat kemarin mereka yang merancang dan memberikan usulan. Karena kemauan mereka, ini kita laksanakan apa adanya,” ujar Hasanuddin.

Seperti yang kita lihat tadi, pemasangan banner baru dirikan, gladi bersih baru dilakukan, jadi sangat dadakan, kata Hasan.

Meskipun secara dadakan, Dia berharap kedepannya kegiatan seperti ini dilakukan setiap tahunnya. “Kita berharap upacara seperti ini Masyarakat lebih peduli lagi,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu warga, dr. Jamri Pranata menuturkan, sebagai masyarakat saya melihat antusias dan anomi Masyarakat sangat besar.

“Apapun itu kita akan dukung, walaupun Pemerintah juga kurang menyentuh, tapi karena Masyarakat ini juga pengen merasakan upacara atau merasakan hari kemerdekaan ini dengan meriah ditingkat Rt,” kata Jamri.

Disini masyarakat yang datang ada dari beberapa rt untuk melaksanakan upacara kurang lebih 100 orang dan itu sangat membuktikan masyarakat ini masih punya rasa cinta terhadap tanah air, tuturnya.

Menyoal tentang pemerintah kurang menyentuh, Jamri menjelaskan jika jaman dulu setiap 17 agustus pasti meriah, sejak masih kecil dulu ada namanya lapangan Poran.

“Jadi ini rohnya hilang, tempat permaian atau tempat berkumpul masyarakat Nunukan itu sudah tidak ada, itu yang saya katakan hilang,” jelas Jamri.

Lanjut Jamri, dulu sempat pindah ke Tanah Merah tetapi hilang juga, sekarang tidak tahu kemana sudah masyarakat.

“Semangat kita mengebu-gebu tetapi fasilitas yang berkurang, masyarakat tidak tahu mau kemana cari hiburan. Kalau dikota besar orang bilang lahan untuk bermain sudah tidak, di Nunukan pun sama demikian, jadi tolong jika pemerintah mendengar bisa dipikirkan bahwa kita tidak membutuhkan taman dan tuguh tetapi kita butuh tempat berkumpul dan bermain,”ungkap Jamri. (Red)